Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 32 ~ Belum ketemu


__ADS_3

Akhirnya Luna bisa terbebas dari Kungkungan Pak Ariawan. Sedangkan Pak Ariawan meringis kesakitan karena kepalanya di pukul sama vas bunga oleh Luna.


Darah segar mengalir dari kepala Pak Ariawan dan Luna juga menendang pangkal pahanya Pak Ariawan dengan sangat keras. Tidak peduli jika anu nya Pak Ariawan berfungsi dengan baik lagi atau tidak.


Melihat Pak Ariawan dilanda kesakitan, Luna buru-buru keluar dari kamar tersebut, dan untungnya pintunya tidak di kunci.


Setidaknya saat ini Luna bisa bernapas lega, berhasil bebas dari Pak Ariawan. Luna yang sudah berhasil keluar dari kamar tersebut, segera Luna mengayunkan kakinya menuruni tangga.


Baru saja menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir, terdengar suara Dimas tengah berbicara dengan seseorang. Cepat-cepat Luna bersembunyi ke arah dapur. Luna menyembunyikan tubuhnya di belakang pintu dapur.


Tidak lama terdengar suara teriakan Pak Ariawan dari lantai atas.


"Dimas ...!"


Dimas yang tengah mengobrol dengan anak buahnya, tergopoh-gopoh menghampiri Pak Ariawan yang sudah berdiri di tengah-tengah tangga.


Ke dua bola matanya membola melihat Pak Ariawan bersimbah darah di kepalanya.


'Apa yang sudah terjadi? Apa yang sudah Luna lakukan, sampai kepala Pak Ariawan berdarah,' umam Dimas di hatinya.


"Cari gadis itu! Jangan sampai lolos dari sini !" perintahnya penuh kemarahan.


'Jadi Luna berhasil kabur?' Geram Dimas di dalam hatinya.


"I-iya," jawab Dimas gagap.


Dimas kemudian memanggil anak buahnya dan memintanya mencari Luna di rumah tersebut. Jangan sampai ia gagal lagi menghancurkan Luna.


"Awas kamu Luna! Kali ini aku nggak akan membiarkan kamu kabur dari sini !" Ke dua bola mata Dimas memancarkan kemarahan, tangannya terkepal erat menahan emosi.


Dimas dan anak buahnya mencari Luna, menyisir setiap sudut rumah itu, tapi sampai detik ini Dimas dan anak buahnya belum berhasil menemukan Luna. Padahal setiap sudut rumah itu tak luput dari pencariannya.


"Gimana? Apa kamu menemukannya?" tanya Dimas.

__ADS_1


Anak buah Dimas menggelengkan kepalanya. "Belum, bos."


Dimas membuang napasnya kasar. "Pinter juga si Luna sembunyi nya. Cepat cari lagi yang benar. Luna pasti masih di sekitar sini, jangan sampai dia lolos."


"Siap, bos."


Sekali lagi, mereka mencari Luna dan entah dimana Luna bersembunyi, sehingga mereka semua tidak dapat menemukannya.


Dimas berkali-kali berdecak kesal, karena dirinya belum berhasil menemukan Luna.


"Brengsek kamu Luna! Sepandainya kamu bersembunyi, pasti aku bakal menemukanmu," geram Dimas.


***


Di rumah mama Aida.


Mama Aida berulangkali melirik jam, sudah hampir jam delapan, Luna belum pulang juga. Membuat mama Aida mencemaskan Luna.


Mama Aida tampak gelisah dan tak tenang memikirkan Luna. Bayu yang duduk di sofa menatap heran mama Aida.


"Gimana mama nggak gelisah. Sudah jam segini Luna belum pulang."


"Luna belum pulang juga?"


"Iya. Vano juga, katanya nyari Luna tapi sampai detik ini nggak ngabarin mama. Mama kan jadi nggak tenang."


"Coba aku telpon Vano. Siapa tahu Luna sudah sama Vano," ujar Bayu sambil meraih ponselnya di atas meja. Kemudian Bayu menelpon Vano.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Vano mengangkat telponnya. Bayu langsung meloudspeaker nya, agar mamanya mendengar langsung pembicaraannya.


"Halo, bang. Ada apa?"


"Kamu sudah nemuin Luna belum? Soalnya Luna belum pulang. Mama juga terus mengkhawatirkan Luna," sahut Bayu tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Belum, bang. Ini, aku juga masih nyariin Luna." Vano yang tengah menyetir tampak frustasi mencari Luna, yang sampai sekarang belum ketemu.


Mendengar jawaban Vano, mama Aida semakin mencemaskan Luna. Hati dan pikirannya menjadi tak tenang.


"Ya sudah. Kalau nanti Luna ketemu, tolong kabarin mama," pinta Bayu.


"Iya, bang."


Bayu mematikan telponnya dan menatap sang mama yang terlihat gelisah.


"Bayu ... Mama takut kalau Luna di culik sama mas Ariawan. Soalnya nggak biasanya Luna jam segini belum pulang, kalau pun pulang telat, pasti ngabarin mama."


"Mama tenang dulu. Aku pasti bantu cari Luna."


***


Dimas dan anak buahnya sampai saat ini belum berhasil menemukan Luna.


Luna benar-benar pintar mencari tempat persembunyian. Sampai-sampai Dimas dan anak buahnya pusing mencarinya.


"Argh ...!" Teriak Dimas kesal. " Dimana kamu sembunyi?" Geram Dimas.


Pak Ariawan yang sejak tadi menunggu, terpaksa menemui Dimas.


"Mana gadis itu? Kenapa gadis itu tidak di bawa ke kamarku," ucap Pak Ariawan kepada Dimas.


Dimas menghela napasnya, frustasi. Dimas tidak tahu lagi harus mencari Luna dimana, padahal Dimas yakin kalau Luna tidak mungkin bisa keluar dari rumah ini. Secara penjagaan di sini sangat ketat.


"Maaf ... Saya belum menemukan dia," sahut Dimas.


"Apa? Kamu belum berhasil menemukan gadis itu!" Bentak Pak Ariawan.


"Iya ...."

__ADS_1


"Cari satu orang aja nggak becus!" Hardik Pak Ariawan.


"Saya nggak mau tahu. Pokoknya kamu cari gadis itu sampai ketemu! Kalau nggak ... Aku tuntut kamu dengan pasal penipuan!"


__ADS_2