Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 39 ~ Tetaplah bersamaku


__ADS_3

Luna duduk seorang diri di teras belakang rumah. Ia baru saja menghubungi pamannya dan mengatakan kalau ia secepatnya akan pulang. Luna sudah memikirkannya untuk memilih tinggal di kampung saja dan melanjutkan pendidikannya.


Tidak ada alasan lagi baginya terus berada di sini. Jika terus berada di sini, Luna takut jika suatu hari Pak Ariawan balas dendam terhadapnya. Dan ia yakin cepat atau lambat Pak Ariawan pasti bebas, begitu juga dengan Dimas.


Selain itu Luna ingin mencari tahu perihal kakaknya, yang tega menghancurkan kekasih hati Dimas. Pasti ada sebab dibalik itu semuanya. Menurutnya ada yang ganjal dengan kakaknya yang tiba-tiba berani menodai seorang gadis.


"E'hem." Bayu berdehem.


Luna terlonjak mendengar suara deheman dan menoleh ke belakang.


"Ih ! Mas Bayu ngagetin aja," sungut Luna.


"Lagi mikirin apa sih? Serius amat," ucap Bayu.


"Kepo ...."


"Sudah malam, gak baik anak gadis ngelamun sendirian di luar. Nanti kamu di datangin Mba Kunkun lagi."


"Iya, Mba Kunkun-nya mas Bayu," ledek Luna, sambil mengulum senyumnya.


Bayu tergelak mendengar ucapan Luna. Ternyata setelah mengenal lebih dekat dengan gadis dihadapannya ini, Bayu sering tersenyum sendiri.


"Oya, aku mau bicara hal lain," ujar Luna menatap Bayu yang masih berdiri di ambang pintu.


"Bicara hal apa?" sahut Bayu. Sepertinya Luna akan membicarakan hal yang serius. Segera, Bayu duduk di kursi yang satunya lagi.


"Aku mau resign, mas," ucap Luna berterus-terang.


"Resign?" Beo Bayu.


"Iya," jawab Luna seraya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa resign? Apa kamu tidak betah kerja di kantor ku?" tanyanya lagi.


"Betah. Tapi bukan itu masalahnya. Aku berniat melanjutkan pendidikan aku yang tertunda dan menyelesaikan soal perceraian aku dengan Dimas." Jawab Luna sambil menatap lurus pandangannya ke depan.


"Aku takut jika terus-terusan berada di sini. Akan membuat Pak Ariawan semakin gila terhadap ku dan aku tidak mau itu terjadi."


"Tapi kan si brengsek itu sudah masuk penjara," sahut Bayu cepat.


"Emang. Tapi kan gak ada yang tahu kalau nantinya dia bisa bebas."


"Iya juga sih." Bayu mengangguk membenarkan ucapan Luna. "Sayang sekali kalau kamu resign, padahal kerja kamu bagus," sambung Bayu.


"Ya mau gimana lagi. Aku harus mengambil keputusan yang terbaik buatku."


Bayu tidak bisa melarang Luna untuk berhenti kerja di kantornya. Mungkin ini yang terbaik buat Luna. Bayu berharap, kedepannya Luna menjadi wanita sukses.


"Siapa yang mau resign?" Sambar Vano tiba-tiba.

__ADS_1


Luna mendengus mendengar suara Vano. Lelaki yang sejak siang di tunggu kabarnya, kini muncul tiba-tiba. Seketika hati Luna marah mengingat lagi saat Vano jalan dengan seorang wanita cantik.


"Luna mau resign," jawab Bayu.


Vano melongo mendengarnya dan menatap penuh tanya ke Luna. Namun, Luna justru bangun dari duduknya.


"Mas, aku ke kamar dulu," ucap Luna kepada Bayu.


Bayu mengangguk kecil, lalu Luna melangkah meninggalkan dua lelaki itu.


"Luna, tunggu!" Teriak Vano, yang kini menyusul langkah Luna.


"Apaan sih teriak-teriak!," Ketus Luna.


"Beri aku alasan. Kenapa kamu resign dari kantor bang Bayu?" Ujar Vano menuntut.


"Karena aku mau pulang kampung," jawab Luna.


"Kan bisa ambil cuti?" Lagi, Vano berkata.


