Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 21 ~ Kekecewaan Bramantyo


__ADS_3

Sontak saja Bayu mendorong Luna. Bayu terkejut dengan tindakan Luna yang berani mengusap celananya yang basah. Bayu tidak suka dengan tindakan Luna dan mendesis kesal.


Luna menundukkan kepalanya. Ia malu dengan tindakannya yang refleks mengusap celana Bayu. Rasanya ingin menghilang ke dasar tanah, mengubur dirinya karena malu. Hingga sebuah suara mengagetkannya.


"Kalian sedang apa?" Jefri masuk dan menatap heran kedua manusia yang terlihat canggung. Jefri memasang wajah curiga melihat raut muka keduanya.


Wajah Luna yang memerah, seperti sedang menahan malu. Sedangkan Bayu terlihat kesal.


Jefri memicingkan matanya melihat dua anak manusia itu.


Jangan-jangan sedang terjadi sesuatu sama mereka. Begitulah isi kepala Jefri. Menerka-nerka yang terjadi barusan.


"Nggak sedang ngapa-ngapain," jawab Bayu, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Oh...." Jefri beroh panjang, seraya memanggut-manggutkan kepalanya. Saat bola matanya bersitatap dengan sepasang mata indah, Jefri seketika memasang senyum terbaiknya.


Luna membalas senyum Jefri, walau senyumannya terlihat canggung.


"Urusan kamu sudah selesai kan? Sekarang kamu keluar dari sini," ucap Bayu kepada Luna.


"Iya, Pak." Luna bergegas keluar.


*


*


*


Di tempat yang berbeda, Bramantyo sedang menatap foto pernikahan Luna dan Dimas. Entah kenapa hatinya merasa ada yang mengganjal. Ada ketakutan di dalam hatinya. Hatinya sangat mencemaskan Luna, walau ia tahu kalau Luna bersama Dimas.


"Pa, dari tadi ngeliatin foto Luna terus," ucap sang istri, menghampirinya dan duduk disampingnya.


Bramantyo meletakkan foto Luna ke samping duduknya dan menatap wajah istrinya.


"Bapak cuma kangen," jawab Bramantyo, yang saat ini memang tengah merindu keponakannya itu.


"Kenapa nggak telpon saja." Hanum memberi saran.


Bramantyo menggelengkan kepalanya. "Takut nanti ganggu, apalagi sekarang Luna kerja."


Hanum manggut-manggut mendengarnya.


Tok tok tok.


Ketukan pintu mengitrupsi sepasang suami istri. Hanum segera membukakan pintu.


"Jono...." Kening Hanum berkerut, melihat Jono datang ke rumahnya.


Sedikit informasi, Jono ini adalah saudara Dimas dan Jono baru pulang dari kota. Sedikit tahu tentang kehidupan Dimas di kota. Termasuk soal Luna yang di jual di malam pertama mereka.


Lalu darimana Jono tahu?


Jono sangat akrab dengan orang kepercayaan Dimas dan orang itu adalah orang yang disuruh Dimas untuk mencari lelaki yang mau membeli Luna pada malam itu.


Setiap Jono main ke rumah Dimas, ia tak pernah melihat Luna. Jono juga pernah bertanya kepada Dimas tapi Dimas selalu berkilah, membuat Jono curiga. Dan akhirnya ia mencari tahu lewat orang kepercayaan Dimas.


"Siang, Bi," sapa Jono ramah.

__ADS_1


"Silahkan masuk." Hanum melebarkan pintunya dan mempersilahkan Jono masuk.


Jono mengangguk dan masuk ke dalam, kemudian Jono menyapa Bramantyo yang tengah duduk.


"Pak...." Sapa Jono sambil menyalami tangan Bramantyo.


"Eh, Jono. Gimana kabar kamu? Tumben main ke sini," ujar Bramantyo, sambil menepuk pundak Jono.


"Iya, sekalian mau ngasih tahu soal Luna."


"Luna?" Dahinya berkerut mendengar nama Luna.


