
Sore itu, kondisi mama Aida sudah membaik. Rasa sesak yang tadi menyerangnya sudah tidak sakit lagi.
Dengan bantuan mba Yuni, mama Aida berpindah dari atas kasur ke kursi roda. Lalu mba Yuni mendorong kursi rodanya ke luar kamar. Sore ini mama Aida ingin menikmati udara sore hari.
Senyumnya terkembang saat sudah berada di halaman belakang rumah. Mama Aida menghirup udara segar untuk memenuhi paru-parunya, di tambah dengan angin yang berhembus membelai kulit wajahnya.
Dari dalam, Vano melintas hendak ke arah dapur dan Vano melihat ibunya tengah duduk menikmati udara sore ini, Melihat ibunya terlihat membaik, Vano memilih membelokkan langkahnya ke arah sang ibu.
"Ma...."
Mama Aida menoleh dan tersenyum. Vano kemudian berlutut di samping mama Aida.
"Mama sudah enakan?" Tanya Vano, yang langsung di jawab anggukan kepala.
"Syukurlah...," sambung Vano lega.
"O ya... Mama dari tadi kok nggak lihat Luna?" Tanya mama Aida yang mendadak teringat dengan Luna. Sejak tadi mama Aida tidak melihat Luna.
Vano mendengus. Kenapa mama nya masih saja menanyakan Luna. Padahal jelas-jelas kemarin malam Luna berduaan dengan papa nya di hotel.
"Dia...."
"Sudah aku usir." Sambar Bayu melanjutkan ucapan Vano.
Mama Aida terkejut mendengarnya dan menatap tajam wajah Bayu.
"Kenapa harus di usir," mama Aida marah.
__ADS_1
Bayu menautkan alisnya heran. "Gadis itu kan sudah--."
"Luna itu dijual sama suaminya!" Mama Aida memotong kalimat Bayu. "Dan Luna korban dari keegoisan suaminya. Dan kamu juga... Kenapa main usir saja!" Geram mama Aida. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Bayu mengusir Luna. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap Luna.
"Ma, buat apa--." Perkataan Bayu langsung dipotong oleh mama Aida.
"Pokoknya mama nggak mau tahu. Kalian berdua harus cari Luna sampai ketemu, kalau nggak ketemu... Kalian berdua nggak boleh pulang!" ancamnya.
"Ma... Ngapain cari gadis itu!" Protes Bayu. Malas sekali harus mencari cewek itu. Lagian kenapa mama nya itu begitu peduli terhadapnya.
"Yuni !" Teriak mama Aida.
Mba Yuni yang tengah menyetrika baju datang tergopoh-gopoh menghampiri mama Aida.
"Iya, Bu," sahut Yuni.
Mba Yuni mengangguk dan segera mendorong kursi rodanya.
"Ma...." Bayu ingin menolaknya, tapi mama Aida tak menghiraukannya.
"Kenapa mama harus cari gadis itu sih!" Bayu merasa heran.
"Sudahlah kak, kita cari saja. Cewek itu sudah cuci otak mama, makanya mama terus belain dia," timpal Vano, sambil menepuk pundak Bayu.
Bayu akhirnya mengikuti langkah Vano dan mencari Luna.
***
__ADS_1
Di taman kecil, Luna duduk termenung seorang diri. Luna sangat letih setelah berjalan berpuluh-puluh meter. Tenggorokannya kini terasa kering dan peluh terus membasahi pakaian.
"Aku haus sama lapar," lirih Luna, meringis menahan rasa lapar. Luna menelan ludahnya, saat tukang bakso lewat. Aroma bakso yang menguar, semakin membuat perutnya bertambah lapar...
Saat di usir, Luna melupakan tasnya yang tersimpan di kamar. Kini Luna menyesal, seharusnya tadi mengambilnya terlebih dahulu. Jadi nya Luna tidak kelaparan seperti sekarang ini.
"Sekarang aku harus kemana lagi. Apalagi sekarang sudah mulai petang."
Luna memandang langit dengan tatapan sendu. Entah kemana lagi ia melangkah.
Kenapa nasibnya harus seperti ini Luna sudah menaruh harapan besar terhadap Dimas, tapi yang ada malah membuatnya menderita. Di dalam benaknya, kenapa Dimas setega itu menjualnya dan Jika alasan Dimas tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa pula Dimas bersedia menikah dengannya.
Kini waktu pun sudah berganti malam dan Luna tidak beranjak dari tempatnya. Perutnya juga semakin perih, tanda lapar sudah teramat.
"Sendirian aja, neng?" Tiba-tiba tiga orang pria mendekatinya. Dari penampilannya ke tiga pria itu seperti anak punk.
"Abang temenin ya, neng."
Luna menggeleng cepat. Luna beringsut menjauhi tiga pria itu. Luna merutuki dirinya sendiri. Kenapa dirinya harus menghadapi situasi seperti ini.
"Nggak usah takut, neng. Abang nggak akan gigit," kelakar salah satunya.
Luna yang tak mau sampai terjadi sesuatu terhadapnya, segera mengambil langkah seribu. Tapi sayang, baru saja akan berlari, tangan Luna sudah lebih dulu di cekal.
"Lepasin!" Luna memberontak, berusaha lepas dari cengkeraman mereka.
Ketiga pria itu justru tertawa renyah. Tidak peduli dengan Luna yang ketakutan. Yang terpenting malam ini ketiganya bisa bersenang-senang.
__ADS_1
"Ayo, kita bawa saja ke tempat biasa," ucap salah satunya, dengan senyum menyeringai.