Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 48 ~ Putus


__ADS_3

Di tempat itu Luna dan Vano merayakan hari kelulusan Luna. Kehangatan yang Vano berikan membuat hati Luna semakin berdesir.


Tak pernah terbayangkan olehnya, kalau Vano tetap setia terhadapnya. Bahkan Vano bersabar menunggunya menyelesaikan kuliahnya.


Senang dan bahagia memiliki seorang kekasih seperti Vano. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalin hubungan LDR. Orang ketiga pasti selalu hadir di antara mereka, terutama Vano. Pasti banyak para gadis yang menginginkan Vano sebagai pacarnya, namun Vano selalu mengabaikan perempuan yang datang menawarkan cintanya.


Semoga saja Vano menjaga cintanya untuk Luna. Andai Vano sampai mengkhianatinya, entah sesakit apa hatinya Luna.


Sambil makan kedua insan itu terus menatap mesra wajah sang kekasih. Senyum terus membingkai wajahnya keduanya. Betapa senangnya menghabiskan waktu kebersamaan ini. Rasanya Luna tak rela mengentikan kebersamaan ini, mengingat mereka berdua jarang sekali bertemu.


"Luna, aku bicara hal serius sama kamu," ucap Vano yang tiba-tiba berubah serius.


Ah ... Hati Luna tengah menjerit keras. Pasti Vano akan melamarnya, sesuai janjinya waktu itu. Bisa di bayangkan, hati Luna tengah dilingkupi kupu-kupu yang berterbangan. Wajahnya kini memancarkan rona merah di pipinya.


"Maaf ... Aku tidak bisa menunda lagi. Sebenarnya sudah sangat lama ingin aku bicarakan hal ini sama kamu. Kalau sebenarnya ...." Vano menggantungkan ucapnya dan menatap sendu wajah Luna. Ada rasa bersalah saat mengatakan ini, tapi Vano harus mengungkapkan semuanya.


Melihat perubahan wajah Vano, membuat hatinya terasa tak karuan. Takut kalau Vano akan mengatakan yang tidak Luna harapkan.


"Soal apa?" tanya Luna gelisah dan takut. Kalau boleh jujur Luna tidak ingin mendengar ucapan Vano selanjutnya. Belum berbicara saja sudah membuat hatinya perih.


"Ini soal hubungan kita." Vano menjeda ucapannya, lalu menarik tangan Luna untuk digenggam. "Maaf ... Aku tidak bisa melanjutkan lagi hubungan kita," ucap Vano lirih.


Bagai tersambar petir di siang bolong, Luna termangu mendengar pengakuan Vano.


Apa maksudnya? Gak mungkin kan Vano memutuskannya begitu saja. Apa alasannya? Bukannya dia sendiri berjanji kalau akan menunggunya, tapi kenapa sekarang tiba-tiba memutuskannya. Apa mungkin Vano punya pacar lagi? Kalau iya, kenapa tidak ngomong dari dulu. Kenapa harus ngomongnya sekarang?

__ADS_1


"Jadi kamu mutusin aku," cicit Luna lirih.


"Iya ... Maaf."


Detik berikutnya air matanya lolos. Luna tidak bisa membendung kesedihannya. Baru saja terciptanya kebahagiaan untuknya, tapi kini dengan cepatnya berganti dengan kesedihan.


Vano, lelaki yang katanya akan menunggunya, kini memutusinnya begitu saja. Lalu buat apa dia berjanji, walau akhirnya menyakiti hatinya.


"Apa alasan kamu mutusin aku?" tanya Luna. Setidaknya ia harus tahu alasannya.


"Jika aku mengatakan alasannya. Apa kamu sanggup mendengarnya?"


"Setidaknya aku tahu alasannya."


Semakin tersayat saja hati Luna. Betapa perihnya luka yang baru saja Vano torehkan. Dengan mudahnya Vano mengatakan alasannya.


Luna menyeka air matanya, yang sialnya semakin deras berdesakan keluar.


"Seharusnya kamu gak usah umbar-umbar janji, kalau ujungnya bakal nyakitin aku." Suaranya terasa tercekat di tenggorokan saat mengatakannya.


"Maaf ... Aku sungguh minta maaf," ucap Vano penuh sesal. "Tapi mau gimana lagi, aku sudah berusaha terus mempertahankan kamu di hatiku, tapi ternyata gak bisa."


Tak sanggup lagi menahan rasa sakit. Luna langsung bangkit dan melangkah keluar meninggalkan Vano.


Vano mengusap wajahnya melihat Luna pergi, Vano segera menyusulnya keluar.

__ADS_1


"Aku akan antar kamu pulang," ucap Vano menahan tangan Luna.


"Aku mau pulang sendiri," balas Luna, seraya menyingkirkan tangan Vano.


"Tidak bisa. Kamu datang kesini bersamaku, maka kamu juga pulangnya bersamaku." Paksa Vano.


Luna mendengus, tapi ia tak punya pilihan. Sebab di daerah ini tidak ada kendaraan umum.


Vano segera membawa Luna ke mobilnya dan meninggalkan restoran tersebut.


Sepanjang perjalanan, Luna berusaha menahan air matanya, meski air matanya terus saja keluar tanpa bisa dicegah. Dan lihatlah lelaki yang duduk di sampingnya. Tak sedikitpun dia meliriknya, membuat hatinya semakin perih.


Kini mereka berdua sudah sampai di depan rumah Bramantyo. Luna menarik napasnya dalam-dalam demi memenuhi kebutuhan oksigennya. Luna juga berusaha mengurai rasa sesak di dadanya yang terasa menghimpit.


Luna segera membuka pintu mobilnya, namun Vano mencegahnya.


"Luna ... Sebelum keluar, aku sungguh minta maaf karena sudah melukai hatimu."


Akan tetapi, perkataan Vano tak dihiraukan olehnya dan memilih keluar dari mobil.


Tega. Hanya kata itu yang pantas Luna katakan kepada Vano. Demi cinta yang baru, Vano tega mutusin dirinya.


Sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah. Luna menghela napas panjang. Setelah itu Luna melangkah masuk ke dalam rumah.


"Aku pulang," ucap Luna.

__ADS_1


__ADS_2