
Melihat Bu Tari masuk ke mobil yang Luna yakini itu bukan mobil Pak Andi, membuat hati Luna sedikit bertanya-tanya.
Siapa orang yang ditemui Bu Tari?
Walau penasaran, Luna tidak ingin terlalu kepo dengan kehidupan orang lain.
Luna terus memperhatikan mobil tersebut dan kebetulan mobil itu melintas di depan Luna dengan kaca mobilnya di turunkan. Semakin mengerutkan keningnya melihat siapa orang yang bersama Bu tari. Seorang lelaki yang mungkin seumuran dengan Pak Andi.
Luna tidak tahu siapa lelaki itu. Meski penasaran, Luna tidak ingin mengetahui hubungan apa antara Bu Tari dengan lelaki itu.
"Kita pulang yuk," ajak Asti. Pasalnya cuaca siang ini begitu terik.
"Ayo," sahut Luna.
Mereka berdua pergi dari sana dan melangkah pulang.
***
Di tempat yang berbeda, Vano tengah menatap pemandangan ibu kota di siang hari. Ia yang saat ini berada di kantornya, menatap kosong keluar jendela.
Vano masih terpaku dengan perasaannya terhadap Luna. Sudah beberapa hari ini, dirinya tidak menelpon Luna dan sebaliknya, Luna juga tidak menelponnya. Padahal Vano sangat merindukan gadis itu.
"Kamu sedang apa sekarang?" Gumam Vano. "Apa kamu tidak merindukan aku."
Saat sedang memikirkan Luna, sekretarisnya datang untuk memberitahu kalau sebentar lagi meeting.
"Pak, ditunggu di ruang meeting."
"Iya," sahut Vano. Kemudian Vano bersiap-siap pergi ke ruang meeting.
Selama meeting pikiran Vano terus tertuju kepada Luna. Walau raganya ada di kantor, tapi hati dan pikirannya di tempat lain.
Suara dering ponsel miliknya membuyarkan lamunannya dan semua orang menatapnya.
"Maaf, saya angkat telpon dulu," ucap Vano, lalu beranjak pergi meninggalkan ruang meeting.
"Halo, bang. Ada apa?" tanya Vano kepada Bayu.
"Van, Dimas melarikan diri dari penjara," ucap Bayu.
Sontak saja, Vano terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa lelaki itu bisa melarikan diri dari penjara? Apa saja yang dilakukan para polisi, sampai kecolongan begitu.
"Apa? Kok bisa?!" sahut Vano kaget bercampur marah.
"Aku belum tahu bagaimana Dimas bisa melarikan diri. Sekarang aku lagi menuju ke kantor polisi," ujar Bayu yang saat ini sambil menyetir mobil.
"Terima kasih infonya, bang. Tolong kabarin aku kalau ada kabar terbaru."
__ADS_1
Bayu mematikan telponnya sepihak. Sementara itu Vano mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa bisa lalai begitu sih!" Gerutu Vano kepada para polisi.
Vano langsung teringat dengan Luna.
"Luna. Aku harus segera kasih tahu Luna."
Vano segera menelpon Luna, tapi sayang telponnya tidak diangkat-angkat. Membuat Vano semakin frustasi. Takut kalau Dimas menemui Luna dan mencelakai Luna.
Vano tak bisa membayangkan, bagaimana Luna menghadapi Dimas seorang diri, walau di sana ada keluarganya. Meski begitu, Vano tetap tidak bisa tenang. Ia yakin kalau Dimas akan melukai Luna lebih dari kemarin.
***
Bayu segera memasuki kantor polisi. Ia harus menanyakan bagaimana bisa Dimas kabur dari tahanan polisi.
"Permisi, Pak. Saya Bayu Setianto. Saya mau bertemu dengan Pak ...."
"Pak Bayu." Perkataan Bayu terpotong dengan seseorang yang memanggilnya.
"Iya, betul," jawab Bayu.
"Mari Pak ikut saya."
Bayu mengangguk dan mengikuti langkah orang yang memanggilnya.
"Silahkan duduk, Pak," titahnya.
