
Luna menelungkup kan wajahnya di atas lipatan kedua tangannya di atas meja. Luna benar-benar sudah bosan berada di ruangan Vano, yang tak mengerjakan apapun. Padahal kerjaannya juga menumpuk di meja resepsionis, tapi Vano, seenak jidat menyuruhnya tak melakukan apapun.
Luna kemudian menegakkan tubuhnya dan beranjak dari tempatnya.
"Aku kembali ke tempat kerjaku aja lah. Dari pada di sini, aku nggak ngapa-ngapain," keluh Luna.
"Nggak. Kamu tetap berada di sini," sahut Vano.
Luna mencebikan bibirnya. "Aku boseeennn," keluh Luna lagi.
"Kamu bosen. Sini, kamu ikut aku." Vano bangun dari kursinya dan menarik tangan Luna ke sebuah sofa panjang. Lalu, Vano duduk di sana dan meminta Luna ikut duduk.
"Ngapain nyuruh aku duduk lagi," ucap Luna kesal.
Vano kemudian meraih kepala Luna dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Ih...! Mau ngapain kamu peluk-peluk aku," protes Luna.
"Dengan cara ini kamu nggak akan bosen lagi."
"Halah ... Bilang aja modus. Biar kamu bisa peluk-peluk aku," sungut Luna, sambil menjauh dari tubuh Vano.
"Siapa bilang aku modus. Sudah sini." Vano menarik Luna lagi dan mendekapnya.
"Aku nggak mau," rengek Luna, sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan Vano.
"Sstt ... Diam atau aku cium," ancam Vano.
Luna mendengus dan mencebikan bibirnya. Terpaksa Luna membiarkan Vano memeluknya.
"Pejamkan mata kamu, terus bayangin yang indah-indah," kata Vano.
Luna pun menurutinya, walau heran. Ngapain bayangin yang indah-indah.
Vano mengelus punggung Luna lembut.
Lama kelamaan Luna terbuai dengan kelembutan Vano yang mengelus punggungnya, dan akhirnya Luna tertidur.
Vano tersenyum kecil melihat Luna sudah tertidur. Kemudian Vano mengangkat kepala Luna.
"Ternyata kamu cantik kalau lagi tidur," gumam Vano di dalam hatinya.
Tangan Vano terulur menyentuh kulit wajah Luna. Mengelus pipi halus Luna, lalu jemarinya bergeser ke arah bibir. Vano menundukkan kepalanya untuk menyentuh bibir Luna dengan bibirnya. Menciumnya penuh kelembutan dan berharap apa yang Vano lakukan tidak menggangu tidur Luna.
Vano tersenyum kecil karena mencuri ciuman dari Luna.
Hampir tiga puluh menit Luna tertidur dan selama itu Vano tetap memeluk Luna. Dan hebatnya Vano tetap menahan rasa pegal di tangannya.
Kapan lagi Luna mau dipeluk seperti ini.
__ADS_1
Bayu datang ke ruang kerja Vano dan tanpa mengetuk pintu Bayu masuk. Bayu terkejut melihat Vano dan Luna tengah berpelukan.
Bayu mendengus. Bukannya kerja, tapi ini malah asyik-asyikkan pacaran, pikir Bayu.
"E'hem...." Bayu berdehem.
Vano terlonjak mendengar suara deheman. Posisinya yang membelakangi pintu, membuat Vano tak tahu kalau ada orang masuk, apalagi Vano begitu lekat memandangi wajah Luna yang damai dalam tidurnya.
"Bukannya kerja, malah pacaran," omel Bayu sambil mendorong kepala Vano dari belakang.
"Berisik. Nggak lihat apa kalau Luna lagi tidur," sahut Vano sedikit berbisik.
"Oh...."
"Ada apa ke sini?" Tanya Vano pelan.
Bayu berdiri di samping sofa yang di duduki oleh Vano dan Luna.
"Mau ngajak makan siang, tapi kayaknya kamu sibuk menjaga si Luna."
"Nah, Abang udah tahu kan jawabannya. Sana pergi," usir Vano.
"Iya deh, aku pergi. Tapi ingat, jangan diapa-apain tuh cewek. Dia masih istri orang," ucap Bayu mengingatkannya sambil berlalu.
"Iya, aku tahu," sungut Vano.
