
"Lepasin aku!" Hardik Luna, sambil memberontak dari dekapan Pak Ariawan.
"Jangan ngarep aku lepasin. Kamu harus membayar kerugian ku," ucapnya. "Sekarang juga, kamu harus membayarnya," bisik Pak Ariawan ke telinga Luna.
Bisikkan Pak Ariawan membuat Luna merinding dan ucapannya membuat Luna menelan ludahnya berkali-kali. Luna tidak ingin hidupnya hancur.
Kemudian, Pak Ariawan menarik Luna kembali masuk ke dalam rumah. Mumpung istri dan anaknya tidak ada di rumah, maka hasratnya yang sejak tadi dipendam harus terealisasi.
"Lepasin! Aku nggak mau ikut kamu, sialan!"
Luna berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Pak Ariawan. Luna tidak mau menjadi pemuas nav su lelaki bajingan ini.
Pak Ariawan tidak peduli dengan Luna. Pokoknya Luna harus membayarnya, kalau perlu Luna menjadi budak pemuas kebutuhan biologisnya.
Sepertinya akan sangat menyenangkan, pikir Pak Ariawan.
Membayangkan Luna menjadi budak pemuas nya saja sudah membuatnya semakin bergelora. Apalagi jika itu terjadi.
"Berhenti !" Teriak Vano yang berdiri di anak tangga.
Vano mendengus kesal melihat papanya menyeret Luna. Sejak tadi Vano terus memikirkan papanya, karena di rumah ada Luna. Yang katanya, gadis itu dijual kepada papanya, dan benar dugaannya, papanya kini tengah menyeret Luna menuju kamar.
Vano benar-benar tak habis pikir dengan papa tirinya. Bisa-bisanya papanya itu nekat membawa Luna ke kamar, di saat mamanya lagi pergi. Bagaimana kalau mamanya melihatnya, pasti hatinya akan bertambah terluka.
"Vano, tolongin aku," mohon Luna mengiba, sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Pak Ariawan.
Vano menangkap raut wajah Luna yang ketakutan dan juga tertekan. Vano mengepalkan tangannya dan menatap nyalang wajah papa tirinya itu.
Vano segera menghampiri papanya dan tanpa aba-aba Vano langsung melayangkan pukulan ke wajah Pak Ariawan.
Bugh...
Cengkeraman Pak Ariawan terlepas dan Luna segera berlindung dibelakang tubuh Vano. Luna masih merasakan ketakutan yang luar biasa.
__ADS_1
"Dasar lelaki bajingan! Beraninya papa membawa Luna ke kamar." Geram Vano.
Pak Ariawan tersenyum miring. "Kenapa? Masalah buat kamu. Toh, gadis itu sudah ku beli dan kamu...." Pak Ariawan menunjuk dada Vano. "Nggak punya hak untuk ngelarang. Lebih baik urus saja ibu mu yang tak berguna itu."
Bugh...
Lagi, Vano memukul wajah Pak Ariawan. Vano sangat marah jika ibunya direndahkan.
"Jaga mulut mu!" Sentak Vano, yang kini menarik kerah baju Pak Ariawan.
"Kenyataannya memang seperti itu," timpalnya lagi, sambil menyingkirkan tangan Vano dari bajunya. " Mama mu sudah tidak bisa ngapa-ngapain. Mengurus dirinya sendiri saja sudah nggak becus," ucapnya lagi. Lalu, Pak Ariawan segera pergi dari sana, sambil terus menatap wajah Luna yang bersembunyi dibalik punggung Vano.
Hati Vano semaki meradang mendengar hinaan papanya. Wajahnya memerah karena emosi kini kian mendidih.
Vano membuang napasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian Vano menatap Luna dengan perasaan kesal.
"Kamu juga! Harusnya kamu nggak usah keluar dari kamar kamu!" Bentak Vano.
Luna mencebikan bibirnya. Selalu saja salah di mata Vano, padahal kan dirinya mau pulang kampung, agar tidak bertemu dengan Pak Ariawan.
"Pergi kemana?" Tanya Vano.
"Pulang ke kampung halaman."
Tring...
Sebuah pesan masuk ke ponselnya Luna. Segera Luna lihat pesan tersebut.
"Aku harus segera pergi. Mang ojol sudah menungguku di depan. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku. Tolong sampaikan salam ku ke Tante Aida "
"Iya, nanti aku sampaikan," sahut Vano. Lalu Luna bergegas keluar dari rumah.
Sekarang Luna benar-benar sudah bernapas lega. Akhirnya ia bisa pergi dari sini dan berharap tidak bertemu lagi dengan Pak Ariawan di kemudian hari.
__ADS_1
Setibanya di depan, Luna langsung naik ke boncengan dan meninggalkan rumah tersebut.
Jika nanti, bila sudah sampai di kampung, Luna akan secepatnya menceraikan Dimas.
Awalnya perjalanan menuju terminal lancar, tapi dipertengahan jalan, motornya ke senggol mobil yang kebut-kebutan. Sehingga Luna dan mang ojol terjatuh ke aspal.
Brakk...
"Aww...!" Luna meringis kesakitan, begitu juga dengan mang ojol.
Orang-orang yang berada disekitarnya, langsung menolong Luna dan mang ojol.
"Dasar rese tuh mobil. Memangnya nih jalan punya nenek moyang nya apa!" Umpat salah satu warga yang menolong Luna dan mang ojol.
Luna dan mang ojol dibantu untuk bangun.
Baru saja akan berdiri, kaki Luna ternyata sangat sakit dan tak bisa dibawa untuk berdiri.
"Aduh ! Sakit," rengek Luna.
"Bawa saja ke rumah sakit," saran salah satu yang menolongnya.
Disinilah sekarang, di rumah sakit. Luna maupun mang ojol kini tengah diobati.
"Maaf ya mba, saya nggak bisa antar mba ke terminal," sesal mang ojol. Mereka berdua sudah selesai diobati.
Luna mengangguk . "Nggak apa-apa, mang. Kita kan nggak tahu kalau di jalan kena musibah, tapi untung saja kita masih selamat," ucap Luna.
"Iya benar... untung kita masih selamat," timpal mang ijol. Selesai berobat, Luna harus segera berangkat ke terminal. Luna tidak memperdulikan rasa sakit di tubuhnya, yang jelas ia harus pergi dari kota ini.
Menjauh. itu akan menjadi lebih baik.
Dengan langkah terseok-seok, Luna berjalan keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Luna..."