Jono duduk diikuti juga oleh Hanum.


"Ada apa dengan Luna?" Bramantyo bertanya dengan rasa penasaran. Rasa cemasnya tentang Luna kian menjadi.


Jono menarik napasnya terlebih dahulu. Ia harus mengumpulkan keberanian untuk menceritakan kejadian tentang nasib Luna. Jono yakin, kabar tentang nasib Luna belum di dengar oleh Bramantyo dan keluarganya.


"Mm ... Gimana ya ngomongnya...." Jono sedikit ragu menceritakannya, tapi kalau tidak dikasih tahu, kasihan nasib Luna.


"Apa ada masalah dengan Luna?" Hatinya semakin gelisah. Ia yakin kalau Luna mendapatkan masalah.


Jono mengangguk pelan.


Bramantyo langsung berubah sendu, begitu juga dengan istrinya.


'Kalau ada masalah, kenapa Luna tidak menceritakannya kemarin saat Luna menelponnya," ucap Bramantyo di dalam hatinya.


"Sebelumnya saya minta maaf, jika nanti kabar yang saya bawakan akan membuat Pak Tyo sedih." Jono menghela napasnya sebentar. "Sebenarnya Luna tidak tinggal dengan Dimas dan kabar yang saya dengar kalau Luna ... Di jual."


Perkataan Jono membuat Bramantyo tersentak tak percaya. Sedangkan Hanum membekap mulutnya.


Apa ... Keponakan tersayangnya di jual?


"Kamu jangan mengada-ada. Buktinya kemarin Luna nelpon dan baik-baik saja." Sergah Bramantyo.


Bramantyo jelas tidak semudah itu percaya dengan cerita Jono. Walau sebenarnya ia juga tidak bisa mengelak perasaan gelisah di hatinya.


"Tapi itu kenyataannya, Pak. Dimas sudah menjual Luna dan saya sudah memastikannya." Jono meyakinkan Bramantyo dan Hanum. "Jika Pak Tyo tidak percaya, saya bisa telpon orang kepercayaan Dimas," sambungnya lagi.


Jono mengeluarkan ponselnya dan menelpon orang kepercayaan Dimas.


Telpon pun diangkat dan terdengar sahutan dari sebrang telpon.


"Zis, katakan kalau Luna dijual sama Dimas," pinta Jono langsung ke ke intinya.


Orang yang di panggil Zis membenarkan ucapan Jono.


Zis menceritakan semuanya. Zis tahu kalau apa yang sedang ia ungkap sudah mencederai kepercayaan Dimas, tapi Zis tidak tega melihat Luna dijual kepada lelaki hidung belang.


Setelah mendengar kebenarannya, tiba-tiba tubuhnya merasa tak bertulang. Secara tidak langsung ia sudah menjerumuskan Luna ke kandang buaya dan menghancurkan kebahagiaan Luna.


Seperti ada banyak anak panah menghujam dadanya. Sesak dan berdenyut nyeri mendengar keadaan Luna yang sebenarnya.


"Ya Tuhan ... Kenapa jadi begini..." Lirih Hanum dengan rasa sesak mendengar kenyataan yang dialami Luna.


Beningan kristal sudah membasahi matanya. Terjawab sudah rasa gelisah yang menggelayuti hatinya.

__ADS_1


Rasa bersalah karena menjodohkan Luna dengan Dimas, membuat hatinya sesak. Bramantyo merutuki dirinya sendiri karena sudah merusak kebahagiaan Luna yang memaksanya menerima perjodohan itu. Lalu bagaimana dengan keadaan Luna yang sebenarnya.


"Kenapa Luna nggak cerita...." Hanum menyayangkan sikap diamnya Luna. Seharusnya Luna memberitahukan soal ini.


Kenapa masalah sebesar ini Luna menyembunyikannya. Batinnya Bramantyo.


Bramantyo mengusap wajahnya kasar. Ia berusaha mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya.


Dengan suara bergetar Bramantyo menanyakan keadaan Luna yang sebenarnya. "Terus kamu tahu keadaan Luna?"


