
Kedatangan Luna di sambut oleh mama Aida. Sebelumnya Vano sudah mengabari kalau Luna sudah ketemu. Luna pikir mama Aida marah kepadanya, setelah tahu kalau suaminya telah membelinya.
Mama Aida langsung merentangkan kedua tangannya dan Luna langsung memeluk mama Aida dengan rasa suka cita.
"Tante senang kamu baik-baik saja," ucap mama Aida.
"Maaf ya, atas sikap Bayu yang sudah mengusir mu," sambung mama Aida.
Luna mengangguk dan tak mempermasalahkannya. Luna juga tidak menyalahkan Bayu yang mengusirnya. Wajarlah jika seorang anak akan marah jika papa nya berduaan di kamar hotel dengan perempuan. Meski disini dirinya korban dari keegoisan Dimas.
Luna juga tidak mengerti, kenapa mama Aida begitu baik terhadapnya. Padahal suaminya sudah membelinya.
Mengingat lelaki yang sudah membelinya, Luna jadi khawatir dan juga takut. Takut jika lelaki itu pulang ke rumah ini.
Baiklah... Sebelum lelaki tua itu pulang, ia harus pergi dari rumah ini dan pulang ke kampung halamannya.
"Pasti kamu ketakutan diluar sana," ujar mama Aida, sambil melerai pelukannya dengan Luna.
Luna tersenyum kecut, membenarkan ucapan Mama Aida. Hampir saja dirinya dilecehkan oleh tiga pria tadi dan Luna sangat ketakutan. Untung saja Vano datang menolongnya.
"Apa kamu sudah makan?" tanya mama Aida.
"Sudah," jawab Luna.
"Sekarang kamu istirahat saja, pasti kamu lelah."
"Iya, Tante."
***
Malam pun semakin larut. Saat ini Luna tengah berdiri di depan jendela. Kebetulan kamar Luna menghadap ke arah kolam renang.
Luna teringat dengan kedua orang tuanya. Luna sedih karena semua yang diharapkannya tidak sesuai harapannya. Sedih karena tidak lanjut kuliah dan sedih karena suami yang diharapkannya malah menjualnya.
"Bunda... Ayah... Maafin Luna. Luna belum bisa mewujudkan keinginan kalian." Luna mendesah samar.
Luna juga teringat dengan Pama dan bibinya. "Paman... Ternyata kak Dimas jahat sama aku. Dia begitu tega menjual aku." Setetes air matanya jatuh.
Prang...
Suara benda jatuh dari luar.
"Suara apaan itu?"gumam Luna, kemudian Luna segera keluar dan mencari sumber suara tadi.
"Ya Tuhan." Luna terbelalak melihat Vano tengah meninju tembok, juga pecahan cangkir berserakan.
"Vano, hentikan!" Pekik Luna.
Vano menoleh kearahnya dengan wajah yang terlihat sangat marah.
"Kenapa kamu memukul tembok dan memecahkan cangkir?" Tanya Luna khawatir.
Vano tak menyahutinya, dia memilih pergi dari sana dengan perasaan yang bergemuruh menahan rasa marah.
Luna menatap bingung sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi dengan Vano. Kenapa Vano sebegitu marahnya.
Melihat pecahan cangkir yang berserakan, Luna lantas membersihkannya dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di dapur.
__ADS_1
"Ternyata kamu sudah balik ke rumah?"
Luna terkejut mendengar suara berat dari belakangnya.
"Mas Bayu," pekik Luna seraya memegangi dadanya.
"Bagus deh kalau kamu sudah pulang. Aku nggak usah repot-repot cari kamu," sambung Bayu lagi.
Sebenarnya Bayu sangat muak melihat Luna ada di rumahnya. Kalau bukan karena ibunya, ia pasti tidak akan membiarkan Luna tinggal di rumahnya.
"Minggir !" Bayu mendorong tubuh Luna yang menghalangi jalannya. Kemudian Bayu membuka lemari dapur dan mengambil sebungkus mie instan.
Luna hanya melihatnya saja, dan lagian percuma jika dirinya menawarkan diri untuk membuat mie rebus.
Ceklek... Ceklek... Ceklek...
Kompornya tidak menyala.
"Kenapa nggak nyala-nyala sih kompornya?" Gerutu Bayu.
Kesal karena kompornya tidak menyala, Bayu melempar mie instan nya.
