
"Luna, ayo kita pulang ke kampung," ajak Bramantyo.
Luna mendesah samar. "Aku belum bisa pulang, paman. Aku di sini kerja dan baru beberapa hari keterima kerja," jawab Luna. Andai ia tidak kerja, mungkin Luna mau ikut pulang.
Selain itu, Luna sudah menandatangani kontrak kerja dan tidak bisa keluar dalam kurun waktu enam bulan.
"Tapi, Luna. Paman nggak mungkin membiarkan kamu hidup sendirian di sini. Paman juga nggak mau kalau nanti Dimas nyakitin kamu lagi."
"Paman tenang saja. Luna akan aman bersama saya," timpal Vano, meyakinkan Bramantyo.
Akan tetapi Bramantyo menggelengkan kepalanya. Ia tidak yakin kalau Vano akan menjaganya, buktinya Dimas yang notabene nya suaminya Luna dan sudah ia kenal bisa melakukan hal sekeji itu terhadap Luna, apalagi Vano yang orang baru.
"Pokoknya kamu harus ikut pulang," kekeuh Bramantyo. Selain itu juga Bramantyo tidak ingin ada hal buruk menimpa Luna. Mengingat Dimas yang sangat menginginkan Luna menderita.
Luna menjadi bingung dan tak tahu harus mengambil keputusan apa.
Luna menggenggam tangan pamannya itu.
"Aku janji akan pulang, setelah aku bicara sama bos nya aku. Karena aku sudah terlanjur menandatangani kontrak kerja," ucap Luna mencoba memberi pengertian kepada pamannya.
"Biar paman yang bicara sama bos kamu." Bramantyo tidak mau tahu.
Luna menoleh ke arah Vano dan meminta bantuan lewat sorot matanya.
"Paman, kalau Luna keluar sebelum kontrak kerjanya berakhir, maka Luna harus bayar denda," tukas Vano.
"Oya ... Memang berapa dendanya?" Tanya Bramantyo.
"Mm ... Dua puluh juta," ucap Luna asal.
"Sebanyak itu?" Bramantyo tercengang mendengar nominalnya.
Luna mengangguk.
Bramantyo menghela napasnya seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Ya sudah, mau gimana lagi," ucapnya lesu. "Tapi tolong jagain Luna," sambung Bramantyo kepada Vano.
__ADS_1
"Pasti saya akan menjaganya."
***
Setelah pergi dari rumah Jono, Dimas kini tengah menemui seseorang yang bisa menghancurkan Luna. Dengan cara ini dia bisa membalas dendam kehancuran Desi.
"Bagaimana? Anda bisa kan membantu saya," kata Dimas kepada lelaki yang duduk di balik meja kerjanya.
Lelaki itu menipiskan bibirnya. "Jaminannya apa?"
"Saya akan mengembalikan uang yang pernah anda kasih," jawab Dimas.
Lelaki itu manggut-manggut seraya mengelus dagunya yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Oke, asal kali ini jangan sampai gagal lagi," sahutnya.
"Anda tenang saja. Kali ini tidak akan gagal lagi."
Setelah berbicara demikian, Dimas pun langsung pamit. Lelaki itu tersenyum penuh seringai.
"Luna ... Sebentar lagi kamu akan jadi milikku," tukas Pak Ariawan.
"Sepertinya aku harus sering-sering pulang ke rumah," gumamnya dengan tawa jahatnya.
Pak Ariawan bergegas keluar dan segera pulang ke rumah. Ia tidak peduli jika nanti istri dan anak tirinya marah. Yang jelas malam ini, ia ingin tidur sana.
***
Luna yang baru pulang segera menemui mama Aida, yang kebetulan tengah belajar menggerakkan kakinya.
"Tan...."
Mama Aida menoleh dan tersenyum melihat Luna pulang bersama Vano.
"Tumben baru pulang?" Ucap mama Aida.
"Iya, tadi ada urusan," jawab Luna, lalu Luna duduk di dekat mama Aida. Sedangkan Vano memilih langsung ke kamarnya.
__ADS_1
"Oya, Tante mau tanya. Kata Jefri kamu kerja di kantor Bayu?"
"Iya," jawab Luna, seraya menganggukkan kepalanya.
"Bagus lah ... Setidaknya Tante tenang dan nggak khawatirin kamu."
Luna tersenyum senang mendengar perkataan mama Aida yang begitu memperdulikannya. Padahal dirinya bukanlah siapa-siapa nya mama Aida.
"Aku ke kamar dulu," pamit Luna yang langsung dianggukin oleh mama Aida.
Setelah Luna masuk ke kamarnya, mama Aida meminta tolong sama Mba Yuni membawanya ke kamarnya.
Sebuah mobil memasuki halaman rumah mama Aida. Siapa lagi kalau bukan Pak Ariawan.
Pak Ariawan segera turun dari mobil dan ia tidak melihat mobil milik Bayu.
"Bagus lah, Bayu belum pulang," gumamnya. Dan berharap kalau Bayu nggak usah pulang, agar niatnya mendekati Luna tidak di gagalkan.
Pak Ariawan segera masuk dengan senyum tipisnya. Ia melangkah ke arah kamar Luna. Kebetulan suasana di rumah itu tengah sepi, jadi kedatangannya tak ada yang tahu.
Luna yang baru selesai mandi, langsung mengambil pakaiannya di lemari.
Tok tok tok.
Ketukan pintu menghentikan gerakan Luna yang akan membuka jubah mandinya. "Siapa sih! Nggak tahu apa mau pakai baju," gerutu Luna.
Awalnya Luna mengabaikan ketukan pintu, tapi ketukan itu terus saja mengetuknya. Terpaksa Luna harus membukannya.
Luna langsung terbelalak, ketika kedua bola matanya bertemu dengan dua pasang bola milik Pak Ariawan.
"Kau...." Luna terpaku ditempatnya.
"Hai, gadis manis," ucap Pak Ariawan dengan senyum menyeringai.
Luna yang tak ingin terjadi sesuatu, langsung menutup pintunya. Tapi sayangnya, Pak Ariawan menahan pintunya.
Sekuat tenaga Luna menutup pintunya dan berteriak.
__ADS_1
"Tolong...!" Teriak Luna.
Bugh....