
Dengan sedikit rasa kesal Luna meninggalkan Vano, tapi baru saja beberapa langkah Vano memanggilnya.
"Luna !"
Luna menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Ada apa lagi?" Tanya Luna sedikit malas. Jangan bilang kalau Vano akan menyuruhnya membuat sesuatu lagi.
"Duduk. Aku mau bicara sama kamu."
Luna menurutinya dan segera duduk di sebrang Vano.
"Mau bicara apa?"
"Kamu tunggu dulu. Aku mau ngehabisin makananku dulu," ujar Vano.
Luna mengangguk dan menunggu Vano menyelesaikan makannya.
Dengan terkantuk-kantuk Luna menunggu Vano menghabiskan nasi goreng buatannya. Vano segera menghabisi minumnya, setelah selesai makan.
"Mau bicara apa?" Tanya Luna.
Vano menyorongkan piring dan gelas bekas ke hadapan Luna. "Cuci dulu," perintah Vano.
Luna mendengus kesal, sambil membawa piring dan gelas ke wastafel dan mencucinya. Selesai mencucinya, Luna kembali duduk dan menatap Vano.
"Gini... Aku mau minta tolong sama kamu," ucap Vano sedikit ragu.
"Minta tolong apa?"
"Jadi ... Pacar pura-pura aku."
Luna melebarkan bola matanya mendengar ucapan Vano. Nggak salah Vano memintanya jadi pacar pura-pura nya. Apa otaknya Vano lagi korslet.
"Kenapa juga aku harus jadi pacar pura-pura kamu?" Tanya Luna bingung.
"Sudahlah, kamu jangan banyak tanya. Pokoknya kamu besok harus ikut aku dan harus jadi pacar pura-pura aku," ucap Vano sedikit memaksa. Kemudian Vano Berlalu dari sana, meninggalkan Luna dengan sejuta pertanyaan.
***
"Selamat pagi," sapa Jefri, adik kandung mama Aida.
Semua yang berada di meja langsung menoleh. Mama Aida tersenyum senang melihat adiknya yang sudah lama tak jumpa. Kemarin, saat di jemput Bayu, Jefri langsung ke apartemennya. Jefri segera mendekati mama Aida, lalu memeluknya.
"Gimana kabar, mba?" Tanya Jefri, kemudian melerai pelukannya.
"Seperti yang kamu lihat. Keadaan mba seperti ini," jawabnya dengan senyum getir. Jefri tahu apa yang dirasakan kakaknya itu. Jefri mengelus lembut tangannya mama Aida, dengan tatapan sendu.
"Kamu pasti belum sarapan," ucap mama Aida.
Jefri tersenyum, membenarkan ucapan sang kakak. Kedatangannya selain untuk melepas rindu, ia juga ingin menumpang sarapan.
"Luna, tolong ambilin piring ya," suruh mama Aida dan Luna mengangguk.
"Ini piringnya," seloroh Luna yang menyorongkan piring ke Jefri.
Jefri yang sejak tadi tidak begitu memperhatikan Luna, langsung terkesima melihat Luna.
Cantik.
Jiwa playboy nya muncul melihat Luna yang cantik.
"E'hem." Vano berdehem.
Sampai segitunya Om Jef ngeliatin si Luna. Sungut Vano di dalam hatinya.
__ADS_1
"Siapa nama kamu?" Tanya Jefri, yang belum mengalihkan pandangannya dari Luna.
"Luna."
"Luna... Cantik seperti orangnya." Puji Jefri.
"Terima kasih," ucap Luna dengan wajah tersipu.
Vano yang mendengar pujian Jefri, langsung mencibirnya di dalam hati.
Banyak kali cewek yang lebih cantik dari dia.
Sedangkan Bayu, memutarkan bola matanya. Dulu, gendang telinganya sering banget mendengar rayuan gombal Jefri, yang terlalu sering bergonta-ganti pasangan.
***
"Sebenarnya kamu ngapain ngajak aku kesini?" Tanya Luna yang saat ini berada di depan salon kecantikan. Luna menatap nama salon yang bertulis 'Rose Beauty salon.'
"Ikuti saja apa kataku," jawab vano, sambil menarik tangan Luna masuk ke dalam salon.
Seperti yang semalam Vano ucapkan, hari ini Luna harus jadi pacar bohongan nya.
"Selamat datang di Rose Beauty salon," sapa karyawan salon.
Vano mengangguk sebagai jawabannya.
"Tolong make over cewek ini," ucap Vano kepada karyawan salon yang menyapanya.
"Baik mas. Mari kakak cantik, ikut saya."
Bukannya mengikuti karyawan salon, Luna justru menatap Vano penuh tanya. "Kamu mau make over aku buat apa?"
"Nanti aku jelasin kalau kamu sudah di make over," tukas Vano sambil mendorong tubuh Luna untuk mengikuti karyawan salon.
Luna mendengus dan langsung duduk di kursi yang sudah dipersilahkan oleh karyawan salon.
Vano terkesima melihat Luna yang begitu sangat cantik. Bahkan Vano sampai lupa untuk berkedip.
