
Walau mama Aida meyakinkan dirinya bahwa pak Ariawan tidak akan mengganggunya, tetap saja Luna merasa resah juga khawatir. Bagaimana jika Pak Ariawan terus mengganggunya dan mengancamnya.
"Mau ya, nak," sekali lagi mama Aida memintanya. Lalu mama Aida menggenggam tangan Luna dengan tatapan memohon.
Luna menatap kedua mata mama Aida yang penuh harap. Membuat Luna semakin bingung.
Luna menghembuskan nafasnya, kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Melihat bola mata penuh harap, membuat hati Luna melembut dan Luna tak tega menolak permintaan mama Aida.
Senyum mama Aida terbit dengan mata berbinar senang.
"Terima kasih, Luna," ucapnya penuh bahagia.
Luna menganggukkan lagi kepalanya. "Iya...," jawab Luna dengan senyum tipis.
Semoga saja mama Aida benar-benar akan menjaganya dari Pak Ariawan dan semoga saja Pak Ariawan tidak mengganggunya lagi. Jika sampai itu terjadi, maka Luna akan segera pergi hari itu juga.
***
Setelah keputusannya untuk tetap tinggal di rumah ini, Luna tidak ingin hidupnya tergantung kepada mama Aida. Luna harus mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Rasanya tidak lucu jika ia bergantung terus kepada mama Aida. Walau ia yakini mama Aida pasti tidak akan mempermasalahkannya.
Setelah menemani mama Aida di kamarnya, Luna keluar dan berjalan ke kamarnya sendiri. Apalagi sekarang ini badannya masih terasa sakit, akibat jatuh dari motor tadi. Kakinya juga masih sangat sakit jika dibawa jalan.
Vino yang baru pulang terbelalak melihat Luna masih ada di rumahnya. Bukannya tadi pagi gadis itu pamit mau balik ke kampungnya.
"Kok kamu masih ada disini?" Tanya Vano, yang mengangetkan Luna yang tengah membuka pintu kamarnya.
"Eh, Vano! Kamu ngagetin aja," sungut Luna.
"Katanya kamu mau pulang kampung, tapi kok masih disini?"
Luna nyengir kuda. "Iya, nggak jadi. Soalnya Tante Aida nggak ngebolehin aku pulang."
"Kenapa mama ngelarang kamu pulang? Padahal mah biarin aja pulang," cibir Vano kesal.
Luna mencebikan bibirnya mendengar perkataan Vano. Segitunya Vano tak suka terhadapnya dan mengharapkannya pergi dari rumah ini.
__ADS_1
"Aku harus bicara sama mama," ujarnya, karena ia tidak suka Luna tinggal serumah dengannya.
Vano kemudian melengos pergi. Ia mau protes kepada mamanya. Saat sudah di depan kamar mama Aida, Vano segera mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Ma, boleh aku masuk."
"Iya, masuklah," sahut mama Aida.
Vano membuka pintunya dan melihat mamanya tengah duduk di atas ranjang. Dilihatnya mamanya itu tengah membaca buku.
Vano segera mendekati mamanya dan duduk di sisi mama Aida.
"Ma, kenapa mama ngelarang Luna balik ke kampungnya? Padahal biarkan saja dia balik," protes Vano.
Mama Aida melepaskan kacamatanya. "Memang kenapa kalau mama ngelarang Luna balik ke kampungnya. Memangnya masalah buat kamu."
"Tentu saja. Cewek itu pasti akan membuat hati mama sakit," ujarnya berapi-api.
Bagaimana pun Vano tidak mau melihat mamanya semakin merasakan sakit hati. Seperti halnya kejadian tadi pagi, dimana papanya menyeret Luna ke sebuah kamar.
Vano mendengus sebal. Segitunya mamanya ngebela si Luna, pikir Vano.
"Ya udah terserah mama, tapi ingat... Jangan terlalu ngebelain dia, nanti lama-lama ngelunjak tuh anak."
"Hmm... Udah sana, mama mau istirahat."
Vano mengangguk dan beranjak dari sana.
***
Tengah malam, Luna terbangun dari tidurnya karena merasa kantong kemihnya terasa penuh. Kemudian Luna segera turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Selesai buang air kecil, Luna mengambil gelas yang tersimpan di atas nakas, karena tenggorokannya terasa kering.
"Ya... Habis lagi."
Terpaksa Luna harus mengisinya lagi. Luna segera mengisinya setelah berada di dapur.
__ADS_1
"Minggir. Aku mau ambil minum," ucap Vano lantang.
Luna yang tengah minum, kaget mendengar suara Vano dan membuatnya tersedak air minum.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."
Luna terbatuk-batuk.
"Makanya kalau minum itu hati-hati," cibir Vano, sambil menyingkirkan tubuh Luna.
Luna mencebikan bibirnya, seraya mengusap kelopak matanya yang basah akibat terbatuk-batuk. Lalu Luna menyingkir dari dapur dan kembali ke kamarnya. Baru saja dua langkah, Vano menarik kerah belakang baju Luna.
"Jangan pergi dulu. Buatkan aku makan," seloroh Vano.
Luna mendengus dan membalikkan badannya. "Bisa nggak sih jangan narik-narik baju aku!" Sungut Luna. "Kalau mau dibuatkan makan mintanya yang bener," omel Luna yang tak suka cara Vano meminta tolong.
"Terserah aku dong. Cepet buatkan aku makan," suruhnya lagi.
"Iya-iya... Mau dimasakin apa memangnya?" Tanya Luna dengan nada kesal.
"Terserah, apa aja. Yang penting enak," jawabnya sambil berlalu dari dapur.
Luna berdecih kesal. Dia yang minta dimasakin, tapi dia sendiri nggak tahu mau makan sama apa. Sangat menyebalkan.
Akhirnya Luna memilih masak nasi goreng sosis saja. Luna mengecek terlebih dahulu nasinya, takut kalau nasinya nggak ada.
"Untung nasinya masih ada."
Luna mengambil nasi secukupnya, lalu mengiris bawang, sosis dan daun bawang.
Tidak butuh waktu lama bagi Luna untuk masak nasi goreng. Setelah nasi gorengnya matang, segera Luna hidangkan ke hadapan Vano yang sudah menunggunya.
"Nih...." Menyorongkan nasi goreng ke Vano. "Aku sudah buatkan makan buat kamu. Apa ada lagi yang kamu butuhkan?"
"Nggak ada. Sudah sana pergi," ucap Vano mengibaskan tangannya.
Luna mendelik kesal, karena Vano tidak mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Dasar nyebelin. Sungut Luna di dalam hatinya.