Luna langsung menjauh dari tubuh Vano. Bisa-bisanya dirinya tertidur di pelukan Vano, gerutunya di hati.
"Aku mau balik ke tempat kerjaku," ucap Luna.
"Ngapain? Kamu kan sekretaris aku," jawab Vano mengingatkannya.
"Sekretaris apaan. Aku tuh kerjanya cuman duduk doang, nggak ngapa-ngapain." Kesal Luna.
Vano hanya tersenyum menanggapi ucapan Luna.
Kriuk kriuk kriuk.
Perut Luna bunyi .
Vano semakin tersenyum lebar mendengar perut Luna keroncongan.
"Lapar?" Tanya Vano.
Luna mendelik. "Malah nanya lagi !" Dengus Luna.
Vano menarik tangan Luna dan mengajaknya keluar dari ruangannya.
Untung saja suasana kantor tengah sepi, jadi Luna merasa lega. Andai keluar bukan jam makan siang, sudah pasti orang-orang sudah membicarakannya.
__ADS_1
Setibanya di lobby, Vano membukakan pintu mobil untuk Luna. Lalu, Vano pun segera masuk dan duduk di belakang kemudi.
Vano segera melajukan mobilnya dan menyatu dengan kendaraan lain di jalan. Beberapa menit berkendara, Vano membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang tak jauh dari kantor.
Vano dan Luna keluar dari mobil. Tanpa di duga, Bayu juga berada di restoran yang sama.
"Eh, itu kan mas Bayu," kata Luna sambil menunjuk Bayu.
Jika di luar pekerjaan, Luna akan memanggil Bayu dengan sebutan mas, begitu juga Luna akan memanggil Pak jika berada di kantor.
"Ternyata makan di sini juga," timpal Vano.
Akan tetapi Vano tidak menghampiri Bayu, ia mengajak Luna ke meja yang lain.
"Kenapa nggak gabung sama mas Bayu?" Ucap Luna sambil duduk.
"Nggak ah! Enakan duduk berdua, tanpa ada orang ketiga," jawab Vano.
Luna memutarkan bola matanya. Memangnya Bayu itu hantu apa disebut orang ketiga.
Selesai memesan makanan, dari ekor matanya, Luna melihat seorang perempuan mendatangi Bayu.
Cantik. Satu kata Luna berikan kepada perempuan itu.
Tunggu! Perempuan itu tidak sendiri. Perempuan itu datang bersama anak kecil. Luna jadi penasaran, siapa perempuan itu.
Luna menautkan alisnya heran, melihat sikap Bayu tak bersahabat. Kemudian Luna menoel tangan Vano yang begitu serius menikmati makan siangnya.
"Perempuan yang bersama mas Bayu siapa?"
Vano menoleh dan melihatnya. "Oh ... Dia mantan tunangan bang Bayu."
Luna manggut-manggut, kemudian Luna melanjutkan lagi makan siangnya.
Di meja yang berbeda. Bayu sangat kesal terhadap mantan tunangannya. Padahal Bayu sudah tidak mau lagi bertemu dengannya, tapi perempuan itu terus saja mendekatinya dengan alasan dia capek sama suaminya dan ingin curhat dengannya.
"Bay, kenapa sih kamu selalu ngindarin aku," ucap Frida, mantan tunangan Bayu.
Frida tampak sedih menatap wajah Bayu. Lelaki yang sampai saat ini masih berada di tempat spesial di hatinya.
"Sudahlah Frida. Aku kan sudah bilang, jangan temui aku lagi. Aku nggak mau terjadi salah paham. Bukan kah kamu sendiri yang menerima Ikbal jadi suami kamu. Jadi stop, jangan temuin aku lagi. Lebih baik urus saja anakmu ini."
"Aku nggak mau. Aku masih ingin terus menemui kamu." Frida tidak peduli dengan perkataan Bayu. Pokoknya ia ingin selalu bertemu Bayu.
Bayu menghela napasnya. Frida sangat keras kepala.
Bayu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, dan saat itu juga Bayu melihat Luna dan Vano di meja lain.
Bayu tersenyum dan terbesit sebuah ide. Bayu kemudian mengirim pesan kepada Vano. Hanya Vano yang bisa membantunya saat ini, terutama sama gadis yang bersama Vano.
__ADS_1