Ini beneran si Luna? kenapa dia cantik sekali.
"Vano...." Panggil Luna, tapi Vano tak menyahutinya, karena Vano begitu terpesona melihatnya.
"Vano...." Sekali lagi Luna memanggilnya dengan suara sedikit keras.
"Eh... Iya, apa?" Vano tergagap, seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Bagaimana? Apa aku sudah cantik?" Sambil berlenggok ke kana dan ke kiri.
"Biasa aja," jawab Vano.
Luna memanyunkan bibirnya. Kalau hasilnya biasa saja, ngapain Vano menyuruhnya nyalon.
Selesai dengan urusan salon menyalon. Vano membawa Luna ke sebuah hotel bintang lima.
Luna panik saat Vano membawanya ke hotel. Pikirannya sudah yang tidak-tidak dan mengingatkannya dimalam naas. Malam dimana Dimas menjualnya.
"Vano... Jangan bilang kalau kamu mau...."
"Kalau kamu apa?" Ketus Vano yang tau apa yang di maksud Luna. "Aku bukan orang picik. Jadi jangan pikir yang aneh-aneh."
"Gimana pikiranku nggak aneh-aneh, kalau kamu membawa aku kesini !" Kesal Luna. "Kamu tahu sendiri kalau aku tuh...." Luna tak sanggup meneruskan kalimatnya. Seketika dadanya terasa sesak.
Luna tertunduk sedih. Setiap mengingat malam itu rasa sakit di hatinya semakin perih.
Vano memberanikan diri untuk menggenggam tangan Luna.
__ADS_1
"Kamu jangan sedih. Aku nggak sejahat itu... Aku ngajak kamu kesini untuk panas-panasin mantan pacar aku."
Luna menoleh dan mencari kejujuran di bola mata Vano.
"Aku nggak bohong," sambung Vano.
***
Luna menggandeng lengan Vano dengan mesra. Keduanya kini memasuki sebuah restoran mewah yang di sulap menjadi pesta ulang tahun.
Vano memperluas pandangannya mencari mantan pacarnya. Vano mendengus kesal ketika bola matanya sudah menemukan yang ia cari.
Audi, nama mantan Vano. Dia seorang model terkenal. Dia tengah tersenyum dan menggandeng Andre. Keduanya tengah menunjukkan kemesraannya kepada semuanya.
"Itu dia mantan ku," bisik Vano, menunjuk ke arah Audi.
Luna manggut-manggut. Lalu, Vano segera mendekati Audi dan Andre.
"Rupanya kamu datang juga," ucap Andre menyindir Vano, yang dikira Vano tak akan datang.
"Tentu saja aku datang," jawab Vano. Kemudian Vano mengulurkan tangannya ke Audi. "Selamat ulang tahun," ucapnya singkat.
Audi hanya mengangguk saja, tapi pandangannya terus tertuju ke Luna yang begitu mesra merangkul lengan berotot Vano.
"Sayang... Sudahkan ngucapinnya," seloroh Luna.
"Sudah," jawab Vano.
"Ayo kita ke sana."
Vano mengangguk. Tanpa permisi Vano meninggalkan Audi dan Andre.
Siapa cewek itu?
Audi terus memperhatikan Vano dan Luna. Hatinya terasa terbakar saat melihat kemesraan Vano dan Luna, apalagi melihat senyum Vano begitu lebar. Ingin rasanya Audi mencakar wajah Luna.
Audi segera mendekati Luna, saat Luna ditinggal Vano ke toilet.
"Kamu siapanya Vano?" Tanyanya tanpa basa-basi.
Luna menoleh. "Aku...." Luna menunjuk kepada dirinya sendiri.
"Iya lah, siapa lagi," sahut Audi sedikit kesal.
"Pacarnya. Kenapa memangnya."
"Kamu tahu kalau Vano itu pacar ku," tukas Audi, sengaja memanasi Luna.
"O ya...." Luna pura-pura terkejut.
"Iya lah. Aku sama Vano sudah lama pacaran."
"Oh... Begitu ya...." Luna manggut-manggut. "Kalau memang kamu pacarnya Vano, kenapa kamu gandeng cowok lain? Atau kamu hanya ngaku-ngaku doang."
"Aku nggak ngaku-ngaku. Vano memang pacarku!" Audi sewot, tak terima dituduh mengada-ngada. "Kamu kali yang ngaku-ngaku jadi pacarnya Vano!"
"Aku memang pacarnya Vano."
"Buktiin kalau kamu pacarnya Vano," ucapnya dengan nada mengejek.
"Buktinya aku datang kesini sama Vano," jawab Luna malas menanggapinya.
"Itu bukan bukti kalau kamu pacarnya Vano."
"Oke... Jika kamu mau bukti, aku akan buktikan."
__ADS_1
Luna tidak mau tanggung-tanggung membantu Vano, juga membungkam mulut lemes nya Audi. Tepat saat itu juga Vano datang dari toilet. Luna menarik jas yang dikenakan Vano dan hal tak terduga Vano rasakan.
Cup