Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 22 ~ Menyusul Luna ke kota


__ADS_3

Luna sudah selesai membereskan meja kerjanya. Ia menyampirkan tasnya ke bahu.


"Luna, aku duluan ya," seloroh Arfi yang sudah siap untuk pulang.


"Iya, Mba," sahut Luna.


Luna melirik jam di ponselnya. Luna mengerucutkan bibirnya karena harus menunggu Vano. Luna pun keluar dari tempat kerjanya dan menunggu Vano di luar.


Saat akan melangkah, ponsel miliknya berdering. Luna melihat siapa yang nelponnya.


"Paman...." Luna bergumam. Segera Luna menggeser tombol hijau.


"Halo, paman," sapa Luna.


"Luna, apa kamu masih sibuk?" Tanya paman.


"Nggak, ini mau pulang. Kenapa paman?"


"Oh ... Kamu pulang ya. Kalau gitu nanti saja paman ngomongnya, kalau kamu sudah sampai di rumah."


"Memang paman mau ngomongin apa?" Bukannya menutup telponnya, justru Luna penasaran dengan apa yang akan pamannya bicarakan.


"Nanti saja kalau kamu sudah di rumah."


"Baiklah."


Paman Bramantyo mematikan telponnya.


"Paman mau ngomong apa ya?" Luna penasaran. Kemudian Luna mengedikkan bahunya dan melanjutkan langkahnya keluar.


Hampir dua puluh menit berlalu Luna menunggu Vano. Luna sangat kesal menunggu Vano datang. Tidak berselang lama Vano pun datang dan mengklaksonnya.


Luna mendengus dan segera masuk ke dalam mobil.


"Lama!" Sungut Luna.


"He ... He ... He ...." Vano cengengesan. "Macet," sambungnya.


Vano menginjak pedal gas dan melaju membelah jalanan ibukota yang sore itu jalanan padat. Di jam-jam tersebut, semua orang berlomba-lomba untuk segera pulang, setelah seharian bekerja.


Luna lagi malas berbicara dengan Vano. Ia memilih diam sepanjang perjalanan.


"Kok kamu nggak ngomong kerja di kantor mas Bayu," ucap Vano memecahkan keheningan.


Luna mengerutkan keningnya. "Ngapain aku kasih tahu kamu." Sungut Luna. Memang Vano siapanya Luna.


Vano pun menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ya ... Kamu kan pacar aku," kilah Vano.


Luna menipiskan bibirnya. "Pacar? Eh, sejak kapan pacaran." Cibir Luna.


Akan tetapi Vano hanya mengedikkan bahunya.


Cukup lama berkendara, akhirnya Vano menepikan mobilnya di depan restoran Chinese food.


Vano dan Luna turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran tersebut. Vano sengaja memilih tempat duduknya di dekat dinding kaca, yang mengarah langsung ke sebuah taman kecil.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Vano sambil melihat-lihat buku menu.


"Terserah," jawab Luna.


Vano mendengus mendengar kata terserah. Vano paling kesel dengan kata terserah.


"Jangan terserah dong ... Nanti aku salah pesen, gimana?"


Luna mendesis kesal, lalu ia rebut buku menunya dan asal memilih makanan.

__ADS_1


Vano tersenyum samar melihat Luna yang kesal. Melihat Luna kesal menjadi kesenangan tersendiri. Ia gemas melihatnya.


Selesai memesan makanan, Luna lebih memilih menyibukkan diri dengan ponselnya. Luna masih kesal dengan ucapan Vano yang mengakuinya sebagai pacar.


"Besok aku antar kamu berangkat kerja," seloroh Vano.


Luna menghentikan jarinya yang tengah sibuk menscroll akun sosial media. Luna meliriknya sekilas.


"Ogah! Mending berangkat sendiri," jawab Luna.


Luna sudah tahu kalau tawaran Vano pasti ada udang di balik batu. Cukup sudah baginya menjadi pacar pura-pura nya Vano.


"Aku nggak suka penolakan," tegas Vano. "Pokoknya besok aku antar kamu berangkat kerja."


Luna mencebikan bibirnya. Selalu saja maksa. "Bisa nggak sih jadi orang tuh nggak maksa," sungut Luna.


"Karena kamu memang harus di paksa, baru mau."


Luna berdecih. Ini nih, salah satu sifat Vano yang tak disukai Luna yaitu pemaksa.


Seperti yang sudah-sudah, Luna akhirnya memilih mengiyakan saja, sebab percuma saja jika dirinya ngotot menolaknya.


Tidak lama berselang, makanannya datang. Pramusaji meletakkan makanan di atas meja.


"Selamat menikmati," ujarnya sembari memberikan senyum.


"Terima kasih, Mba," sambung Luna.


Luna segera memakannya, begitu juga dengan Vano. Melihat Luna makan, terbesit sebuah ide yang menurutnya ide brilian.


"Kayaknya makanan kamu lebih enak,"celetuk Vano.


Luna meliriknya sekilas dan tidak menyahutinya, lebih baik segera menghabiskannya. Tapi Vano justru mendekatkan wajahnya dan membuka mulutnya. Meminta Luna menyuapinya.


"Ck ... Dasar modus!" Cibir Luna, tapi tak urung menyuapi nya juga.