"Sekarang jelaskan. Bagaimana bisa Dimas melarikan diri?" tanya Bayu sedikit menahan rasa marah.
"Saya minta maaf dengan kelalaian kami. Saya juga tidak menduga kalau Dimas berhasil melarikan diri saat akan dipindahkan ke lapas. Tapi Pak Bayu tenang saja, dalam waktu 24 jam Dimas pasti akan ketangkap lagi."
"Harus!" Tegas Bayu. "Saya tidak mau tahu, Dimas secepatnya harus tertangkap. Karena bisa saja dia mencelakai Luna dan saya tidak mau itu sampai terjadi," ucap Bayu penuh penekanan.
"Baik, Pak. Akan kami pastikan Dimas tertangkap lagi," sahut Pak Rahmat yakin.
***
Di kampung, Luna dan Silfa tengah menghadiri acara pernikahan tetangganya yang akan diselenggarakan besok. Keduanya tampak sibuk membantu membuat lemper.
Indahnya kalau tinggal di kampung, para tetangga akan saling bahu-membahu menyiapkan berbagai macam makanan.
"Luna, apa benar kalau Dimas menjual kamu ke lelaki hidung belang?" tanya salah satu ibu-ibu yang mengenakan daster batik berwarna ungu.
Beberapa detik Luna terdiam mendengar perkataan ibu itu. Luna tak tahu harus menjawab apa.
Melihat air muka Luna berubah keruh, si ibu menyentuh tangan Luna.
__ADS_1
"Tak perlu di jawab. Ibu ngerti perasaan kamu. Pasti sangat menyakitkan buat kamu," ujar si ibu.
Luna mengangguk kecil.
Ya, memang benar hatinya sangat sakit dengan apa yang sudah dilakukan Dimas. Tapi beruntungnya sekarang ini Dimas sudah di jebloskan ke penjara.
Waktu pun semakin malam, Luna dan Silfa pamit pulang.
"Luna, kita cari bakso yuk. Kayaknya enak makan bakso mang Sobri." Kata Silfa.
"Boleh," jawab Luna. Lalu mereka berdua segera menuju ke warung bakso mang Sobri yang letaknya tidak terlalu jauh, mungkin sekitar sepuluh menitan untuk sampai di sana.
"Mang, bakso dua." Pesan Silfa kepada mang Sobri.
"Siap neng," jawabnya.
Luna merogoh ponselnya yang sejak siang di silent. Luna terpaku melihat puluhan panggilan telpon dari Vano dan juga belasan WhatsApp darinya.
Segera Luna membuka pesan dari Vano dan betapa terkejutnya Luna saat membaca isi pesan dari Vano, kalau Dimas melarikan diri saat akan dipindahkan ke lapas.
Seketika rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya. Gelisah dan was-was bercampur menjadi satu.
"Gawat." Cicit Luna. "Bagaimana kalau Dimas sudah ada di sini?"
Luna mengedarkan pandangannya, takut kalau-kalau Dimas tengah mengintainya.
Silfa menatap heran dengan tingkah laku Luna yang terlihat tidak tenang.
"Kamu kenapa?" tanya Silfa.
Bukannya menjawab, Luna justru mengajak Silfa pulang.
"Pulang yuk. Kita makan baksonya di rumah saja," ucap Luna seraya memindai sekitarnya.
"Apa ada masalah?" Lagi, Silfa bertanya.
"Dimas, Fa ... Dimas melarikan diri dari penjara," bisik Luna.
"Apa?!" Silfa terkejut mendengarnya. "Ya udah, kita pulang saja."
Luna dan Silfa mendekati mang Sobri.
"Mang, baksonya di bungkus saja," ucap Silfa.
"Gak jadi makan disini?"
"Iya, kita mau makan di rumah saja," balas Silfa.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, Luna dan Silfa segera pulang ke rumah. Keduanya melangkah dengan cepat.
Tiba-tiba dari arah semak-semak, seseorang muncul dan menarik Luna sama Silfa. Membawa dua gadis itu ke suatu tempat.