Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 8 ~ Bayu sangat murka


__ADS_3

Luna mengerutkan keningnya melihat Bayu yang tengah menatapnya. Luna mengingat-ingat dimana ia melihat Bayu. Semenit kemudian Luna teringat dengan lelaki yang berdiri beberapa meter darinya.


Bibir Luna melengkung membentuk senyuman. Matanya berbinar senang, lelaki yang semalam menolongnya ada disini.


"Kamu, ngapain ada disini?" Bayu bertanya dengan suara yang sangat dingin.


Senyum Luna langsung memudar. Pasti lelaki itu salah paham terhadapnya. Pikir Luna.


Luna harus menjelaskan semua yang terjadi semalam. Agar lelaki yang tengah menatap dingin padanya tidak lagi salah paham dan Luna tidak dianggap perempuan yang tak benar.


"Kakak kenal sama cewek itu?" Tanya Vano.


"Nggak," jawab Bayu singkat.


Vano mengerutkan keningnya. Bayu bilang tidak kenal, tapi Vano melihat kalau Bayu seperti mengenal si gadis penyusup.


"Mm... Aku... Bisa jelasin," jawab Luna.


"Mau jelasin apa lagi! Jelas-jelas kamu bercumbu dengan si brengsek tua itu," sengak Bayu menatap Luna rendah dan jijik.


Bayu tak menyangka kalau perempuan yang semalam bersama papa tiri nya ada di rumahnya. Dan pastinya, Bayu bertanya-tanya di dalam hatinya. Bagaimana bisa perempuan itu ada di rumahnya.


Masih jelas terpatri di dalam kepalanya. Bagaimana papa tiri nya itu mencumbui perempuan itu.


"Bercumbu?" Cicit Vano bingung.


"Bayu, kamu lagi ngomongin apaan sih?" Kali ini mama Aida yang bertanya. Mama Aida tidak mengerti maksud perkataan Bayu.


"Mama tau nggak, siapa perempuan itu." Tunjuk Bayu ke arah Luna.


"Kenapa memangnya dengan Luna?" Mama Aida kembali bertanya.

__ADS_1


Bayu menghela napasnya, sambil menatap nyalang wajah Luna. "Dia itu... Perempuan yang semalam bersama papa di hotel," terang Bayu.


Bayu harus mengatakannya, siapa perempuan itu dan membuat ibunya sadar, agar tidak mencintai papa tiri nya lagi. Dan menunjukkan seperti apa kelakuan Pak Ariawan di belakang ibunya. Bayu tidak peduli lagi dengan kondisi ibunya, berharap dengan ini semua ibunya tidak lagi mengharapkan lelaki brengsek itu.


Bayu yakin, kalau Luna berusaha menyingkirkan ibunya dari hidup papa tirinya.


"Perempuan itu tengah berduaan sama papa di hotel semalam," sambung Bayu.


"Luna... Apa benar yang dikatakan Bayu?" Mama Aida bertanya kepada Luna.


Luna mengangguk pelan. "Semalam aku kan sudah cerita ke Tante. Kalau aku ini dijual sama suamiku," jawab Luna sendu.


Mama Aida mengusap wajahnya. Ia tak menyangka kalau yang membeli Luna adalah suaminya sendiri. Rasanya sangat sakit hatinya.


Tiba-tiba dadanya mama Aida terasa sesak dan mama Aida memegangi dadanya.


"Ma...." Panik Vano, melihat mama nya sesak nafas.


"Kak... Bawa mama ke rumah sakit," ucap Vano cemas.


Vano segera membawa Mama Aida ke kamar. Sementara Luna, menundukkan kepalanya. Sama, Luna juga tidak menyangka kalau orang yang membelinya semalam ternyata suami dari mama Aida.


'Ah sial! Ini semua gara-gara Dimas. Andai Dimas tidak menjual ku, mungkin kesalahpahaman ini tidak pernah terjadi.' Maki Luna di dalam hatinya.


Ada rasa tak enak di hati Luna terhadap mama Aida. Walau sebenarnya ia juga korban dari keegoisan Dimas.


Setelah mama Aida pergi, Bayu langsung mencengkram tangan Luna. Sampai-sampai Luna meringis.


"Puas kamu! Sudah buat mama ku bertambah sakit," sengak Bayu penuh emosi.


Luna jelas menggeleng. Mana ada ia puas melihat mama Aida sakit, justru yang ada ia mengkhawatirkannya. Apalagi mama Aida sudah sangat baik terhadapnya.

__ADS_1


Kemudian Bayu menarik Luna. Membawa Luna ke luar rumah.


Bayu menghempaskan tubuh luna ke luar rumahnya dengan kasar.


"Pergi kamu dari sini." Usir Bayu.


Bayu tidak ingin Luna menjadi duri di rumahnya. Bayu yakini kalau Luna pasti punya niat jahat kepada ibunya.


Bayu langsung menutup pintunya. Sedangkan Luna menatap nanar pintu tersebut.


"Sekarang aku harus pergi kemana?" Lirih Luna. Kemudian, Luna beranjak dari sana.


Luna meninggalkan rumah tersebut. Sebelum melangkah lebih jauh, Luna kembali melihat rumah mama Aida dengan tatapan sendu. Kini Luna tidak tahu harus kemana, ia tak punya saudara di kota ini.


***


Mama Aida yang merasa sudah lebih baik, kini tengah duduk ditemani Vano.


Walau hatinya masih sakit, tapi mama Aida tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Ia harus tegar setelah mengetahui kalau suaminya ternyata sering jajan diluaran sana.


"Minum dulu, ma," kata vano sambil menyorongkan segelas air.


Mama Aida meminumnya sampai setengah gelas.


Bayu masuk untuk melihat keadaan sang ibu. Jujur Bayu sangat mencemaskan nya. Bayu duduk di tepi ranjang, lalu meraih tangan sang ibu.


"Apa masih sakit?" Tanya Bayu.


"Sudah agak mendingan," jawabnya.


"Bagaimana kalau ke rumah sakit saja."

__ADS_1


Mama Aida menggelengkan kepalanya. "Nggak perlu. Sekarang saja sudah mendingan."


"Baiklah. Sekarang mama istirahat saja," suruh Bayu. Kemudian menarik selimut dan menyelimutinya.


__ADS_2