"Aaaa...." Vano membuka mulutnya lebar. Lagi, Luna terpaksa menyuapinya lagi.


Ternyata bukan hanya sekali atau dua kali Vano meminta Luna menyuapinya, tapi berkali-kali, hingga akhirnya Luna kesal dengan Vano.


"Kalau kayak gini terus, kapan aku makannya?" Kesal Luna.


Bukannya bersalah, Vano justru cengengesan. Rasanya Luna ingin sekali mere*mat wajah Vano yang sok kecakepan atau bila perlu membenturkan kepalanya ke aspal.


Vano kemudian menyendok kan makanan miliknya, lalu mendekatkan ke mulut Luna.


"Buka mulut kamu," suruh Vano, dengan nada memerintah


"Nggak mau! Selera makan ku udah lenyap."


"Buka mulutnya," paksa Vano.


Luna mengangkat kedua tangannya dan mere*mas tangannya di depan wajah Vano. Geram sekali dengan Vano yang lagi-lagi memaksanya.


Dengan penuh kekesalan Luna memakan yang disuapin Vano. Di dalam hatinya Luna terus saja mendumel.


"Anak pintar," seloroh Vano sambil mengelus rambutnya. Secepat kilat Luna menepis tangan Vano.


Makan malam yang menurut Vano menyenangkan, tapi mengesalkan buat Luna.


***


Vano dan Luna tiba di rumah pukul delapan malam. Luna langsung melesat ke kamarnya lewat pintu samping. Sedangkan Vano masuk lewat pintu utama.


Wajahnya yang sumringah mendadak lenyap, ketika seseorang yang tengah duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Vano...." Audi berdiri melihat Vano pulang. Sudah hampir setengah jam Audi menunggu Vano.


"Ngapain kamu kesini?" Ketus Vano.


Audi mendekati Vano dan memegang lengan Vano.


"Aku kangen...." Ucapnya dengan suara manja.


Vano menyingkirkan tangan Audi.


"Pulang sonoh! Aku nggak peduli lagi sama kamu."


Raut wajah Audi berubah mendung. Tapi Vano tidak semudah itu terpengaruh dengan wajah Audi yang berubah sedih.


"Segitunya kamu marah sama aku. Padahal aku sangat menyesal sudah buat kamu sakit hati," ucap Audi sedih.


Vano muak melihat Audi yang memasang wajah menyedihkan.


"Udahlah! Jangan sok mendramatisir deh. Pulang sonoh, aku mau istirahat." Usir Vano.


"Van, aku serius nyesel udah ninggalin kamu." Audi berkaca-kaca. "Aku mau kita seperti dulu lagi."


"Lama-lama nyebelin kamu. Aku kan sudah bilang, aku nggak peduli lagi sama kamu. Sana pulang!"


"Vano...."


"Pulang!"


Audi menghentakkan kakinya kesal. Niat hati ingin kembali tapi ternyata pengusiran yang ia dapatkan.


"Dasar cewek aneh!" Sungut Vano.


Keesokan harinya, sesuai dengan janjinya. Vano mengantarkan Luna berangkat kerja.


"Nanti sore aku jemput kamu," ucap Vano ketika sudah mengantar Luna ke kantornya.


"Terserah," sahut Luna. Luna segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam kantor.


Siangnya saat akan makan siang, ada kiriman makan untuknya. Luna mendengus, saat tahu Vano lah yang mengirim makanan.


"Aku tahu kamu pasti sangat sibuk. Jadi aku sengaja ngirimin kamu makan biar nggak pingsan." Begitulah isi pesan singkat Vano.


Luna membenarkan, kalau hari ini ia sangat sibuk.


Waktu pun cepat bergulir, tanpa terasa hari sudah sore. Luna tengah bersiap-siap untuk pulang. Luna keluar beriringan dengan Arfi. Di saat itu juga Vano datang menjemputnya.


"Cie ... Di jemput pacar," ledek Arfi. Luna hanya tersenyum kecut, karena Vano sudah mendeklarasikan dirinya sebagai pacarnya.


"Duluan, Mba," ucap Luna ketika akan masuk ke mobil.


"Iya, Luna. Sampai ketemu besok," sambung Arfi.


Luna menyandarkan punggungnya sambil memejamkan matanya. Luna tengah menghilangkan rasa penat setelah seharian bekerja. Hingga sebuah tangan menyentuh bahunya. Betapa terkejutnya Luna, saat membuka matanya, melihat Vano di depan wajahnya. Jarak wajah mereka sangat dekat, napas hangat Vano menyentuh kulitnya.


"Ka-kamu mau ngapain?" Tanya Luna gugup.


"Aku mau narik seat belt kamu."


Nyesss.


Luna memalingkan wajahnya yang memerah. Ia sangat malu telah menuduh Vano di dalam hatinya. Ia pikir Vano mau menciumnya, tapi ternyata mau memasangkan seat belt.


Dasar bodoh! Luna merutuki dirinya sendiri.


Vano tersenyum lebar. Gemas melihat Luna yang malu. Hingga deringan ponsel milik Luna mengalihkan perhatiannya. Dan yang menelponnya adalah Bramantyo.

__ADS_1


"Iya, paman," jawab Luna.


"Luna, paman sudah di Jakarta."


__ADS_2