Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 38 ~ Tak ada kabar


__ADS_3

Hati Luna terasa terbakar, melihat Vano jalan berdua dengan wanita lain. Luna mencebikan bibirnya, kesal. Baru semalam Vano bilang ingin nikahin dirinya, tapi lihat sekarang. Dia pergi sama wanita lain.


Sudah gitu, wanita itu sangat cantik dan berkelas. Sangat jauh berbeda dengannya.


"Oh ... Jadi ini yang disebut meeting penting. Sungut Luna di hatinya. Ucapan mulut lelaki tidak dapat dipercaya. Berkali-kali pula Luna mengumpat Vano dihatinya.


Bayu mengerutkan keningnya melihat Luna berwajah masam. Padahal tadi masih biasa saja.


"Kamu kenapa?" tanya Bayu heran.


"Nggak kenapa-kenapa," jawab Luna, seraya menggelengkan kepalanya.


"Beneran?" Bayu tidak percaya begitu saja.


"Iya ...." Sambil menampilkan senyumnya. Senyum palsu tepatnya.


Bayu menyimpitkan matanya. Senyum yang ditunjukkan Luna seperti terpaksa. Bayu yakin kalau suasana hati Luna sedang tidak baik-baik saja. Tapi apa penyebabnya?


Bayu mengikuti pandangan mata Luna ke luar restoran. Ia ingin tahu penyebab Luna berubah masam. Bayu mengerutkan keningnya dalam, ketika ia melihat Vano masuk ke dalam mobil dan Bayu tidak melihat wanita yang bersama dengan Vano.


'Apa jangan-jangan karena Vano?' Bisik dihatinya. 'Mungkin Vano tidak menyapa Luna kali,' sambung Bayu dihatinya.


Selama makan siang, wajah Luna terus ditekuk. Hatinya masih kesal dengan Vano yang katanya sedang meeting penting. Dan saking kesalnya, Luna melampiaskan kekesalannya ke makanan yang ia makan.


Luna makan dengan sangat cepat, seperti kerasukan setan. Melihat Luna makan seperti itu, membuat Bayu geleng-geleng kepala.


Cewek kalau lagi marah, ngeri juga. Begitu pikir Bayu


"Apa mau nambah makannya?" tawar Bayu.


"Gak," jawab Luna cepat. "Aku lagi gak nap*su makan," sambung Luna.


Bayu melongo mendengarnya. Tidak nap*su makan katanya? Tapi lihat, makanan yang di makan Luna ludes tak tersisa.


"Oh ... Lagi gak selera makan," tukas Bayu manggut-manggut.

__ADS_1


"Mas Bayu sudah selesai kan makannya?"


"Sudah," jawab Bayu, kemudian Bayu membayar terlebih dahulu, setelah itu meninggalkan restoran tersebut.


Keduanya segera masuk ke dalam mobil dan Bayu melajukan mobilnya.


Saat sedang mengendarai mobil, ponsel milik Bayu berdering. Lalu Bayu mengangkat telpon yang ternyata dari sekretarisnya.


"Oke ... Saya segera ke kantor," jawabnya, lalu sambungan telepon pun mati.


"Mampir ke kantor dulu gak apa-apa kan?" Ucap Bayu.


"Hah! Ke kantor, ngapain?" tanya Luna.


"Ada dokumen penting yang harus aku tandatangani saat ini juga."


"Gitu ya ... Ya sudahlah," jawabnya terpaksa.


Bayu segera mengarahkan mobilnya menuju kantornya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai kantor, dan kini keduanya sudah sampai di kantor.


"Kenapa?"


"Aku malu."


"Kenapa harus malu?" tanya Bayu lagi.


Luna mengerucutkan bibirnya. "Aku kan gak kerja," ujar Luna.


"Oh ... Tapi mending ikut saja, takutnya nanti lama gimana, hayo ...."


"Iya, deh," jawabnya terpaksa.


Akhirnya Luna ikut turun dan untung saja lift yang mereka gunakan lift khusus, jadi tidak ada karyawan yang tahu kalau Luna jalan sama sang bos.


"Mina, bawa dokumen yang harus saya tandatangani?" Titah Bayu kepada sekretarisnya.

__ADS_1


"Baik, Pak."


Mina bergegas membawa dokumen penting ditangannya. Baru saja akan masuk ke dalam ruangan Bayu, Mina menatap heran kepada Luna. Setahunya, Luna bekerja di bagian resepsionis, tapi mengapa Luna ikut masuk ke dalam ruangan bosnya. Dan lagi, Luna tidak memakai stelan kerja. Sebuah pertanyaan besar di benak Mina.


Ada hubungan apa antara Luna dan bosnya?


Bayu sudah duduk di kursi kebesarannya. Lelaki tampan yang sampai saat ini masih berstatus jomblo, diusianya yang ke 27 tahun.


Sebenarnya banyak kaum hawa yang tergila-gila kepada Bayu, tapi sampai saat ini belum ada satupun perempuan yang mampu membuat hatinya bergetar, terkecuali dengan Luna.


Mina segera menyerahkan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Bayu.


Selesai membubuhkan tandatangannya, Mina kembali menyorongkan beberapa berkas lain ke Bayu.


"Ini berkas yang akan ikut bergabung dengan perusahaan kita, Pak. Tolong secepatnya Bapak beri keputusan, agar saya secepatnya mengkonfirmasi ke perusahaan tersebut." Ujar Mina.


"Saya pelajari dulu," jawab Bayu.


"Baik, Pak. Kalau gitu saya permisi keluar dulu."


"Hmm ...."


Mina segera keluar dari ruangan Bayu. Sebelum keluar, Mina melirik Luna yang tengah duduk manis di sofa. Setelah itu Mina benar-benar keluar dengan hati yang bertanya-tanya.


"Luna, kamu gak apa-apa kan nunggu aku selesaikan beberapa pekerjaan ku dulu," seloroh Bayu kepada Luna.


"Iya, gak apa-apa," jawabnya.


Selama menunggu Bayu menyelesaikan pekerjaannya, Luna sudah berkali-kali melihat layar ponselnya. Berharap Vano mengirim pesan kepadanya.


Luna mencebikan bibirnya, karena Vano sama sekali tidak mengabarinya. Kesal karena Vano tidak mengirim pesan, Luna memberanikan diri mengirim pesan singkat dengan kata Hai ...


Semenit, dua menit, sampai belasan menit Vano tidak membaca pesannya. Membuat Luna semakin kesal.


"Ternyata semua ucapannya hanya omong kosong!" Sungut Luna dihatinya.

__ADS_1


__ADS_2