Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 46 ~ Mau fokus kuliah dulu


__ADS_3

Beberapa bulan sudah berlalu. Luna kini tengah menatap selembar kertas bertulis AKTA CERAI. Akhirnya kini ia menyandang gelar janda muda.


Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya menjadi seorang janda di usianya yang masih sangat muda. Hidup memang tidak ada yang tahu seperti apa kedepannya. Meski begitu Luna terus mengejar mimpinya sebagai seorang sarjana. Mewujudkan keinginan almarhum kedua orang tuanya.


Luna meletakkan akta cerainya dan menatap layar ponselnya yang terus berdering. Siapa lagi kalau bukan Vano yang menelponnya.


"Ada apa?" jawab Luna.


"Lama bener ngangkat telponnya," gerutu Vano. "Kamu sudah pulang kuliah?"


"Sudah. Kenapa memangnya?"


"Mama nanyain kamu terus. Katanya kamu kapan datang kesini."


"Belum tahu. Aku masih sibuk dengan kuliah ku. Akhir-akhir ini tugas ku lagi banyak," jawab Luna, yang memang benar adanya kalau ia sibuk dengan tugas kuliahnya.


"Oh ... Tapi kalau mama datang ke sana boleh dong."


Entah itu alasan Vano atau memang benar mama Aida ingin datang menemuinya.


"Boleh aja. Aku sih gak ngelarang, aku juga kangen sama Tante Aida."


"Kalau sama aku kangen gak?" balas Vano.


"B aja," jawab Luna.


Vano berdecih mendengarnya. Padahal Vano yakin kalau Luna sebenarnya juga merindukan nya.


"Oh, gitu ya ... Awas nanti kalau ketemu," sungut Vano. "Aku seret kamu ke penghulu."


Luna tertawa mendengarnya.


"Saat itu juga aku bakal kabur," sahutnya, masih dengan tawanya.


"Sebelum kamu kabur, aku sudah mengikat kamu."


Luna terkekeh kecil mendengarnya.

__ADS_1


"Sudah ya, nanti sambung lagi. Aku mau mandi," ujar Luna.


"Ya ...."


Luna tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya, sambil menatap layar ponselnya yang sudah mati.


*


*


*


*


*


Sore itu Luna yang baru pulang kuliah dikejutkan dengan kedatangan mama Aida dan Vano. Meski sudah tahu kalau mau datang ke rumah, namun Luna tidak mengetahui kapan pastinya mama Aida dan Vano datang.


"Tante ...," Cicit Luna. Segera, Luna menyalami tangan mama Aida.


"Gimana kabar kamu?" tanya mama Aida.


"Baik, Tan." Balas Luna. Lalu mama Aida melerai pelukannya dan mengelus kepala Luna dengan sayang.


"E'hem ...." Vano berdehem. "Apa kamu tidak mau menyapaku?"


Luna memutarkan bola matanya mendengar ucapan Vano.


"Hai ...," sapa Luna singkat.


Vano mencibirnya, lalu Vano menarik Luna duduk di sampingnya.


"Sama pacar cuman bilang hai." Sungut Vano. Namun, Luna mengabaikan perkataan Vano dan memilih bertanya kepada mama Aida dan hal itu membuat Vano mendengus.


"Tante kapan datangnya?"


"Tadi siang," jawab mama Aida.

__ADS_1


"Oh ...."


Setelah berbincang-bincang sebentar, Luna kemudian izin untuk membersihkan diri.


Kedatangan mama Aida dan Vano punya maksud tujuan lain. Selain untuk melepaskan rasa rindunya dengan Luna, mama Aida akan meminta Luna untuk menikah dengan Vano. Mama Aida yang memang sudah terlanjur sayang dengan Luna menginginkan Luna menjadi menantunya.


Lalu bagaimana dengan nasib Bayu. Lelaki tampan itu hanya bisa pasrah, membiarkan adik kesayangannya bahagia dengan perempuan yang sebenarnya ia sukai. Biarlah rasa yang ia miliki terhadap Luna tersimpan rapat di lubuk hatinya. Mungkin Luna memang bukan jodohnya.


Selesai makan malam, semuanya sudah kumpul di ruang tamu.


"Sebenarnya kedatangan kami ingin melamar Luna," ucap mama Aida kepada Bramantyo dan Hanum.


Bramantyo, Hanum maupun Luna terkejut mendengarnya, pasalnya Vano gak ada omongan saat telpon kemarin.


"Kalau saya terserah Luna. Saya tidak ingin memaksa Luna, karena yang akan menjalaninya Luna sendiri." Kata Bramantyo. Kali ini Bramantyo tidak akan ikut campur dengan keputusan Luna. Apa pun keputusan yang diambil Luna, maka itu yang terbaik bagi Luna.


Bramantyo juga tidak ingin, pernikahan kali keduanya nanti berakhir sama dengan pernikahan sebelumnya. Maka dari itu Bramantyo tidak ingin mendesak Luna ataupun memaksanya.


Kini semua menatap ke arah Luna dan menunggu jawaban darinya.


"Luna, apa kamu mau kan nikah sama aku?" tanya Vano.


Sebelum menjawab Luna menarik napasnya, kemudian ia menatap wajah Vano.


"Maaf ... Untuk saat ini aku tidak bisa. Bukannya aku gak mau, tapi aku mengutamakan kuliah ku dulu." Tolak Luna halus, ia tidak bisa memaksa Luna, walau kecewa. Vano pikir Luna akan berubah pikiran, tapi ternyata Luna tetap dengan pendiriannya.


"Kamu bisa tetap lanjut kuliah, walau nikah sama Vano." Kata mama Aida.


Meski mama Aida berkata demikian, hati tetap dengan pendiriannya. Kalau pun mau menikah dengannya, maka Vano harus menunggunya sampai lulus kuliah. Itu pun kalau Vano mau bersabar menunggu.


"Maaf Tante, untuk saat ini aku belum siap untuk nikah lagi. Bukannya aku tidak mau menikah dengan Vano, tapi aku ingin fokus kuliah dulu tanpa adanya ikatan pernikahan." Lagi, Luna menolaknya dengan halus.


Vano mendesah panjang.


"Ya sudah gak apa-apa, aku gak akan memaksa kamu." Mengalah demi kebaikan Luna.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2