"Gak bisa. Aku mau lanjut kuliah. Udah ya, besok lagi ngomongnya. Aku sudah ngantuk." Luna berlalu begitu saja dan segera masuk ke dalam kamarnya.


Lagi, Vano melongo melihat sikap tak biasa Luna terhadapnya. Tapi apa yang membuat Luna tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya.


"Bang Bayu pasti tahu penyebabnya," gumam Vano, lalu Vano kembali ke teras belakang, menemui Bayu.


"Bang, kenapa dengan Luna?" Seloroh Vano.


"Kalau aku tahu gak bakalan nanya sama kamu, bang," sungut Vano.


Lagi, Bayu mengedikkan bahunya tak tahu.


***


Setelah membersihkan tubuhnya, Vano kembali ke kamar Luna. Vano harus meminta penjelasan sama Luna yang tiba-tiba ingin pulang kampung.


Bukannya Vano melarang Luna pulang kampung, tapi masalahnya Luna pasti tidak akan balik lagi ke sini. Dan Luna pasti bakal tinggal lagi di kampungnya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Untuk kesekian kalinya Vano mengetuk pintu kamar Luna, tapi sampai detik ini Luna tidak membukakan pintunya. Hal itu semakin membuat Vano resah.


"Luna, tolong buka pintunya ...!"


Vano terus mengetuk pintu kamar Luna.


"Ngapain kamu ketuk-ketuk pintu kamar Luna?" tanya mama Aida, yang datang menghampirinya.


"Mau--." Ucapan Vano menggantung saat matanya bertemu dengan mata indah milik Luna.

__ADS_1


Vano cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku pikir Luna ada di dalam," ucap Vano.


"Memang ada apa cari Luna?" tanya mama Aida.


"Mau bicara sama Luna," jawab Vano.


"Emang mau bicara apa?" Kali ini Luna yang bertanya.


"Soal yang tadi."


"Kalau gitu mama ke kamar aja," timpal mama Aida. Lalu mama Aida menarik rodanya menuju kamarnya.


Setelah mama Aida menghilang dari pandangan mereka, Vano menarik tangan Luna ke ruang tamu dan mendudukkan Luna di sofa.


"Kamu kuliahnya di sini aja ya," pinta Vano.


"Gak bisa. Aku mau kuliah di kampung saja."


"Nanti kalau aku kangen gimana?"


"Cih ... Kangen. Bukannya sudah ada yang baru," ucap Luna menatap sebal wajah Vano.


Vano mengerutkan keningnya. "Maksud kamu?" Vano tak mengerti dengan ucapan Luna.


"Tadi siang aku lihat kamu jalan sama cewek. Udah gitu ceweknya cakep lagi," sungut Luna.


"Dimana? Kok aku gak lihat?"


"Di restoran X, aku lihat kamu jalan sama cewek." Luna berkata dengan berapi-api. Mengingat wajah perempuan yang tadi bersama dengan Vano.


Sedetik kemudian Vano tertawa, dan Luna menatap kesal wajah Vano yang menertawainya.


"Ada yang cemburu ni yee ...." Ledek Vano, menoel hidung Luna.


"Siapa yang cemburu!" Sungut Luna tak terima.


Jujur saja, hati Vano sangat senang karena Luna cemburu terhadapnya. Itu tandanya Luna cinta sama dirinya.


Dengan gemas Vano mencubit pipi Luna. "Ih ...! Vano, sakit tahu!" sungut Luna menyingkirkan tangan Vano.


"Kamu lucu kalau lagi cemburu."


Luna semakin mengerucutkan bibirnya dan mendelik tajam Vano.


"Perempuan yang kamu lihat tadi itu adalah sekretaris ku dan dia sudah menikah. Kalau gak salah dia lagi hamil muda," terang Vano.


Mendengar perkataan Vano, membuat Luna tertunduk malu. Ah ... Kenapa pula dirinya harus cemburu dan lihatlah lelaki yang tengah tersenyum itu, semakin besar kepala.


Vano kemudian meraih kedua tangan Luna dan menatap dalam kedua bola matanya.

__ADS_1


"Please ... Tetaplah bersamaku disini."


__ADS_2