
Luna tidak memperdulikan hardikan Vano. Akal sehatnya tertutupi dengan gejolak hasratnya yang menggebu-gebu.
Sedangkan Bayu, terperanjat melihat Vano penuh emosi. Segera Bayu bangun dan menyingkirkan Luna dari atas tubuhnya.
"Jangan pergi dulu," ucap Luna menahan tangan Bayu.
"Lepasin." Sambil menyingkirkan tangan Luna dan menutupi tubuh Luna dengan selimut.
Vano melangkah penuh emosi. Ia tak menyangka kalau Luna dan Bayu melakukan hal yang menjijikan. Vano melayangkan tonjokan keras di wajah Bayu.
Bugh ...
"Kurang ajar kau! Beraninya kamu mengkhianati ku !" geram Vano penuh emosi.
"Ini salah paham. Aku bisa jelasin semuanya ...," ucap Bayu.
"Jelasin apa hah!" Teriak Vano marah. "Buktinya kamu sama Luna tengah asik melakukan hal yang menjijikan!" Vano sungguh tak menyangka kalau Bayu menusuknya dari belakang.
Sejak pulang dari kantor, Vano sangat mencemaskan Luna dan Bayu tahu hal ini. Tapi kenapa kedua orang yang ia sayangi mencederai kepercayaan dan tega melakukan hal menjijikan dibelakangnya.
Andai ia tidak datang, sudah pasti Bayu dan Luna sudah melakukan yang lebih jauh lagi.
"Dengerin dulu penjelasan ku. Luna dikasih obat perangsang sama si brengsek Ariawan," terang Bayu.
"Bohong!"
"Aku nggak bohong, Van."
Vano menatap tajam wajah Bayu, lalu Vano menatap Luna yang terus mendesah dan menggeliat di atas kasur.
"Kamu lihat sendiri kan, keadaan Luna bagaimana," ucap Bayu, sambil melihat Luna. "Dari tadi aku sudah berusaha menolaknya, tapi Luna terus saja menyerang ku. Akal sehat Luna sudah tertutup hawa nap ssu."
Seketika hati Vano mencelos melihat Luna. Hatinya bergemuruh penuh emosi. Wanita yang ia cintai telah dijemaah oleh lelaki brengsek.
__ADS_1
Rahang Vano mengeras menahan rasa marah.
"Uuhh ...." Desah Luna.
Vano segera mendekati Luna. Ia melilitkan tubuh Luna dengan selimut, lalu mengangkat tubuh Luna dan membawanya ke kamar mandi.
Vano bernapas lega, karena tidak melihat noda darah di seprai. Itu berarti Luna masih perawan.
Setibanya di kamar mandi, Vano segera mendinginkan tubuh Luna dengan air. Siapa tahu dengan mendinginkan tubuh Luna dengan air, bisa mengurangi gejolak hass*rat yang menggebu.
Sebisa mungkin Vano menjaga kesucian Luna. Ia tidak mau masa depan Luna hancur, hanya karena nap ssu sesaat.
"Argh ...!" Luna menjerit, saat tubuhnya diguyur air.
***
Vano duduk terdiam menatap wajah Luna, sambil menggenggam tangannya. Vano akhirnya bernapas lega, usahanya meredakan gejolak yang membakar hass*ratnya Luna berhasil. Walau harus menunggu beberapa jam.
Luna sempat pingsan setelah berhasil mendinginkan tubuh Luna dari gejolak hass*rat yang menggebu.
Luna mengerjapkan matanya dan menatap sekeliling ruangan tersebut. Ruangan yang tak asing baginya, yaitu kamarnya sendiri. Lalu, Luna menoleh ke arah Vano yang tengah tersenyum menatapnya.
"Akhirnya kamu sadar juga," ucap Vano lega.
"Maaf ...," ucap Luna lirih dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Sstt ... Kamu tidak perlu minta maaf. Yang penting kamu selamat dari jerat si baji*ngan Ariawan."
Luna menangis mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu, yang hampir merenggut kesuciannya.
Vano segera memeluk Luna dan membiarkan Luna menangis. Pasti, kejadian itu membuat Luna trauma. Hatinya ikut merasakan sakit, melihat Luna bersedih.
Bayu yang ingin melihat keadaan Luna, mengurungkan niatnya melihat Luna tengah dipeluk oleh Vano.
__ADS_1
*Kenapa hatiku sakit melihat Luna dan Vano pelukan. Ucapnya di hati.*
Bayu memukuli dadanya yang terasa sesak. "Aku tidak boleh jatuh cinta sama Luna. Masa iya aku harus bersaing dengan adikku sendiri," gumam Bayu. Tapi setidaknya Bayu lega karena usaha Vano menolong Luna berhasil. Andai Vano tidak datang, mungkin seumur hidup ia akan terus dibayangi rasa bersalah.
Sementara itu, setelah menumpahkan kesediaannya, Luna menatap sendu wajah Vano.
"Kamu tahu darimana kalau aku ada di rumah lelaki itu," tanya Luna penasaran.
"Aku di telpon sama Dio," jawabnya. "Dio datang bersama bang Bayu dan membantu bang Bayu melumpuhkan anak buah Ariawan."
Luna manggut-manggut. "Terus Dimas bagaimana?"
"Jelas, Dimas babak-belur dan sekarang mereka semua berada di penjara," terang Vano.
"Syukurlah. Setidaknya Dimas tidak menggangu ku lagi."
Vano kemudian menggenggam tangan Luna.
"Luna, kamu secepatnya harus menceraikan Dimas. Aku nggak mau kamu terus terikat pernikahan dengan dia."
"Aku memang berniat menceraikan Dimas dalam waktu dekat ini. Aku juga nggak mau terus-terusan jadi istrinya Dimas."
"Bagus deh kalau gitu. Biar aku cepat nikahin kamu."
Luna mencubit pinggang Vano. "Dasar pebinor," sindir Luna, dan Vano terkekeh mendengar ucapan Luna.
"Aku nggak mau buru-buru nikah lagi. Aku ingin lanjut kuliah," sambung Luna.
"Setelah nikah kan bisa lanjut kuliah," balas Vano tak mau kalah.
Luna menggelengkan kepalanya. Tidak setuju dengan pendapat Vano. Ia hanya ingin fokus ke kuliah nya nanti.
"Mau ya ... Nikah sama aku."
__ADS_1