Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 26 ~ Berani kamu datang kesini !


__ADS_3

Rasa letih setelah seharian bekerja, membuat seorang Bayu ingin secepatnya pulang. Sesampainya nanti di rumah, ia ingin langsung berendam air hangat. Pasti tubuh dan otaknya kembali fresh.


Baru saja sampai rumah, Bayu dikejutkan dengan adanya mobil papanya yang sudah terparkir rapi di carport.


"Mobil papa...." Seketika Bayu teringat dengan Luna dan Bayu curiga dengan kedatangan papanya ke rumah. Pasti papa itu punya niatan lain.


Dengan langkah cepat, Bayu memasuki rumah dan langsung menuju ke kamar Luna. Dan benar dugaannya, papanya itu tengah memaksa buka pintu kamar Luna, dan pastinya Luna berteriak meminta tolong.


"Tolong...!"


Tangan Bayu terkepal penuh emosi dan tanpa buang waktu, Bayu segera menarik pakaian Pak Ariawan dan memukulnya di bagian rahangnya.


Bugh....


Pak Ariawan tersungkur ke meja dan mengakibatkan Gucci kesayangan mama Aida pecah.


Vano yang baru selesai memakai baju, langsung keluar dari kamarnya. Vano mendengar teriakkan Luna meminta tolong. Pikiran buruk seketika menyelimutinya.


"Papa...." Gumam Vano terkejut. Pantas saja Luna berteriak meminta tolong. Rupanya papa tirinya itu masih menginginkan Luna.


Vano secepatnya ke kamar Luna, Vano takut kalau Luna sampai diapa-apain.


"Luna, kamu nggak apa-apa?" Tanya Vano, sambil memegangi bahu Luna. Yang saat itu Luna terduduk di lantai dengan wajah ketakutan.


"Aku nggak apa-apa, tapi papa kamu..." Luna masih takut, tapi untungnya Bayu datang tepat waktu.


"Sstt ... Jangan di teruskan. Tetaplah di kamar dan kunci pintunya. Jangan keluar jika aku belum berhasil mengusir si brengsek itu," ucap Vano. Luna mengangguk dan menuruti perkataan Vano.


Bayu masih memukul Pak Ariawan. Darahnya mendidih membakar emosinya.

__ADS_1


"Berani papa datang ke rumah ini!" Murka Bayu, dengan napasnya yang memburu. Menatap bengis Pak Ariawan.


Bukannya takut, Pak Ariawan tertawa sarkas. "Tentu saja papa akan pulang. Apa kamu lupa atau pura-pura amnesia kalau papa ini suami mama kamu."


"Cih ... Suami mama? Suami apaan! Anda tuh tidak pantas disebut suami," timpal Vano geram.


Pak Ariawan menggeleng-geleng sambil tersenyum.


"Terserah apa kata kamu," ucapnya tak peduli. "Mau mengatakan tidak pantas atau apalah," sambungnya sambil berlalu dari sana.


"Eh, mau kemana anda!" Vano secepatnya menahan Pak Ariawan.


"Mau menemui istriku," ucap Pak Ariawan santai.


Tepat saat itu juga, mama Aida datang di temani Mba Yuni. Mama Aida mendengus melihat suaminya pulang. Rasa sakit di hatinya masih mama Aida rasakan. Dan lihatlah, tanpa punya rasa malu suaminya pulang.


Mama Aida menatap dingin wajah suaminya itu. Rasa cinta yang dulu begitu sangat-sangat menggebu, kini rasa cinta itu hilang. Hatinya sudah mati rasa.


Memang sudah seharusnya rasa cinta itu hilang dan tidak lagi mengharapkan lelaki yang sudah menggoreskan luka di hatinya.


"Masih berani kamu pulang," ucap mama Aida dingin.


"Tentu saja aku berani pulang, karena kamu masih istriku," jawab Pak Ariawan.


"Aku bukan lagi istrimu." Mama Aida menekan setiap ucapannya. "Jadi ... Pergi kamu dari sini."


"Dan kedatangan anda tuh nggak diharapkan di rumah ini. Sonoh pergi," timpal Vano geram.


"Aku tidak akan pergi. Karena malam ini aku ingin tidur di sini," jawabnya acuh. Ia tidak peduli dengan larangan dari istri dan anak tirinya.

__ADS_1


"Dasar lelaki tidak punya malu," cibir Bayu.


Vano yang tidak ingin Luna diganggu oleh Pak Ariawan, segera mendekati papanya dan menahan tangan papanya yang akan melangkah ke kamar.


"Aku nggak akan membiarkan anda tidur di sini."


Vano langsung menyeret Pak Ariawan keluar dari rumah. Pak Ariawan yang memang malam ini ingin tidur di sini, terpaksa menendang tulang kering Vano.


"Aww ... Sialan!" Umpat Vano meringis.


"Aku kan sudah bilang! Malam ini aku mau tidur di sini." Bramantyo sekali lagi menegaskan kalau ia ingin tidur di sini.


Akan tetapi baik Vano maupun Bayu, tidak akan membiarkan Pak Ariawan tidur di sini. Vano dan Bayu mendekati Pak Ariawan dan mencekal tangan Pak Ariawan.


"Lepasin!" Pak Ariawan memberontak.


Vano dan Bayu terus saja menyeretnya hingga keluar dari rumah. Sesampainya di luar Pak Ariawan di dorong secara kasar.


Pak Ariawan mendengus penuh emosi. Sambil menatap penuh amarah Pak Ariawan menunjuk kepada kedua anak tirinya itu.


"Awas kalian! Kalian akan menyesal."


"Kami memang sudah menyesal, yaitu menyesal sudah membiarkan anda menikah dengan mama," sahut Vano.


Bayu menepuk bahu Vano dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Brengsek!" Umpat Pak Ariawan, setelah Vano dan Bayu masuk ke dalam rumah.


"Baiklah. Kali ini kalian berhasil melindungi gadis itu."

__ADS_1


__ADS_2