Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 42 ~ Ternyata Bu Tari


__ADS_3

Luna tersadar dari pingsannya dan menatap sekeliling ruangan itu. Suasananya tamaram dan warna tembok yang sudah mengelupas di beberapa bagian, serta udara di ruangan ini cukup pengap.


"Aku dimana?" gumam Luna.


Ingatannya kembali berputar, ketika Luna dan Silfa tengah pulang dari warung bakso mang Sobri. Tiba-tiba seseorang menariknya dan membekap mulutnya. Dari situ ia tidak sadarkan diri.


Yang jadi pertanyaan, apakah yang menculiknya adalah Dimas? Jika benar ... Habislah dirinya di tangan Dimas.


Detik berikutnya, Luna teringat sesuatu. "Silfa ... Aku kok gak lihat Silfa. Dia dimana?" gumam Luna. Di ruangan ini hanya dirinya seorang. Seketika rasa khawatir merasuki pikirannya. Luna takut kalau Silfa sampai kenapa-kenapa.


"Aku harus cari Silfa. Semoga Silfa tidak kenapa-kenapa."


Luna segera mengayunkan kakinya menuju pintu, namun, pintu tersebut terkunci.


"Sial !" Umpat Luna. "Bagaimana caranya aku keluar dari sini."


Luna memindai sekitar ruangan tersebut, berharap ada celah agar bisa keluar dari sana. Akan tetapi ruangan tersebut tertutup, walaupun ada hanya ventilasi udara yang bolongnya tidak terlalu besar.


Luna mendesah panjang, karena tidak bisa kabur dari tempat ini.


Seketika Luna teringat dengan ponselnya. Luna harus menghubungi pamannya dan meminta tolong.


Luna meraba-raba celananya, tapi ponselnya tidak ada sama sekali. Luna yakin kalau ponselnya ada di saku celananya.


"Apa mungkin jatuh? Terus gimana kasih tahu paman."


Luna menggigit kukunya, ia frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu bantuan datang sendiri.


Cukup lama Luna berdiam diri di ruangan itu, hingga terdengar seseorang membuka kunci. Perlahan pintu itu terbuka dan sosok yang tak pernah ia duga kini berdiri dihadapannya.


"Bu Tari ...." Luna membeku ditempatnya melihat Bu Tari.


Bu Tari tersenyum miring melihat keterkejutan Luna.

__ADS_1


"Kaget ya ...," ucap Bu Tari.


"Ibu yang culik aku?" tanya Luna mendesak.


Bu Tari mengangguk, membenarkan ucapan Luna.


Belum hilang dari keterkejutannya, kini Luna semakin terkejut saat tahu kalau mantan mertuanya yang telah menculiknya. Dan apa motif Bu Tari menculiknya. Membuat Luna semakin bingung dibuatnya.


"Kenapa ibu culik aku?" Lagi, Luna bertanya. Ia sangat penasaran alasan Bu Tari menculiknya. "Dan dimana Silfa?"


"Kamu tenang saja, Silfa aman," jawabnya santai.


"Terus kenapa ibu culik aku?"


"Apa ya ... Pokoknya kamu itu tidak bisa dipercaya. "


Semakin bingung saja luna dengan perkataan Bu Tari. Tidak bisa dipercaya katanya? Memangnya Bu Tari mempercayakan apa kepadanya.


"Maksud ibu apa? Aku tidak mengerti."


"Kamu tidak bisa membuat Dimas jatuh cinta sama kamu dan kamu membuat Dimas semakin membenciku."


Kenapa Bu Tari menyalahkannya. Seharusnya ia yang marah terhadap Dimas karena Dimas, ia dijual sama lelaki hidung belang. Soal Dimas membenci ibunya, itu bukan urusan Luna.


"Kenapa ibu menyalahkan aku?" Jelas Luna tidak terima dikambing hitamkan.


"Gara-gara kamu, Dimas semakin ingin menyembuhkan Desi dari sakit jiwanya!" Pekik Bu Tari. Kedua bola matanya menyiratkan kemarahan yang membuncah.


Luna melongo mendengarnya. Hanya alasan itu, Bu Tari sampai tega menculiknya. Seharusnya bagus dong jika Desi bisa sembuh dari sakitnya.


Dasar orang tua aneh.


"Mas Haikal ...!" Teriak Bu Tari memanggilnya.

__ADS_1


Lelaki yang bernama Haikal tergopoh-gopoh masuk dan menghampiri Bu Tari. Luna semakin terkejut saja saat tahu siapa lelaki itu. Lelaki yang bernama Haikal adalah lelaki yang kemarin Luna lihat di mobil bersama Bu Tari.


"Kenapa?" tanya Haikal.


"Tolong awasin gadis ini. Jangan sampai dia kabur dari sini. Aku mau pulang." Perintahnya kepada Haikal.


"Kamu tenang saja. Tanpa kamu minta pun aku pasti bakal mengawasinya."


"Oke, tapi ingat jangan sampai di kabur." Lagi, Bu Tari mengingatkannya. Setelah itu Bu Tari pun pergi dari sana, meninggalkan Luna dan Haikal.


Selepas kepergian Bu Tari, Haikal duduk di kursi kayu dan sorot matanya terlihat penuh seringai. Apalagi di ruangan ini hanya ada mereka berdua.


Luna harus waspada terhadap lelaki yang kini tengah menghisap sebatang rokok. Lebih baik ia menjaga jarak aman dengan lelaki itu.


Luna terus memperhatikan gerak-gerik lelaki itu. Luna tidak ingin sampai lengah.


"Kenapa lihatin saya sampai segitunya?" ucap Haikal, seraya mematikan putung rokok.


Luna tak menjawab, hanya menatap dingin wajah Haikal.


Kemudian Haikal bangun dari duduknya dan melangkah mendekati Luna.


Melihat Haikal berjalan ke arahnya, Luna segera menghindar dan menjaga jarak dengan lelaki itu. Apalagi melihat seringainya, membuat tubuhnya meremang.


"Apa kamu menyukai saya? Sampai-sampai kamu begitu lekat memandangi saya?"


Rasanya Luna ingin muntah mendengar perkataan Haikal. Mentang-mentang ngeliatin terus, dia menyimpulkan kalau dirinya menyukainya.


"Cih ... Siapa juga yang suka sama lelaki tuir kayak dia." Cibir Luna di hati.


Haikal menghentikan langkahnya, karena Luna sudah terpojok dan tidak bisa menghindarinya lagi.


"Kamu tuh cantik, tapi mengapa Dimas tidak tertarik sama kamu? Kalau saya jadi Dimas, saya tidak akan menyia-nyiakan kamu," cetusnya sambil memindai tubuh Luna. "Huh ... Kalau bukan karena Tari, kamu sudah aku terkam kayak si Desi." Dengus Haikal, sambil berlalu dari hadapan Luna.

__ADS_1


Luna terhenyak mendengar perkataan lelaki tua itu. Apa katanya? Menerkam Desi? Atau telinganya yang salah mendengar?


Sepertinya aku harus mencari tahu soal kejadian itu. Bisa jadi yang merenggut kesucian Desi bukan Kak Raihan.


__ADS_2