Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 19 ~ Apa benar?


__ADS_3

Luna terpaku mendengar pernyataan yang dilontarkan Dimas. Kepalanya kini dipenuhi banyak pertanyaan tentang kakaknya.


Apa benar kakaknya sudah menghancurkan seseorang?


Setahu Luna, kakaknya semasa hidup tidak pernah berbuat macam-macam, apalagi menghancurkan seorang wanita. Kakaknya itu lelaki yang sangat lembut, jadi mana mungkin kakaknya setega itu menghancurkan hidup seorang wanita. Tapi apa yang barusan di dengarnya atau mungkin Dimas memang sengaja mengkambing hitamkan nama kakaknya hanya sebagai alasannya saja.


"Kenapa kamu diam!" Ucap Dimas sarkas..


"Aku yakin kakak ku tidak seperti yang kamu tuduhkan," sergah Luna, tak percaya begitu saja dengan ucapan Dimas.


"Karena kamu nggak tahu apa yang terjadi," ucap Dimas menatapnya penuh emosi.


"Mana buktinya jika kakak ku menghancurkan wanita itu?"


Dimas sangat kesal dengan ucapan Luna. Masih ingat di benaknya bagaimana orang yang dicintainya begitu hancur dan menyedihkan.


Flashback.


Desi namanya. Gadis itu adalah kekasih hatinya Dimas. Sore itu, Desi yang menelponnya dan mengatakan kalau ia sebentar lagi pulang.


Sudah menjadi kebiasaannya, Dimas pasti akan menjemputnya. Di perjalanan Dimas mengalami kecelakaan, walau tidak sampai membuatnya terluka parah.


Desi masih setia menunggu Dimas menjemputnya, tapi sampai menjelang malam Dimas tak kunjung datang. Dimas juga tidak mengabarinya. Desi juga sudah beberapa kali menelpon Dimas, tapi telponnya tidak aktif terus. Akhirnya Desi memutuskan untuk pulang saja.


Desi pulang menggunakan angkutan umum. Setelah turun dari angkot, Desi harus berjalan kaki ke rumahnya dan tanpa di duga, seseorang menarik Desi. Orang itu tak lain adalah Raihan, kakaknya Luna.


Raihan membawa Desi ke sebuah rumah kosong dan mulutnya di bekap , agar orang-orang tidak ada yang tahu. Disitulah Raihan merenggut kesucian Desi.


Sejak saat itu Desi menjadi depresi dan siapapun lelaki yang mendekatinya, Desi pasti akan menjerit histeris.


Flashback off.


Tatapan Dimas kini berubah, ada seringai dari balik senyumnya.


Luna yang melihat seringainya, memilih pergi dari hadapan Dimas, sebelum hal buruk terjadi. Akan tetapi gerak-geriknya Luna sudah terbaca oleh Dimas, sehingga Dimas bergerak cepat menggenggam tangan Luna.


"Lepasin aku!" Ucap Luna.


"Kenapa? Kamu takut?" Sahut Dimas dengan seringainya.


Dari pengalaman yang sudah dialaminya, Luna tidak mau Dimas menjerumuskannya ke lubang yang sama, yaitu menjualnya ke lelaki hidung belang.


Kemudian Luna menggigit tangan Dimas sekuat tenaga, sampai-sampai darahnya keluar.


"Aww...!" Ringis Dimas yang langsung melepaskan tangan Luna, kemudian Luna menendang pangkal pahanya.


Luna segera berlari menjauhi Dimas.


Walau sakit bagian sensitifnya, Dimas tidak mau melepaskan Luna begitu saja. Dimas pun segera mengejar Luna. Ia ingin masa depan Luna hancur, seperti wanita yang ia cintai yang hancur karena ulah kakaknya Luna.


Di saat itu juga, ojek online nya datang, Luna segera naik.


"Mang, cepat jalan," pinta Luna dengan suara panik, karena Dimas kini tengah berlari ke arahnya.

__ADS_1


"Siap, Mba," sahut mang ojol.


Mang ojol langsung memacukan motornya, meninggalkan Dimas yang terlihat kesal.


"Sial !" Umpat Dimas, yang gagal menahan Luna.


Sekarang kamu bisa lolos, tapi besok-besok aku pastikan kamu tidak bisa kabur dari ku dan saat itu juga hidup mu hancur.


Dengan perasaan penuh emosi, Dimas kembali ke cafe. Dimas berjanji tidak akan membiarkan hidup Luna bahagia.


***


"Mang, berhenti di sini saja," ucap Luna, menepuk pundak mang ojol.


Mang ojol mengangguk dan menghentikan motornya. Lalu Luna turun dan membuka helmnya.


"Mba yakin turun disini?" Tanya mang ojol.


"Iya, saya turun disini saja," seraya menyerahkan ongkosnya.


"Terima kasih, mba," ucap mang ojol dan segera pergi.


Luna memandangi taman dengan tatapan sendu. Luna menghela nafasnya. Sejak tadi Luna terus saja memikirkan soal kakaknya.


