Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 50 ~ Hiduplah bersamaku


__ADS_3

Luna keluar dari rumah dengan perasaan kesal dan saat tiba di luar, sontak saja kedua bola matanya membeliak melihat Vano berdiri tidak jauh darinya.


Vano tidak hanya berdiri sendiri. Ada beberapa orang bersama Vano sambil membawa kertas dengan berbagai tulisan. Mereka adalah tetangganya Luna. Yang jadi pertanyaan, kenapa mereka bersama Vano?


Luna mengerutkan keningnya ketika temannya yang bernama Maesaroh maju ke depan sambil mengangkat lembar kertas ke depan dadanya, menunjukkan sebuah tulisan kepadanya.


'Aku terpaksa mutusin kamu karena aku ingin melanjutkan hubungan kita ke tahap yang serius yaitu menikah.'


Luna tidak mengerti kenapa Vano menulis kalimat tersebut atau kata putus itu hanya omong kosong yang sengaja Vano lakukan untuk mengerjainya.


Satu persatu, orang yang memegangi kertas maju dan melakukan hal yang sama seperti Maesaroh.


'Aku tidak bisa menunda lagi hubungan kita yang sudah terjalin lama, maka dari itu aku datang melamar mu dan memintamu untuk hidup bersamaku selamanya.'


'Kata putus ku bukan sekedar mengakhiri hubungan kita sebagai pacar, melainkan melanjutkan hubungan kita sebagai pasangan suami istri.'


'Dan kamu lah perempuan yang selalu aku inginkan di dalam hatiku.'


Kemudian Vano maju mendekati Luna. Ia berlutut dihadapannya sambil membawa kertas yang Vano gulung, lalu kertas itu perlahan di buka.


'Luna ... Mau kah kamu menikah denganku.'


Luna terpaku ditempatnya, melihat apa yang Vano lakukan. Melamarnya dengan cara yang menurutnya aneh.


Apa ia harus marah atau terharu dengan apa yang Vano lakukan?


Kemudian Luna mengambil kertas di tangan Vano dan merobeknya begitu saja. Jujur saja Luna sangat kesal setelah tadi hatinya tersayat perih dengan berakhirnya hubungannya dengan Vano.


"Ga lucu!" Sungut Luna, yang kemudian melemparkan potongan kertas ke wajah Vano.


"Aku benci sama kamu." Luna mulai terisak. "Kamu tahu hatiku sangat sakit setelah kamu mutusin aku." Luna meluapkan kekesalannya.


"Bercanda kamu gak lucu! Sungguh gak lucu!" Kali ini Luna mendorong tubuh Vano sampai terjerembab ke tanah. Bagaimana pun Luna sangat kesal terhadap Vano yang mempermainkan perasaannya.

__ADS_1


Bukannya marah, Vano justru tersenyum simpul melihat Luna marah dan membiarkan Luna mengeluarkan kekesalannya.


Melihat Luna sudah terlihat puas memarahinya, Vano segera membawa tubuh Luna ke dalam pelukannya.


"Maaf ... Jika aku berlebihan," kata Vano dan Luna tidak menolak pelukan Vano.


"Jadi ... Kamu mau kan nikah sama aku." Kata Vano seraya melerai pelukannya dan menatap dalam bola mata Luna.


"Gak mau. Masa ngelamar gak pakai cincin," sungut Luna.


Vano terkekeh kecil mendengarnya. Tentu saja ia tidak melupakan benda berbentuk lingkaran itu. Vano kembali berlutut dan menggenggam tangan Luna dan Silfa datang menghampirinya seraya membawa kotak beludru berisi cincin bertahta berlian dan memberikannya kepada Vano.


Di depan semua orang, terutama keluarga, Vano mengutarakan keinginannya melamar sang pujaan hati.


"Luna Agnieszkia ... Apa kamu mau menikah dengan ku. Menghabiskan sisa hidupmu bersamaku, menjadi pelengkap dihidupku dan kamu harus katakan iya."


Luna mencibir Vano yang memaksa menerima lamarannya.


"Iya, aku mau."


Segera Vano menyematkan cincinnya ke jari manis Luna, lalu Vano mencium tangan Luna dengan mesra.


"I love you," bisik Vano.


***


Tuhan menunjukkan kepada siapa jodoh kita berlabuh. Jatuh bangun Luna melewati badai yang hampir menghancurkan masa depannya dari sosok lelaki kejam yang seharusnya menjaga dan melindunginya, justru membawanya ke jurang kesedihan.


Luna yang berhasil bangkit dari dan kekejaman sang mantan suami, mulai menata lagi hatinya yang terkoyak perih, tapi kini hati yang terluka itu sudah mengering dan ia bisa meraih kebahagiaannya bersama orang yang tulus mencintainya.


Setelah melewati beberapa bulan, kini Vano dan Luna mengakhiri masa lajangnya dan menyatukan dua insan dalam tali pernikahan yang suci.


Vano mengikrarkan nama Luna di hadapan Tuhan dan para saksi.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Luna Agnieszka binti Sudrajat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi?" tanya bapak penghulu.


"Sah ...." Ucap semuanya.


Lega ... Rasa gugup yang sejak tadi membelenggunya lenyap dan berganti dengan senyum penuh bahagia.


Keduanya saling menatap mesra dan tersenyum penuh kebahagiaan. Kini Vano dan Luna sudah sah menjadi suami istri. Senyum merekah terus membingkai kedua pengantin itu.


Dengan derai air mata mama Aida memeluk Luna.


"Mama sangat bahagia, akhirnya kamu dan Vano menikah juga. Semoga pernikahan kalian selalu diberkahi kebahagiaan. Selalu rukun menjalani pernikahan ini," ucap mama Aida penuh haru.


Vano dan Luna mengangguk dan kembali memeluk tubuh mama Aida.


Serangkaian acara sudah mereka lewati, tamu undangan sudah pada pulang.


Luna duduk sambil memijat betisnya yang terasa pegal. Saat ini Luna sudah berada di kamar hotel yang di sulap menjadi kamar pengantin.


"Sini biar aku pijitin," ucap Vano.


"Jangan. Udah gak pegal lagi kok."


"Bener? Kalau gak pegal lagi mending ikut aku."


"Kemana?"


"Ke tempat yang akan membawamu menuju kenikmatan."


Mengerti apa yang di katakan Vano, Luna mencubit lengan suaminya dan tanpa persetujuannya Vano mengangkat tubuh Luna dan membawanya menuju ranjang. Mengajaknya berpetualang menuju nirwana yang sangat memabukkan.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


SELESAI ....


__ADS_2