
Kurang lebih dua puluh menit untuk tiba di rumah sakit. Luna, Vano dan Bramantyo melangkah cepat ke tempat IGD. Berharap kondisi Dimas baik-baik saja dan lukanya tidak terlalu parah
"Om ...." Panggil Luna.
Pak Andi menoleh dan tersenyum senang melihat Luna datang.
"Syukurlah kamu datang. Dimas terus nanyain kamu. Kamu langsung masuk saja," ucap Pak Andi.
Luna mengangguk kecil. Sebelum masuk, Luna menarik napasnya dalam-dalam meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah itu, dengan langkah perlahan Luna memasuki ruangan tersebut. Ternyata di dalam Dimas tengah di temani oleh perempuan yang bersama Pak Andi.
Siapa perempuan itu? Luna tidak tahu. Mungkin saudara nya Dimas. Pikir Luna.
Dimas terus menatap wajah Luna. Dari sorot matanya tersirat rasa bersalah. Mungkin teramat, karena sudah berulangkali menyakitinya, bahkan hampir saja menghancurkan masa depannya.
Perempuan itu menyingkir dan memberi ruang buat Luna. Namun, Dimas menahan lengan perempuan itu.
"Tetaplah disini." Pinta Dimas.
"Baiklah ...," jawabnya mengalah.
Luna berdiri di samping ranjang dan menatap wajah Dimas.
"Luna ... Aku minta maaf." Ada gegetiran di hatinya saat mengatakan kata maaf, karena sudah terlalu dalam ia melukai Luna. Kebencian yang dulu membelenggunya kini berganti dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
__ADS_1
"Seharunya aku mencari tahu dulu semua yang terjadi di masa lalu." Dimas membuang napas berat. Rasa bersalah terus membelenggunya. "Ternyata kakakmu Raihan tidak pernah melakukan itu terhadap Desi. Justru Raihan lah yang menolongnya." Dimas menjeda ucapannya. Setetes air mata jatuh. Rasa bersalah karena menuduh sahabatnya, padahal Raihan adalah korban fitnah dari ibu sambungnya, yang mengatakan kalau Raihan lah yang merenggut kesucian Desi dan semakin kuat lagi bukti dari seseorang yang melihat Raihan tengah berduaan di tempat itu. Padahal Raihan habis nolongin Desi dari lelaki brengsek yang bernama Haikal.
"Justru yang melakukan itu adalah pacar ibu. Aku minta maaf ... Aku sungguh-sungguh minta maaf," ucap Dimas penuh sesal. Air matanya semakin deras berdesakan keluar. Andai tidak sedang sakit, Dimas akan berlutut memohon maaf terhadap Luna.
Luna terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Walau ia tahu kalau yang melakukannya adalah kekasih gelap ibu Tari.
Luna tahu betul seperti apa kakaknya itu dan tidak mungkin jika kakaknya menghancurkan hidup seseorang.
Dimas mengulurkan tangannya kepada perempuan yang berada di sampingnya, lalu menggenggam tangannya.
"Dia Desi." Kata Dimas memperkenalkan Desi kepada Luna.
Sontak saja Luna menatap perempuan itu. Dari sorot matanya, terlihat jelas kalau Desi menyimpan luka.
"Luna ... Tolong maafkan aku." Sekali lagi Dimas meminta maaf.
Entahlah ... Apa Luna bisa memaafkan Dimas begitu saja, setelah semua yang sudah dia perbuat kepadanya.
Melihat Luna tetap terdiam, membuat hati Dimas semakin dikepung rasa bersalah.
Melihat tatapan penuh penyesalan dari Dimas, akhirnya membuat hati Luna melunak.
"Aku ... Memaafkan kamu," jawabnya lirih.
__ADS_1
Sebuah senyuman terbit di bibir Dimas. Akhirnya Luna bersedia memaafkannya. Walau rasa bersalah itu masih ada, tapi setidaknya Luna sudah mau memaafkannya.
***
Desi ... Perempuan cantik ini sudah sembuh dari sakitnya. Setelah beberapa tahun Dimas berjuang untuk kesembuhan Desi. Usahanya tidak sia-sia, karena kini Desi sudah benar-benar sembuh.
Selain ingin melihat Desi kembali sembuh, Dimas juga ingin menikahi wanita yang selalu bertahta di hatinya dan tidak peduli dengan masa lalunya.
Akan tetapi, di saat Desi sembuh, justru dirinya harus mendekam di balik jeruji besi. Dan setelah mengetahui semua akar permasalahannya, kini Dimas hanya bisa menyesali perbuatannya yang ingin menghancurkan hidup Luna. Dan sekarang ia menerima semua perbuatan jahatnya.
Setelah sehari di rawat di rumah sakit. Polisi datang menangkap Dimas dan Dimas tidak sedikitpun melawannya. Ia pasrah kembali lagi ke penjara dan memang sudah seharusnya ia mendekam di penjara, walau sangat berat untuknya meninggalkan kekasih hatinya yang baru sembuh.
Jangan lupa, Bu Tari dan Haikal juga kini menjadi bagian penghuni hotel prodeo.
"Aku akan bersabar menunggu kamu bebas," ucap Desi, sebelum Dimas masuk ke dalam mobil polisi.
Setidaknya Dimas lega, karena Desi tetap setia menunggunya keluar dari penjara.
Dimas tersenyum kecil mendengar perkataan Desi. "Janji kalau kamu tetap menunggu aku bebas."
Desi mengangguk cepat.
"Jaga dirimu baik-baik. Tunggu aku bebas," ujar Dimas, lalu Dimas masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Pak Andi dan Desi terus menatap mobil yang kini sudah melenggang jauh. Walau sangat berat menerima Dimas masuk penjara, tapi Pak Andi merasa lega. Akhirnya permasalahan ini semua sudah selesai. Tinggal dirinya yang harus menceraikan istrinya yang sudah tega mengkhianatinya dan menghancurkan kebahagiaan anaknya, Dimas.