"Kenapa mba Yuni membiarkan kompornya rusak!" Lanjut Bayu bergerutu.
"Mungkin gas nya abis," celetuk Luna, yang ternyata belum pergi dari sana.
"Sok tahu kamu!" Ucapnya ketus.
Luna tidak peduli dengan perkataan ketus Bayu dan Luna lebih memilih mengecek regulator gas. Benar ternyata, jarum regulator nya mengarah ke warna biru. Tanpa banyak berkata, Luna segera mengganti dengan gas yang baru dan memasangnya.
Ceklek.
Kompornya menyala. Bayu segera meletakkan panci kecil ke atas kompor dan memasak mie instan.
Luna mencebikan bibirnya. "Bilang makasih kek atau gimana," gerutu Luna di dalam hati.
"Aw... Panas," ringis Bayu yang kecipratan air saat mengaduk mie nya.
"Sini, biar aku saja," tawar Luna pada akhirnya.
Bayu pun menyingkir dari sana dan membiarkan Luna yang menyelesaikan mie rebusnya.
Tidak menunggu lama, mie rebus pun sudah matang dan sudah berpindah wadah ke dalam mangkok.
"Nih mas, mie nya." Luna menyorongkan mangkok berisi mie ke hadapan Bayu. Lagi, Bayu tidak mengucapkan terima kasih dan memilih melahap mie nya. Tidak peduli Luna berdiri didepannya.
Daripada di cuekin, lebih baik Luna pergi ke kamarnya saja. Toh, keberadaannya seolah tak dianggap.
"Terima kasih," ucap Bayu akhirnya.
"Sama-sama," jawab Luna. Lalu Luna melanjutkan lagi langkahnya.
"Tunggu, jangan pergi dulu."
Luna pun membalikkan badannya. "Iya, kenapa mas?"
Bayu menghabiskan minumnya dan berdiri. "Cuci mangkok dan gelasnya," ucap Bayu sambil berlalu dari sana.
__ADS_1
Luna melongo mendengarnya. Ia pikir Bayu mau bicara apa, tapi ternyata hanya menyuruhnya mencuci bekas makannya.
Luna mencebikan bibirnya, sambil membawa mangkok dan gelas ke wastafel dan mencucinya.
***
Keesokan paginya, wajah mama Aida berbinar senang membuat Luna menatap heran.
"Kayaknya Tante lagi seneng banget," ujar Luna yang tengah menyisir rambut mama Aida.
Mama Aida mengangguk. "Benar, Tante lagi senang. Soalnya adik Tante hari ini akan pulang dari luar negeri. Kami sudah lama tidak bertemu," terang mama Aida.
"Oh...."
Luna sudah selesai menyisir rambut mama Aida dan langsung mendorong kursi rodanya ke luar kamar.
"Bayu, nanti jangan lupa jemput Jefri," ucap mama Aida, yang sudah berada di meja makan.
Bayu mengangguk, "Iya, ma."
"Vano mana? Kok nggak sarapan?"
"Tau," seraya mengedikkan bahunya. "Masih di kamarnya kali."
"Luna, bisa tolong panggilkan Vano," suruh mama Aida.
Luna mengangguk. "Baik, Tan."
Luna segera melangkah menuju kamar Vano dan mengetuk pintunya.
"Vano! Disuruh sarapan sama Tante!"
Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Luna kembali mengetuk pintunya.
"Vano !" panggil Luna lagi.
Ceklek. Pintu pun dibuka.
Luna terperangah melihat Vano yang hanya menggunakan selembar handuk yang menutupi bagian bawah perutnya.
Luna memalingkan wajahnya, ia tak berani melihat keindahan tubuh Vano yang macho..
"Di tunggu sarapan sama Tante Aida," ucap Luna tergagap.
"Hmm...," jawabnya yang langsung menutup pintunya.
Luna membuang napasnya, akhirnya matanya tidak lagi melihat tubuh kekar Vano.
Kini Vano sudah bergabung di meja makan. Semuanya menikmati sarapan pagi ini, hingga sebuah suara mengejutkan semuanya.
"Selamat pagi semuanya."
Semua yang ada di meja makan menoleh kearah sumber suara.
Deg.
Luna terpaku melihat sosok lelaki paruh baya tengah berdiri tidak jauh darinya dan lelaki itu adalah Pak Ariawan.
__ADS_1