Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 40 ~ Pulang kampung


__ADS_3

Keputusannya untuk pulang kampung sudah benar dan ia tidak bisa terus berada tinggal bersama Vano. Meskipun keluarga ini begitu baik terhadapnya.


Bohong, rasanya kalau Luna tidak merasa berat dengan keputusannya, tapi inilah yang terbaik bagi dirinya. Luna tidak ingin terus menerus merepotkan keluarga ini, meski ia tahu Vano, mama Aida dan Bayu tidak merasa direpotkan.


Vano sudah berulang kali memohon kepada Luna, agar Luna tidak pergi meninggalkannya. Namun, usahanya menahan Luna gagal, karena Luna tetap dengan keputusannya. Berbagi cara Vano lakukan agar Luna tidak pergi darinya, namun semuanya sia-sia.


Vano menatap sendu gadis yang ia cintai. Gadis cantik yang ia pikir seorang penyusup kini mampu membuat dunianya jungkir balik. Dan sekarang gadis itu akan pergi membawa separuh hatinya.


Berkali-kali lelaki yang memiliki wajah rupawan mendesah panjang, melihat gadisnya sudah berdiri dengan pamannya. Ya, Pak Bramantyo datang menjemput Luna pulang. Sekarang ia tidak bisa lagi menahannya untuk pergi.


Vano memilih meninggalkan Luna bersama pamannya.


"Tante ... Terima kasih sudah menampungku untuk tinggal di rumah Tante," ucap Luna yang kini berjongkok dihadapan mama Aida.


Mama Aida tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Wanita yang duduk di atas kursi roda itu terus menitikkan air matanya. Ia sangat berat melepaskan Luna yang sudah dianggap sebagai anaknya.


"Maaf, kalau selama ini aku terus merepotkan keluarga Tante," sambung Luna lagi.


Mama Aida segera memeluknya erat. "Tante tidak merasa di repotkan, justru Tante senang kalau kamu tinggal disini." Mama Aida berkata dengan suara tersendat-sendat karena ia sambil menangis. "Tante pasti akan sangat merindukan kamu," ucapnya yang kini mengusap wajah Luna.


Lalu, Luna berdiri dan menatap Bayu yang berdiri di belakang kursi roda.


"Mas Bayu, terima kasih karena mas Bayu sudah berapa kali menolongku. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa."


"Dengan perasaanmu." Ucap Bayu yang tentu saja hanya di ucapkan di hatinya. Mana berani ia mengatakannya, bisa-bisa ia dijadikan perkedel sama adiknya.

__ADS_1


"Karena kamu sudah ku anggap adikku." Hanya kata itu yang bisa Bayu ucapkan. "Satu lagi. Kamu harus bisa jaga diri kamu di sana, karena aku tidak mungkin bisa menolongku lagi." Pesan Bayu.


Luna mengangguk seraya tersenyum kepada Bayu. Kemudian Luna menatap ke lantai atas, karena lelaki yang berhasil menempati posisinya di hati tidak terlihat. Vano tidak menampakkan dirinya di sana.


Ia tahu, pasti Vano enggan melihatnya lagi, setelah beberapa kali memohon memintanya terus tetap di sini. Atau mungkin juga lelaki itu marah kepadanya, tapi bagaimanapun dirinya tak mungkin terus menerus berada di sini.


Sebelum benar-benar pergi, Luna sekali lagi menoleh Ke atas, berharap Vano akan turun menemuinya. Akan tetapi sampai detik ini lelaki itu tidak terlihat. Dengan wajah mendung Luna mendekati pamannya dan sebelum pergi Pak Bramantyo mengucapkan beribu terima kasih kepada mama Aida. Setelah itu Luna dan Pak Bramantyo pergi meninggalkan rumah yang sudah menjadi tempatnya bernaung.


Vano menatap sendu kekasih hatinya di balik jendela kamarnya. Ia tidak sanggu melihat kepergian Luna dari sini. Udara di sekitarnya tak mampu membuat dadanya lega, justru semakin terasa sesak.


Berkali-kali pula Vano menghela napasnya, demi mengurai rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Maaf aku tidak sanggup melepaskan kamu pergi," lirih Vano.


Setelah hilang dari pandangannya, Vano merebahkan tubuhnya di pembaringan dan menatap sendu langit-langit kamar.


***


Seminggu sudah Luna meninggalkan keluarga Vano dan selama itu, Luna mengurusi perceraiannya dengan Dimas. Pak Andi, ayah Dimas mendatangi rumah Bramantyo.


Pak Andi menghela napasnya, kala melihat Luna. Sebagai orang tua, ia merasa gagal mendidik anaknya. Perbuatan Dimas benar-benar tidak bisa ditolerin lagi. Wajar kalau Luna menggugat cerai anaknya.


Pak Andi tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya. Hanya memuaskan hasratnya untuk membalas dendam, dia rela melakukan hal sekejam itu.


"Luna, bapak minta maaf atas kelakuan Dimas sama kamu. Bapak sangat menyesal menjodohkan kamu sama anak bapak. Andai bapak tahu kalau Dimas akan berbuat jahat sama kamu, maka bapak tidak akan membiarkan kamu menikah dengan Dimas."

__ADS_1


Penyesalan memang akan datang di akhir, tapi di balik ini semua, Pak Andi jadi tahu seperti apa anaknya itu.


"Ini bukan salah bapak. Tapi ini salah Dimas yang sengaja ingin membalas sakit hatinya sama aku."


Pak Andi tak dapat berkata-kata lagi. Dimas mungkin sudah jauh merencanakan ini semua sebelum perjodohan itu terjadi. Andai ia mengetahuinya sejak dini, mungkin semua ini tidak sampai terjadi.


"Sekali lagi bapak minta maaf, sudah membuat kamu menderita karena Dimas."


Luna hanya mengangguk saja sebagai jawabannya.


"Pak Tyo, saya juga minta maaf sebesar-besarnya. Saya harap kita tetap menjalin silaturahmi dengan baik," ujar Pak Andi.


Bramantyo tidak menjawab. Ia tak terima begitu saja dengan apa yang sudah Dimas perbuat sama keponakan tersayangnya.


Melihat Bramantyo diam saja, membuat hati Pak Andi menjadi sedih.


"Kalau gitu saya permisi dulu," pamit Pak Andi.


Selepas Pak Andi pergi, Luna pamit pergi keluar. Luna menemui temannya dan ingin meminta temannya menemaninya ke universitas yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu.


Selesai dari kampus, Luna mampir ke minimarket yang tidak jauh dari rumah. Ia ingin membeli soft drink demi mendinginkan tenggorokannya yang terasa kering.


"Kita duduk di sana yuk," ajak Luna kepada Asti.


"Ayo," jawab Asti.

__ADS_1


Saat sedang asik duduk sambil menikmati sebotol minuman dingin. Tanpa sengaja Luna melihat ibu tirinya Dimas jalan seorang diri menuju mobil yang terparkir di ujung jalan sana.


"Itu kan Bu Tari? Ngapain Bu Tari masuk ke mobil itu?"


__ADS_2