Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 12 ~ Jangan pikir kamu bisa lari


__ADS_3

Luna tak menyangka kalau dirinya bisa secepat ini bertemu dengan orang yang sudah membelinya. Sekarang apa yang harus ia lakukan. Untuk bersembunyi pun rasanya tak mungkin, karena lelaki itu sudah melihatnya tengah sarapan bersama keluarganya.


"Sial ! Kenapa harus bertemu sekarang." Umpat Luna di dalam hatinya. Luna tak berani mengangkat kepalanya hanya sekedar untuk melihatnya. Ia yakin lelaki itu pasti tengah menatapnya.


Kenapa nggak besok saja lelaki itu pulang ke rumah ini. Padahal Luna sudah berencana siang nanti akan pergi dari sini, tapi ternyata Tuhan justru harus mempertemukannya dengan lelaki brengsek ini.


"Papa...." Ucap mama Aida datar.


Biasanya mama Aida akan menyambutnya dengan senyuman, tapi tidak untuk sekarang. Hatinya masih sangat sakit setelah mengetahui kalau suaminya sudah membeli Luna.


Mama Aida menarik tangan Luna dan menggenggamnya. Memberitahukan kalau Luna tidak usah takut, sebeb ia akan melindunginya dari suaminya ini.


Luna menundukkan kepalanya semakin dalam, karena Pak Ariawan tengah menatapnya intens.


Pak Ariawan tak menyangka gadis yang ia beli ada disini, di rumahnya. Entah bagaimana gadis itu bisa berada di rumahnya, yang jelas ia senang. Sepertinya semesta tengah mendukungnya dan menunjukkan kalau gadis itu masih miliknya. Meski kemarin sempat mencak-mencak terhadap Dimas, karena merasa sangat rugi.


"Ngapain pulang," ketus mama Aida.


Pak Ariawan menautkan alisnya. Tak biasanya istrinya itu berkata dingin.


"Bukannya dari kemarin kamu selalu menyuruhku pulang. Terus kenapa sekarang kamu bilang kayak gitu." Heran Pak Ariawan.


"Memang. Kemarin-kemarin memang aku menyuruh papa pulang, tapi... Setelah aku tahu kalau papa suka jajan diluar sana, aku sudah tidak mengharapkan papa untuk pulang."


"O ya... Tapi sayangnya aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan. Kalau soal aku sering jajan diluar sana, karena kamu sudah tidak bisa melayaniku," imbuhnya, yang merendahkan mama Aida yang lumpuh.


Brakk...


Vano mengebrak meja makan. Ia sudah muak mendengar ucapan Pak Ariawan. Seolah-olah ibunya tak becus mengurus suaminya.


"Bisa nggak papa jaga ucapan papa! Mama seperti ini juga gara-gara papa!" Geram Vano.


Pak Ariawan tersenyum miring. Kenapa pula dirinya selalu disalahkan, padahal yang mengendarai mobil yang ditumpangi istrinya itu sopir pribadi istrinya. Dan hal ini yang membuatnya malas untuk pulang.


"Terus saja kamu menuduh ku," tukas Pak Ariawan jengah.


"Memang kenyataannya begitu!" Sengak Vano.


"Ini nih, yang buat ku malas pulang," cetus Pak Ariawan.


Kesal karena terus dimusuhi oleh anak tirinya, Pak Ariawan memilih berlalu dari hadapan semuanya dan melangkah masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Sementara itu, Luna langsung bangun dari duduknya. Ia berniat untuk segera pergi dari rumah ini. Ia tidak ingin berlama-lama berada di rumah ini, apalagi sekarang ini, Pak Ariawan ada di rumah ini.


Luna tidak mau kalau dirinya sampai di jerat lagi sama Pak Ariawan. Bagaimana pun ia harus pergi menjauh.


"Permisi Tante, aku mau ke kamar dulu," ucap Luna.


Mama Aida mengangguk.


Luna bergegas menuju kamar dan mengambil tasnya. Hanya barang itu yang ia miliki dan baju yang melekat ditubuhnya.


Nanti, setelah keluar dari kamar ini, Luna berharap tidak bertemu dengan Pak Ariawan dan semoga saja Pak Ariawan masih berada di kamarnya. Luna takut, kalau pak Ariawan akan mengikutinya.


