Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 35 ~ Permintaan Luna


__ADS_3

"Argh ...!" Luna berteriak, saat senjata milik Pak Ariawan mulai menekan miliknya.


Pak Ariawan menghentikannya dulu dan ia ingin Luna terlihat rileks saat memulainya. Mungkin barusan ia terlalu terburu-buru.


"Rileks, Sayang ...," ucapnya kepada Luna.


Luna menggeleng sambil menangis.


Pak Ariawan membungkukkan tubuhnya dan mencium bibir Luna dan mencumbuinya. Berharap Luna bisa rileks dan tidak tegang.


Melihat Luna mulai terlena dengan cumbuan nya dan menginginkannya, pelan-pelan senjatanya diarahkan lagi ke milik Luna.


Luna meringis sakit saat merasakan senjata itu mulai menekan miliknya.


Usahanya merobek selaput darah, tidak semudah yang dibayangkan. Nyatanya Pak Ariawan harus berusaha lebih keras lagi.


Sekali lagi, Pak Ariawan menekannya kembali dan ....


Bruukk ...


Pintu kamar terbuka paksa.


Pak Ariawan tersentak mendengar pintu didobrak dan kedua bola matanya terbelalak saat tahu siapa orang yang mendobrak pintunya. Dia adalah Bayu. Ya ... Bayu datang untuk menolong Luna dari lelaki baji*ngan yang kini tengah berada di atas tubuh Luna.


Bayu datang tidak sendiri. Ia datang bersama dua temannya, membantunya menghajar anak buah Pak Ariawan, termasuk melumpuhkan Dimas. Dugaannya kalau Luna diculik sama Pak Ariawan tidak salah. Sebab ia tahu kalau Pak Ariawan sangat berambisi memiliki Luna.


Bayu paham betul seperti apa watak Pak Ariawan. Jika lelaki brengsek itu menginginkan sesuatu, maka dia harus memilikinya.


Bayu menatap Pak Ariawan penuh emosi, ketika melihat Luna berada dibawah Kungkungan Pak Ariawan.


Ini kedua kalinya, ia melihat Pak Ariawan tengah mencumbui Luna, dan kali ini Bayu tidak akan memberi ampun.


Dengan secepat kilat, Bayu menarik Pak Ariawan dari atas tubuh Luna, dan memukulinya seperti kesetanan. Tidak sedikitpun Bayu memberi celah untuk membelanya maupun melawannya.

__ADS_1


Pak Ariawan kewalahan dengan serangan Bayu. Bayu benar-benar ingin membunuhnya. Untuk bernapas pun ia kesulitan, sebab Bayu terus menghaja dirinya bertubi-tubi.


"Dasar Anji ing," maki Bayu, yang terus memukuli wajah dan perut Pak Ariawan.


Pak Ariawan tersungkur ke lantai dengan wajahnya penuh luka lebam. Hidung dan sudut bibirnya berdarah. Pak Ariawan tidak sanggup untuk bangun, sebab Bayu terus menghajarnya tanpa ampun. Kemudian Bayu menginjak keras tulang kering Pak Ariawan.


"Argh ...!" Pekik Pak Ariawan.


Sekali lagi Bayu menginjak lebih keras lagi, tidak peduli jika tulang kakinya patah. Lagi, Bayu menginjak keras tulang kering yang satunya lagi.


Pak Ariawan terpekik kesakitan. Kedua kakinya terasa patah.


Napas Bayu naik turun, melihat Pak Ariawan meringis kesakitan diatas lantai. Pak Ariawan sudah tak punya daya lagi untuk bangun. Rasanya Bayu belum puasa menghajar Pak Ariawan.


"Aahh ...." Luna mendesah.


Bayu tersadar dengan Luna. Bayu bergegas mendekati Luna yang tengah menggeliat penuh hass rat.


Glek ... Bayu menelan ludahnya melihat tubuh Luna yang tak tertutup sehelai benang pun. Bayu memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak mau melihat kemolekan tubuh.


"Uuhh ...." Lagi, Luna mendesah menahan hass ratnya.


Bayu segera menutup tubuh Luna. Ia tidak sanggup melihat kemolekan tubuh Luna.


Tidak lama temannya Bayu datang untuk menolongnya.


"Bay !" panggil Dio. "Dimana papa tiri mu itu?"


Bayu menunjuknya. "Bawa dia dari sini," titah Bayu. "Dan bawa mereka semua ke kantor polisi."


Dio mengangguk dan segera membawa Pak Ariawan dari sana.


Setelah Dio berhasil membawa Pak Ariawan. Bayu kini mulai kebingungan menolong Luna. Pasalnya Luna terus menggeliat dan memintanya untuk menolongnya.

__ADS_1


Luna yang sudah tidak bisa lagi menahan gejolak has*ratnya, menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu Luna bangun dan mendekati Bayu.


"Tolong bantu aku hilangkan gejolak ini." Pinta Luna. Kedua bola matanya tertutup kabut gelora hass rat yang semakin membara.


Bayu menggeleng cepat. "Tidak Luna. Aku tidak bisa melakukannya." Tolak Bayu tegas.


"Aku mohon ...."


"Aku tidak bisa melakukannya, Luna."


Karena sudah tidak bisa menahannya lagi, Luna menarik tengkuk Bayu dan mencium bibir Bayu penuh gelora. Akal sehatnya sudah tertutup. Pokoknya gejolak hass ratnya harus terealisasikan.


Bayu terkejut mendapat serangan mendadak dari Luna. Segera akal sehatnya menyadarkannya dari keterkejutannya. Bayu berusaha melepaskan tangan Luna dari lehernya. Namun, usahanya gagal, karena Luna begitu kuat menahan tangannya di lehernya.


Bayu kewalahan dengan ciuman Luna yang penuh nap ssu dan juga sangat agresif.


Luna menarik Bayu ke atas tempat tidur dan menindihnya. Hass*ratnya sudah tidak terpendung lagi. Luna ingin segera melakukannya, ya ... Melakukannya sekarang juga.


Sementara itu, sesuatu yang seharusnya tidak bangun, kini menggeliat bangun, membuat Bayu frustasi. Apalagi Luna tidak mengenakan pakaian sama sekali.


"Aku mohon lakukan," lirih Luna memelas.


*Tidak tidak tidak ... Aku tidak boleh menodai Luna. Gimanapun caranya aku tidak boleh melakukannya.* Tolaknya di hati.


Bayu semakin frustasi, karena kini Luna menggoyangkan pinggulnya di bagian pangkal pahanya yang masih tertutup celana.


*Sial ! Luna membuat ku menginginkannya.* Umpat Bayu frustasi.


Luna mendesah sambil terus menggoyangkan pinggulnya.


Tepat saat itu juga Vano datang dan betapa terkejutnya Vano melihat Luna dan Bayu di atas ranjang.


Kedua tangannya terkepal kuat. Rahangnya mengeras melihat apa yang sedang dilakukan Luna dan Bayu.

__ADS_1


"Luna !" Hardik Vano.


__ADS_2