Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 20 ~ Tak sengaja


__ADS_3

Hampir dua jam Luna dan Vano berada di rumah kakek Seno. Keberadaan Luna di sambut hangat oleh kakek. Luna pikir, kakek Seno akan bersikap dingin dan menunjukkan ketidaksukaannya, tapi ternyata Kakek Seno orangnya sangat humble dan humoris. Luna terus saja tertawa lepas, saat kakek bercerita. Sangat jauh berbeda dengan kedua cucunya, yaitu Bayu dan Vano.


Selesai makan malam, Vano dan Luna pamit dan berjanji akan datang menemui kakek Seno lagi.


"Kami pulang dulu, kek," pamit Luna seraya mencium punggung tangan kakek Seno.


Kakek Seno mengangguk kecil sambil tersenyum hangat. "Iya ... Kapan-kapan mampir lagi kesini," ucap kakek Seno yang di balas dengan senyuman.


Kemudian Vano juga menyalami Kakek. "Kali ini kakek setuju kamu pacaran sama Luna," ujar kakek Seno berbisik.


Vano menanggapinya dengan senyuman pahit.


Mana mungkin dirinya jatuh cinta sama modelan kayak gitu. Cibirnya di dalam hati.


Setelah itu Vano dan Luna meninggalkan kediaman kakek Seno.


Luna memandangi lalu-lalang kendaraan dari jendela mobil. Pikirannya masih berkecamuk tentang pembicaraannya dengan Dimas. Luna sudah berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi nyatanya tidak bisa semudah itu melupakan soal kakaknya.


Vano meliriknya sekilas mendengar helaan napas Luna. Vano menoleh dengan kening berkerut. Helaan napas Luna terdengar seperti memiliki masalah yang berat.


"Mampir dulu ya ke minimarket," ucap Vano membuyarkan lamunan Luna juga memecahkan keheningan yang tercipta.


Luna menoleh sesaat dan mengangguk. Luna kembali memandang keluar.


Vano segera membelokkan mobilnya ke minimarket terdekat.


"Kamu mau turun atau menunggu di mobil," ujar Vano sambil membuka seat belt nya.


"Aku tunggu di mobil saja," sahutnya.


Vano pun turun dan masuk ke dalam minimarket. Luna memilih membuka ponselnya dan melihat-lihat sosial media.


Luna tenggelam dengan dunia sosial media dan sibuk menscroll akun-akun media sosial. Tenggorokannya terasa kering. Luna yang tak mau meminta tolong, memilih keluar dari mobil dan membeli minuman kemasan. Baru saja akan membuka pintu, sebuah mobil berhenti tepat di samping mobil Vano. Luna menoleh ke arah mobil yang baru datang.


Kedua bola matanya terbelalak melihat siapa orang yang turun dari mobil.


"Dimas ... Sial !" Umpatnya. Luna tak jadi turun dan membungkukkan badannya, ketika Dimas sudah menutup pintu mobil.


"Kenapa Dimas ada disini sih," sungut Luna di dalam hatinya.


Luna mengintip ke depan, melihat Dimas sudah memasuki minimarket.


Tidak mau Dimas sampai melihatnya, Luna menelpon Vano.


"Ada apa?" Jawab Vano.


"Cepat belanjaannya, aku sudah ngantuk banget," ujar Luna sambil memperhatikan Dimas dari mobil.


"Iya ... Sebentar lagi," sahut Vano sambil memilih minuman kemasan botol. Setelah itu Luna mematikan telponnya.


Selesai memilih minuman, Vano menutup pintu showcase dan segera menuju kasir.


Bugh. Tubuh Vano bertubrukan dengan Dimas ketika membalikkan badannya dari depan showcase.

__ADS_1


"Sorry, nggak sengaja," ucap Vano.


"It's ok," sahut Dimas.


Vano menyingkir dari hadapan Dimas, karena Dimas sepertinya juga mau mengambil minuman kemasan.


Vano segera kembali ke mobil setelah membayar belanjaannya.


Luna bernapas lega, akhirnya acara belanjaannya Vano selesai. Sejak tadi Luna gelisah, takut kalau Dimas melihatnya dan Luna tidak mau itu sampai terjadi. Sebisa mungkin Luna jangan sampai bertemu dengan Dimas.


*


*


*


Hari yang baru dan semangat yang baru pula. Luna sudah siap dengan stelan kerjanya. Di ikatnya kerah baju pita, lalu Luna kembali merapikan pakaiannya dan juga rambutnya yang ia biarkan tergerai.


