
Luna terpaku menatap dua lelaki yang baru saja masuk. Mereka adalah Pak Andi dan Dimas. Tatapan Luna sangat tajam menatap Dimas. Berani-beraninya Dimas muncul di depan pamannya dan yang membuat Luna bertambah murka, Dimas terlihat acuh dengan tatapan pamannya yang menghunus.
Vano terus menatap Dimas. Ada rasa marah di dalam dadanya. Jika tak ada orang disini, Vano mungkin akan menerjang lelaki yang sudah menikahi Luna.
"Luna, maafkan papa," ucap Pak Andi, yang merasa bersalah dan juga malu. "Papa nggak menyangka kalau Dimas segitu jahatnya sama kamu. Maaf ... Karena Dimas, kamu...." Pak Andi tak sanggup melanjutkan ucapannya. Sangat berat baginya mengatakan dijual.
Luna diam, mulutnya terkatup rapat. Rasa sakitnya begitu dalam. Walau mertuanya itu meminta maaf ribuan kali, ia tidak akan sudi memaafkan Dimas. Apalagi Dimas sama sekali tidak merasa bersalah.
"Dimas, kenapa kamu tega menjual Luna? Apa salah Luna sama kamu!" Ucap Bramantyo dengan suara marah tertahan.
Ya ... Orang tua mana yang tak marah, jika anak gadisnya di sakiti, apalagi sampai dijual oleh lelaki yang seharusnya menjaga dan melindunginya.
Dimas memutarkan bola matanya, jengah. "Karena dia nggak pantas buat ku," jawab Dimas enteng.
"Dimas!" Bentak Pak Andi, yang tak suka Dimas berkata seperti itu. Bukannya minta maaf, tapi Dimas dengan entengnya berbicara seperti itu.
Bramantyo menggeram kesal mendengar perkataan Dimas. Termasuk Vano yang sejak tadi diam dan ingin tahu apa alasan Dimas menjual Luna, tapi mendengar jawabannya membuatnya geram. Kedua tangan Vano terkepal, darahnya mendidih, tapi Vano mencoba untuk menahan diri.
Jono juga menggelengkan kepalanya. Kalau memang tak suka, kenapa mau menikahinya. Begitu isi kepalanya.
"Apa sih, pa! Bukannya papa yang maksa aku nikahin si Luna. Jadi jangan salahkan aku dong, jika aku menjual dia. Lagian si Luna memang pantas untuk dijual !" ucap Dimas tanpa perasaan.
__ADS_1
Bugh....
Sebuah pukulan mendarat di wajah Dimas. Bukan dari Pak Andi, bukan juga dari Bramantyo, apalagi Jono, tapi dari Vano. Vano tak terima Luna direndahkan. Vano sudah sangat geram dan tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Vano...!" Pekik Luna, yang tak menyangka kalau Vano akan memukul Dimas.
"Kurang ajar!" Umpat Dimas emosi. Dimas langsung berdiri dan mendorong tubuh Vano.
"Apa-apaan sih loh!" Geram Dimas dengan tatapan bengis.
"Elo tuh yang apaan! Dasar banci!" Maki Vano. Dimas yang tak terima, menarik kerah baju Vano.
"Elo yang banci!" Balas Dimas emosi.
"Lepasin!" Hardik Dimas kepada papanya.
"Oke. Papa akan lepasin, tapi jangan berantem," ujar Pak Andi.
Dimas hanya mendesis penuh kesal, lalu Dimas menatap wajah Bramantyo yang tengah menahan Vano.
"Kalian mau tahu apa alasan aku ngejual Luna!" Dimas menatap satu persatu semuanya dan berhenti di wajah Luna. "Karena aku ingin Luna merasakan penderitaan seperti Desi, pacarku. Gara-gara Raihan hidup Desi jadi hancur dan depresi."
__ADS_1
Bramantyo dan Pak Andi terhenyak mendengar ucapan Dimas.
"Memangnya apa yang dilakukan Raihan, sampai menghancurkan Desi?" Tanya Pak Andi.
Dimas semakin tajam menatap Luna. "Karena Raihan, kesucian Desi terenggut. Raihan sudah memperkosa Desi," jelas Dimas penuh amarah.
Deg.
Bramantyo terpundur mendengar pengakuan Dimas. Bramantyo menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin ... Raihan nggak mungkin seperti itu," ucap Bramantyo tak percaya.
"Memang itu kenyataannya. Raihan, yang keluarga paman banggakan sudah menghancurkan hidup Desi. Jadi jangan salahkan aku jika aku ingin membalas perbuatan Raihan."
Bramantyo berkali-kali menggelengkan kepalanya. Jujur, Bramantyo tidak percaya dengan ucapan Dimas. Raihan yang ia kenal adalah sosok lelaki yang baik. Hidupnya nggak pernah macam-macam, Raihan juga sangat menghargai perempuan. Jadi mana mungkin Raihan bisa berbuat seperti yang dituduhkan Dimas.
"Satu lagi. Aku akan secepatnya menceraikan Luna." Setelah berkata seperti itu, Dimas meninggalkan semuanya. Tidak peduli orang menganggapnya apa, yang jelas Dimas ingin melihat Luna hancur sehancur-hancurnya.
Bramantyo memeluk Luna, yang sejak tadi diam membisu. Hatinya meringis pedih.
"Luna ... Maafin papa. Papa nggak tahu kalau Dimas menyimpan dendam terhadap Raihan." Pak Andi menghela napasnya. Pantas saja Dimas menolak dijodohkan dengan Luna. Tapi, andai ia tahu lebih awal kalau Dimas punya dendam dengan Raihan, maka ia tidak akan menjodohkannya dengan Luna.
"Nanti papa akan bicara sama Dimas. Mudah-mudahan hatinya Dimas bisa luluh," sambung Pak Andi. "Sekali lagi papa minta maaf."
__ADS_1
Setelah berbicara seperti itu, Pak Andi pun pergi menyusul Dimas. Berharap ia bisa menggerakkan hatinya Dimas agar tidak membenci Luna yang tak tahu apa-apa.