
"Aku pulang," ucap Luna, berusaha menampilkan wajah biasa saja. Luna tidak mau memperlihatkan kesedihannya di depan paman dan bibinya.
"Akhirnya kamu pulang juga," sahut mama Aida.
Luna terhenyak mendengar suara mama Aida menyapa gendang telinganya. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat saat bertemu pandang dengannya.
"Tante ...." Cicit Luna.
Di hatinya, Luna bertanya-tanya. Kenapa mama Aida ada di sini? Atau mama Aida juga mau mengatakan hal sama seperti Vano? Seketika hatinya terasa sangat nyeri, mengingat bagaimana Vano memutuskan dirinya.
Luna mendekati mama Aida dan menyembunyikan kesedihannya di hadapan semuanya.
Rasanya Luna ingin sekali menumpahkan air matanya di pelukan Mama Aida. Betapa sakit dan perihnya luka yang telah Vano berikan kepadanya.
"Selamat ya sayang ... Akhirnya kamu lulus kuliah juga," ujar mama Aida seraya memeluk Luna.
Luna hanya mampu menganggukkan kepalanya. Luna tidak sanggup untuk sekedar membalas ucapan mama Aida. Rasa sakit di hatinya terus menggerogoti nya.
Luna mempererat pelukannya. Ia tidak ingin melepaskan pelukan hangat mama Aida dan walau sudah berusaha tidak menangis, tapi air mata itu lolos juga. Luna menggigit bibir bawahnya agar suara Isak tangisnya tidak keluar.
Tahu kalau Luna sedang menangis, mama Aida mengelus punggung Luna lembut. Membiarkannya menumpahkan kesediaannya, walau ia tidak tahu apa yang membuat Luna sedih.
Sebelum melepaskan pelukannya, Luna menarik napasnya dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Tidak lupa Luna menyeka air matanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya mama Aida dan Luna hanya mengangguk saja. Untuk mengatakan iya rasanya sangat sulit, saking sakitnya hatinya yang terluka.
"Terus Vano nya mana? Bukannya tadi kalian pergi," sambungnya lagi.
__ADS_1
Luna terdiam dan menundukkan kepalanya. Lagi-lagi Luna terngiang dengan kata putus dari mulut lelaki yang sudah menyakitinya.
"Aku disini," seloroh Vano yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu.
Untuk saat ini Luna tidak ingin mendengar suara lelaki yang sudah menorehkan luka dihatinya. Apalagi bersitatap dengan Vano.
Vano melangkah mendekati mama Aida dan duduk di sampingnya. Luna langsung membuang muka ketika Vano duduk di dekat ibunya. Luna langsung bangun dari samping mama Aida dan memilih menghindari tatapan Vano.
Walau berusaha untuk tidak melihatnya, tapi kedua bola matanya ternyata susah di ajak kompromi. Dan lihatlah lelaki yang beberapa menit yang lalu melukainya, kini menyunggingkan senyuman tanpa rasa berdosa.
"Kamu mau kemana, Luna?" Bramantyo menahannya.
"Mau ke kamar," jawab Luna.
"Duduk dulu. Ada sesuatu yang ingin Tante sampaikan sama keluarga kamu," timpal mama Aida.
"Luna duduk." Perintah Bramantyo.
Terpaksa ia menurutinya dan duduk di dekat sang bibi, Hanum. Sebisa mungkin Luna menghindari tatapan dengan Vano. Lalu tidak lama Bayu datang dengan seorang wanita cantik. Apa itu pacarnya atau bukan, Luna tidak tahu.
"Permisi. Maaf kami telat," ucap Bayu.
"Gak telat kok," sahut mama Aida, lalu Bayu dan wanita itu ikut bergabung dengan semuanya.
"Kayaknya sudah lengkap semua," ujar mama Aida lagi. "Saya langsung saja ke intinya."
Semuanya terdiam dan mendengarkan apa yang akan disampaikan mama Aida.
__ADS_1
Jujur saja Luna ingin menghilang dari sana. Luna tidak siap untuk kedua kalinya mendengar kata yang akan menambah goresan luka hatinya.
"Seperti yang saya katakan tadi, Pak Tyo. Maksud kedatangan kami ingin melamar Luna untuk putra saya, Vano."
Luna terhenyak mendengar perkataan mama Aida. Melamarnya? Vano ngelamar dirinya? Tapi kenapa Vano tidak menolaknya? Apa Vano terpaksa menuruti keinginan mama Aida?
Luna sungguh tak mengerti dengan Vano. Bukannya Vano sudah tidak cinta lagi dengannya?
"Bagaimana Luna, apa kamu terima lamaran vano?" tanya Bramantyo.
Mengingat Vano mutusin dirinya dan sudah mengkhianati cintanya, jelas Luna sudah punya jawabannya tanpa harus memikirkan 2 kali.
"Aku meno--." Perkataan Luna langsung dipotong oleh Vano.
"Sebelum kamu jawab, aku mau menunjukkan sesuatu sama kamu. Ikut aku keluar." Pintanya sedikit memaksa.
"Aku gak mau!" Tolak Luna.
Mau nunjukin apa lagi. Sudah jelas kalau dia sudah mutusin dirinya atau jangan bilang kalau Vano akan mengancamnya agar Luna bersedia menikah dengannya, hanya demi kebahagiaan mama Aida.
"Sana ikutin Vano." Suruh sang paman.
Luna berdecih di dalam hatinya. Sungguh Luna tidak mau ikut keluar dengan Vano. Tapi ia bisa apa, menolak pun rasanya percuma. Pasti pamannya tetap memaksanya keluar.
Dengan berat hati Luna bangun dan mengikuti Vano keluar dari rumah.
Apa pun ancaman mu, aku akan tetap menolak kamu. Aku gak mau diperlakukan seenaknya sama kamu. Sudah cukup kamu melukai hatiku.
__ADS_1