Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 47 ~ Lulus kuliah


__ADS_3

Menikah dengan orang yang kita cintai pasti sangatlah bahagia, tapi ternyata Vano harus menerima kenyataan kalau gadis yang ia cintai belum siap menikah dengannya.


Sedih, kecewa sudah pasti, tapi Vano harus legowo dengan keputusan Luna. Satu-satunya agar bisa menikahinya dengan cara bersabar menunggu sang pujaan hati lulus kuliah.


Memaksa pun percuma, justru nanti yang ada Luna semakin menjauh darinya dan tidak bakalan mau menikah dengannya dan itu jangan sampai terjadi.


Setelah lamarannya di tolak dan bersedia menunggunya sampai lulus. Hari-hari Vano hanya di sibukkan dengan bekerja dan terus bekerja, tapi ia tetap menjaga komunikasi dengan Luna. Terkadang Vano menyempatkan diri berkunjung ke kampung halaman Luna, hanya untuk sekedar melepas rindu.


4 tahun sudah berlalu, kini hari yang dinanti pun tiba, dimana hari ini Luna akan segera menyandang gelar S1. Hari kelulusannya adalah hal yang membahagiakan. Perjuangannya menggapai mimpinya kini terwujud. Pasti saat ini kedua orang tuanya tengah tersenyum bangga terhadapnya.


Luna tengah menatap dirinya sendiri di depan cermin. Ia baru selesai merias diri. Senyum merekah tersungging di bibirnya yang berwarna pink.


"Belum apa-apa aku sudah gugup saja." Monolognya.


Sebelum keluar dari kamarnya, Luna sekali lagi merapikan pakaiannya dan tatanan rambutnya. Setelah itu Luna meraih tasnya dan keluar.


Bramantyo dan Hanum sudah menungguinya. Keduanya tersenyum melihat Luna tampak cantik hari ini.


"Sudah siap?" tanya Bramantyo.


"Sudah."


Mereka bertiga segera berangkat dan naik ke dalam mobil yang telah di sewa oleh Bramantyo.


Sekitar tiga puluh menit untuk sampai di kampus. Suasana di kampus sudah sangat ramai dan banyak sekali pedagang berjejeran menjajakan dagangannya seperti buket bunga atau buket boneka wisuda.


Sebelum turun, Luna memakai toga-nya terlebih dahulu. Baru lah ia nyusul bibinya turun dari mobil.


"Paman, bibi, kita langsung ke aula saja," kata Luna. Mengingat acaranya sebentar lagi di mulai.


"Iya ...," jawab Hanum.

__ADS_1


Mereka bertiga bergegas menuju aula kampus.


"Bi, Luna langsung ke sana ya," ucap Luna.


Hanum mengangguk, lalu Hanum dan Bramantyo mencari tempat duduk.


Setelah melewati beberapa susunan acara, kini saatnya proses wisuda bagi para wisudawan. Luna yang menanti namanya di panggil begitu gugup, bahkan degup jantungnya terasa semakin berpacu.


Kini tiba gilirannya di panggil, segera Luna naik ke atas panggung dengan perasaan suka cita.


Bramantyo menatap bangga keponakannya itu. Akhirnya Luna dapat menyelesaikan juga pendidikannya. Bola matanya berkaca-kaca ketika Luna menerima ijazah nya. Bramantyo sungguh terharu melihatnya.


***


Luna segera menghampiri paman dan bibi sesaat setelah acara wisuda selesai. Dengan rasa bangga Luna memamerkan ijazah nya.


"Selamat ya, Sayang," ucap Hanum seraya memeluk Luna.


Kini giliran Bramantyo mengucapkan selamat kepada Luna.


"Selamat ... Akhirnya lulus juga. Paman sangat bangga sama kamu. Pasti ayah dan bunda tengah tersenyum bahagia di sana."


Luna hanya menganggukkan kepalanya sendu. Luna selalu melankolis bila berhubungan dengan orang tuanya.


"Ini hadiah dari paman." Seraya menyerahkan buket boneka wisuda yang tadi ia beli sebelum acara di mulai.


"Mm ... Terima kasih paman." Luna menerima buket boneka wisuda itu dengan suka cita.


"Ayo keluar dari sini," ajak Bramantyo kepada Luna dan istrinya.


Baru saja keluar dari gedung aula, seorang lelaki tampan tengah berdiri tidak jauh darinya. Dengan senyum khasnya, lelaki itu menatap penuh cinta kepada Luna.

__ADS_1


"Vano ...," Gumam Luna yang tak menyangka kalau Vano akan datang ke wisudaannya.


"Samperin sana. Vano udah dari tadi nungguin kamu." Kata Bramantyo.


Luna mengangguk dan segera menghampiri Vano.


"Selamat ... Akhirnya lulus kuliah juga," ucap Vano, seraya menyerahkan buket bunga berukuran cukup besar.


"Wow! Buket nya besar," ujar Luna takjub. "Terima kasih bunganya."


"Sama-sama."


Vano kemudian menggenggam tangan Luna. "Mau merayakan kelulusan mu?" Kata Vano.


"Boleh, tapi mau merayakan dimana?" tanya Luna.


"Ke penghulu juga boleh," candanya, yang langsung mendapatkan pukulan di lengannya.


"Apaan sih!" Sungut Luna.


Vano terkekeh kecil mendengarkannya. Lalu Vano dan Luna langsung meninggalkan kampus dan melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Ternyata Vano mengajaknya makan di restoran yang berada di atas bukit dengan view pemandangan yang sangat indah. Luna tahu betul kalau restoran ini terkenal dengan pemandangan indah, apalagi kalau datangnya malam. Akan di suguhkan kelap-kelip lampu yang memancarkan cahayanya seperti ribuan bintang.


"Kamu kok tahu restoran ini?" tanya Luna.


"Aku browsing di internet," kata Vano.


"Oh ...." Luna manggut-manggut. Lalu keduanya turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam restoran. Karena Luna masih mengenakan toga-nya, Luna izin ke toilet dulu untuk melepaskan toga-nya.


"Aku sudah pesenin makanan untuk kamu," ucap Vano ketika Luna sudah kembali dari toilet.

__ADS_1


"Terima kasih," ucapnya.


__ADS_2