Luna keluar dan tengok kanan kiri, memastikan kalau Pak Ariawan tidak ada di sana.


"Mudah-mudahan Tante Aida ada di ruang tengah," gumam Luna.


Luna segera menemui mama Aida, tapi ternyata mama Aida tidak ada di ruang tengah. Kemudian Luna melangkah ke dapur.


"Mba Yuni, lihat Tante Aida nggak?"


"Ibu sudah pergi," jawab mba Yuni yang tengah menyiangi udang.


"Kapan? Pergi kemana?" Tanya Luna lagi.


"Ke rumah sakit?" Cicit Luna.


"Iya, katanya mau check up kakinya ibu. Kenapa memangnya?"


Luna terdiam dan bingung. Apa nggak perlu pamit ke mama Aida, tapi kalau nggak pamit nanti mama Aida bakal sedih. Luna jadi serba salah dan nggak enak hati, tapi ia nggak mungkin kan harus menunggu mama Aida pulang dari rumah sakit dan lagian pulangnya juga nggak tahu sampai jam berapa.


"Mba...."


"Hmm... Kenapa, Luna?"


"Sebenarnya aku tuh mau pulang ke kampung. Nanti kalau Tante Aida pulang, tolong sampaikan kalau aku pamit pulang. Katakan juga permintaan maaf dariku karena nggak bisa nungguin Tante Aida pulang."


"Iya, nanti mba sampaikan. Terus kamu ke terminalnya dianter siapa? Bukannya kamu belum tahu jalanan ibu kota."


Benar juga apa yang dikatakan Mba Yuni. Dirinya pergi ke terminal dengan siapa? Kalau naik kendaraan umum, takut nyasar.


"Iya sih... Terus kira-kira aku naik apa ke terminalnya."

__ADS_1


"Bagaimana kalau naik ojek online aja," saran mba Yuni.


"Bener. Kenapa nggak kepikiran dari tadi," seru Luna sambil menepuk keningnya. Kemudian Luna segera memesan ojek online.


"Beres," seloroh Luna yang baru saja memesan ojek online.


"Mba, kalau gitu aku nunggu di depan saja, sekalian aku pamit," ucap Luna yang dianggukin oleh mba Yuni.


"Iya, hati-hati kamu di jalan," imbuh mba Yuni.


"Iya, mba. Aku pergi dulu."


Luna bergegas meninggalkan mba Yuni di dapur dan melangkah keluar dari rumah ini.


Akhirnya Luna bisa bernapas lega, karena ia segera keluar dari rumah ini, meski sedih karena meninggalkan mama Aida, yang sudah sangat baik menampungnya untuk tinggal di rumahnya.


Langkah Luna mendadak berhenti, ketika orang yang sangat Luna hindari kini muncul dihadapannya.


Luna merutuki dirinya sendiri, kenapa pula dirinya tidak keluar dari pintu samping. Ah! Betapa bodoh nya dirinya ini.


Luna bergidik ngeri melihat seringai Pak Ariawan. Rasanya Luna ingin sekali meminjam pintu Doraemon, agar ia bisa menghilang dari sana.


"Hai... Gadis ku," sapa Pak Ariawan dengan senyum menyeringai.


Luna tidak berniat membalas sapaan Pak Ariawan. Lebih baik ia segera keluar dari rumah ini. Luna segera melangkahkan kakinya dengan cepat. Luna tidak ingin lagi berurusan dengan Pak Ariawan.


"Berhenti !"


Tapi Luna tak menghiraukan ucapan Pak Ariawan. Pokoknya ia harus secepatnya pergi.


Pak Ariawan tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Luna. Gadis ini harus membayar semua kerugian yang sudah terbuang sia-sia.


Pak Ariawan segera menyusul Luna dan mencegahnya untuk pergi.


Luna yang melihat Pak Ariawan menyusulnya, segera berlari keluar dan berharap ojek online nya sudah datang.


"Berhenti! ! Jangan lari kamu !"


Pak Ariawan semakin kencang melangkahkan kakinya. Bagaimana pun ia harus mendapatkan gadis itu.


Gep...

__ADS_1


Tangan Luna berhasil ia raih, dan menyentak tubuh Luna ke dekapannya.


"Jangan pikir kamu bisa lari dariku."


__ADS_2