'Apa iya kakak setega itu menghancurkan seorang wanita?' Batin Luna yang sampai detik ini belum percaya.


Luna memilih duduk di bangku taman. Ditatapnya langit yang kini sudah tidak secerah siang tadi.


Luna teringat kembali soal orang tuanya yang kata pamannya terlilit hutang dan Pak Andi lah yang membantu bayarin hutang orang tuanya. Jika benar, kalau Raihan menghancurkan kekasihnya Dimas, terus kenapa Pak Andi dengan sukarela membantu bayarin hutang. Padahal, Raihan sudah melukai hati Dimas.


Lama Luna termenung di taman, hingga tiba-tiba sebuah botol plastik mengenai kepalanya.


Plakk.


"Aduh...!" Pekik Luna. Kemudian Luna menoleh ke arah orang yang melempar botol. Luna mendengus kesal saat tahu siapa pelakunya dan orang itu adalah Vano.


"Bisa nggak sih jadi orang nggak usah usil," kesal Luna, yang melempar kembali botol plastik ke arah Vano.


Lemparan botol plastik tidak mengenai Vano, karena Vano begitu gesit menghindar. "Lagian ngapain coba kamu bengong sendirian disini," sahut Vano.


"Suka-suka aku lah! Masalah gitu buat kamu!" Sarkas Luna.


"Daripada bengong mending kamu ikut aku."


"Malas! Mending pulang," ketus Luna, yang mulai melangkah pergi.


Vano segera mencekal tangan Luna. "Pokoknya kamu harus ikut," paksa Vano, tidak peduli dengan tatapan protes Luna dan Vano terus menarik Luna.


Terpaksa Luna ikut dengan Vano, walau di hatinya terasa dongkol dengan sikap Vano yang pemaksa


"Emangnya mau kemana sih?" Tanya Luna karena sampai mobil meninggalkan taman, Vano tidak mengatakan mengajaknya kemana.


"Nanti juga kamu tahu sendiri."

__ADS_1


Luna mendengus sebal dan selama perjalanan Luna tidak lagi berbicara.


Setengah jam berkendara, akhirnya Vano menghentikan mobilnya di sebuah rumah. Kemudian Vano menoleh ke arah Luna yang ternyata tertidur.


Ditatapnya lekat-lekat wajah Luna. Wajah yang memiliki paras ayu dan manis. Tanpa sadar Vano tersenyum kecil melihat wajah damai Luna. Ada desiran halus menggelitik hatinya, lalu Vano mengulurkan tangannya dan membelai kulit pipi Luna yang halus.


Luna mengerjapkan matanya, merasakan sentuhan lembut di pipinya. Melihat Luna bangun, Vano segera menarik tangannya. Vano tidak mau jika Luna salah sangka, kalau ia mengakui kalau Luna cantik.


"Ini dimana?" Tanya Luna seraya mengedarkan pandangannya ke depan.


"Ini rumah kakek aku. Ayo, cepat turun."


"Tunggu. Kamu ngapain ngajak aku ke rumah kakek kamu?"


"Memperkenalkan kamu sebagai pacar baru ku."


"Ha...." Luna menganga mendengar ucapan Vano.


Kenapa Vano tiba-tiba ingin memperkenalkan dirinya sebagai pacarnya? Bukankah Vano memintanya sebagai pacar bohongannya hanya waktu itu dan itu pun hanya untuk memanasi mantan pacarnya.


"Ngapain kamu kenalin aku sebagai pacar kamu?"


"Karena kakek tidak percaya kalau aku sudah putus sama Audi."


"Tapi kenapa harus aku? Emangnya kamu nggak punya teman cewek apa."


"Karena hanya kamu yang bisa mintai tolong. Anggap saja ini bayaran kamu, karena kamu sudah numpang tinggal di rumahku."


"Cih ... Tante Aida juga nggak perhitungan," sungut Luna, tapi Vano tidak memperdulikan gerutuan Luna.


Keduanya keluar dari mobil dan Vano langsung menggandeng tangan Luna dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Kakek," sapa Vano, ketika melihat kakeknya tengah membaca koran.


"Vano...."


Kakek tersenyum senang melihat cucunya datang berkunjung. Vano mencium punggung tangan kakeknya dan diikuti oleh Luna.


"Siapa?" Tanya kakek.


"Kenalin kek, dia Luna pacar aku," jawab Vano.


Kakek menatap lekat wajah Luna. Entah apa yang kakek lihat dari luna, karena Luna tidak bisa membacanya.


"Udah berapa lama kamu pacaran sama Vano?" Tanya kakek.


"Satu bulan, kek." Vano yang menjawabnya.


"Kakek kan nanya nya ke pacar kamu," ketus kakek.


"Kita memang baru satu bulan pacarannya, kek," timpal Luna.


Sebenarnya Luna sangat gondok kepada Vano, karena Luna harus bersandiwara.

__ADS_1


"Bener, kamu lagi nggak bohong kan?"


Luna mengangguk. "Nggak, kek. Kamu memang pacaran."


__ADS_2