"Semoga hari ini awal yang baik buat ku. Semangat...." Seraya mengepalkan tangannya ke udara.


Pagi ini, Luna tidak ikut sarapan. Karena hari ini hari pertama kerja, maka Luna tidak terlambat.


Ingin


Sebelumnya Luna sudah berpamitan kepada mama Aida, dan meminta doa agar pekerjaannya berjalan lancar.


Mama Aida sudah berada di meja makan. Beliau tengah mengolesi selai kacang ke roti. Tidak lama Bayu muncul yang diikuti Vano. Keduanya menyapa mama Aida.


"Pagi juga, Sayang," sahut mama Aida. Begitu juga dengan Vano yang menyapanya.


Vano menoleh ke arah pintu kamar Luna. Semenjak meminta bantuan kepada Luna, Vano merasa sudah nyaman. Akan tetapi Vano tidak mau mengakuinya, ia sangat gengsi.


"Tumben tuh anak belum keluar," ucap Vano di hatinya.


Sudah lima menit berlalu, Vano kembali melihat ke arah pintu kamar Luna.


"Ma ... Luna kok nggak keluar-keluar?" Akhirnya Vano menanyakan juga.


"Luna sudah berangkat," jawab mama Aida.


Kening Vano berkerut. "Berangkat kemana?" Lagi, Vano bertanya karena Vano memang tidak tahu kalau Luna sudah mendapatkan pekerjaan.


"Kerja." Mama Aida menjawabnya singkat.


"Kerja?" Cicit Vano, yang semakin dalam mengerutkan keningnya.


Kenapa semalam nggak ngomong? Terus Luna kerja dimana? Hatinya Vano bertanya-tanya.


*


*


*

__ADS_1


Sebelum memulai pekerjaannya, Luna dan yang lainnya briefing. Memberi arahan di setiap pekerjaan yang akan mereka jalani.


Briefing pun selesai, dan semuanya sudah melangkah menuju tempat kerjanya masing-masing. Luna berdoa terlebih dahulu, kemudian duduk mengerjakan tugasnya.


Tidak berselang lama, Jefri datang. Senyum Jefri semakin merekah ketika melihat Luna sudah berada di balik meja kerjanya. Jefri menghampiri Luna dan menyapanya.


"Pagi Luna...."


"Pagi juga, Pak," jawab Luna sopan.


"Kamu hari ini terlihat sangat cantik." Jefri memujinya juga menggoda Luna.


"Terima kasih, Pak," jawab Luna singkat.


Bayu yang baru tiba, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Om nya itu.


"Pagi-pagi sudah tebar pesona," cibir Bayu.


Luna yang melihat Bayu, menundukkan kepalanya. "Selamat pagi, Pak," sapa Luna.


Walau tinggal satu rumah dengan Bayu, Luna harus profesional jika di kantor.


Bayu mengangguk kecil, sambil berlalu meninggalkan Luna. Jefri yang dari tadi masih di sana, segera menyusulnya.


"Nanti di sambung lagi ngobrolnya," kata Jefri.


*


*


*


"Luna, bisa tolong antarkan map ini ke Pak Bayu," suruh Arfi.


Luna mengangguk. "Baik, Mba." Luna menerima map tersebut dan membawanya ke Bayu.


Luna sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Bayu. Tiba-tiba Luna gugup. Lelaki yang akan Luna temui adalah lelaki yang tidak banyak bicara, apalagi Bayu selalu menunjukkan sikap ketidaksukaannya.


Setelah menarik napas dalam-dalam, Luna mengetuk pintunya. Dan terdengar sahutan dari dalam.


Luma membuka pintunya dan sedikit menundukkan kepalanya.


"Permisi Pak. Saya mau menyerahkan ini," ujar Luna, sambil menyerahkan map tersebut.


"Simpan saja di meja," ucapnya tanpa membalas tatapan Luna.


Luna pun meletakkan map tersebut di meja, dan tanpa di sengaja Luna menyenggol gelas di sampingnya, dan tumpahan airnya mengenai celananya.


Ups ... Luna memejamkan matanya. Ia merutuki kecerobohannya yang menyenggol gelas. Siap-siap saja kena sembur kemarahan Bayu.


Bayu refleks berdiri sambil mengibaskan celananya. Melihat celana Bayu basah, tanpa pikir panjang Luna mengeringkan celana Bayu.


"Kalian sedang apa?"

__ADS_1


__ADS_2