Jono menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Pak. Saya juga tidak tahu keberadaan Luna," ucap Jono dengan raut muka yang sesal karena ia tidak tahu keberadaan Luna.


Bramantyo menghela napasnya. ia memejamkan matanya. Sungguh ia sangat sedih dan sangat kecewa juga marah dengan Dimas. Lelaki yang ia anggap akan menjaga Luna, tapi justru menyakiti Luna. Ia tak menyangka kalau Dimas begitu tega menjual Luna, yang notabenenya adalah istrinya sendiri.


Tangannya terkepal erat dengan bola matanya memerah karena emosi tertahan.


Menyesal. Sudah pasti. Bramantyo orang pertama yang sangat menyesal karena menjodohkan Luna dan Dimas. Bramantyo merasa sangat bersalah. Mungkin Luna tidak mau cerita karena Luna pasti sangat marah terhadapnya, karena dirinya Luna menikah dengan Dimas.


"Terima kasih sudah memberitahukan yang sebenarnya." Hanya kalimat itu yang sanggup Bramantyo ucapkan.


"Iya, Pak. Kalau gitu saya permisi dulu."


Bramantyo menutup wajahnya dengan kedua tangannya. air matanya keluar tak bisa ditahan lagi. Ia meratapi nasib Luna. Di kota besar itu, Luna hidup sendiri dan tak tahu Luna tinggal dimana.


"Pa ... Kita susul Luna ke kota," usul Hanum.


Bramantyo mengangguk. "Sebelum itu, kita datangi orang tua Dimas." Bramantyo harus berbicara dengan Pak Andi dan meminta Dimas mengembalikan Luna kepadanya.


*


*


Vano sejak tadi terus memikirkan Luna. Ia sangat penasaran Luna kerja dimana. Dan dari tadi Vano menatap ponselnya. Ia ingin menelpon Luna dan menanyakan kerja dimana.


"Telpon nggak ya," gumam Vano. "Tapi alasannya apa?" Vano bingung memberikan alasan dirinya menelpon Luna, ia tidak ingin kalau ia terlalu terlihat ingin mengetahui tempat kerjanya Luna. Nanti yang ada Luna ge'er.


Sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, Vano terus mencari alasan yang tepat. Beberapa detik kemudian Vano menjentikkan jarinya. Ia tersenyum dan sudah tahu alasan yang tepat.


Vano menelpon Luna. Cukup lama Luna mengangkat telponnya dan akhirnya terdengarlah suara lembut Luna.


"Ada apa telpon aku?" Luna berbicara sambil membereskan meja kerjanya.


"Aku mau kamu temani aku makan."


"Sorry, aku nggak bisa," tolak Luna. Luna ingin segera pulang. Rasa lelah setelah seharian bekerja ingin secepatnya mengistirahatkan tubuhnya.


"Aku nggak suka penolakan. Aku akan jemput kamu sekarang. Sekarang sebutkan alamat kerja kamu." Vano harus memaksanya. Kalau tidak seperti itu, Luna tidak akan mau.


Luna mendengus. Selalu saja Vano memaksanya. Tidak tahu apa kalau ia sangat lelah.


"Lain kali saja. Aku ingin cepat pulang."


"Jika kamu tidak mau, siap-siap saja. Setelah di rumah aku akan menyeret kamu ke kamarku dan mengurung kamu di kamarku." Vano tidak akan menyerah dan dengan ancaman seperti itu Luna pasti akan luluh.


Benar saja, Luna akhirnya mau ikut dengannya. "Iya-iya...! Bisanya ngancem," sungut Luna.


Vano tersenyum lebar, dan menutup laptopnya. "Aku jemput kamu. Share lokasi kamu." Vano mematikan telponnya dan tidak lama Luna mengirim lokasinya.

__ADS_1


Kening Vano berkerut melihat alamat yang dikirim Luna. Ia hapal betul alamat yang dikirim Luna.


"Inikan kantornya mas Bayu?"


__ADS_2