
\****DiDarussalam***
**Hari ini Abdul hanya berdiam diri di kamarnya, ia masih saja memikirkan tentang perasaannya terhadap Arini, ia belom yakin apakah perasaannya itu adalah rasa Sayang karena selama ini Abdul belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan berpacaran. Namun semenjak Mia adiknya bertanya apakah Abdul tidak berniat untuk menikah agar ada orang yang akan mengurusi dirinya ia langsung teringat kejadian di warung bertemu dengan Arini yang membuatnya juga salah tingkah namun Abdul sangat pandai menutupinya lain hal dengan Arini yang jelas salah tingkahnya oleh Abdul, tetapi Abdul terus saja mengelak, ia merasa minder karena usianya kini sudah mau menjalani 26 tahun sementara gadis yang saat ini membuat hatinya tidak karuan masih sangat belia yaitu Arini yang baru saja menginjak 17 tahun\(Sweetseventeen\).
Ia juga tidak yakin apakah Arini mau dengannya, karena selama ini Abdul dan Arini tak pernah dekat apalagi ngobrol berdua mereka hanya bertemu di saat saling berpapasan saja, namun entah bagaimana rasa ingin memiliki gadis mungil itu muncul di fikiran Abdul.
Abdul memberanikan diri untuk menghubungi Arini untuk sekedar menanyakan keadaannya karena sudah dua kali ia mencoba menghubungi Arini tetapi bibirnya belom mampu mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
__ADS_1
*Di Pekanbaru
Arini dan Adi kini sudah memasuki tempat Acaranya semua orang menatap kedatangan mereka, entah karena kagum atau karena terheran karena kini Arini di gandeng oleh sang ketua Osis. Dreett...drrt..drrt.. (Suara benda pipih di dompet Arini berbunyi) Arini segera melepaskan genggaman Adi ia sangat bersyukur karena hapenya tiba-tiba berbunyi dengan segera ia mengangkat telponnya dan sedikit menjauh dari tempat acara karena di sana sangat ribut. "Ih ini siapa sih? dari kemaren ga jelas banget dah" gumam Arini sambil menggeser tombol berwarna hijau "Hallo Assalamu'alaikum, ini siapa ya? dari kemaren kok cuma nelpon ga jelas? kalo ada perlu langsung ngomong aja!" Arini langsung menghujani dengan banyak pertanyaan yang membuat seseorang diseberang sana tersenyum mendengar pujaannya itu sangat cerewet. "Walaikumsalam, iya saya ada perlu sama kamu? apa bisa ngobrol sebentar?" tanya Abdul dengan sedikit terbata-bata karena tak di pungkiri walaupun hanya berbicara melalui via telpon ia sangat gugup.
"Iya, maaf apakah begitu penting?, karena saat ini saya sedang ada acara perpisahan sekolah dan acaranya pun sudah mulai, jika tidak terlalu mendesak nanti saya telpon lagi deh" jawab Arini "Oh tidak, kalau begitu lanjutkan saja dulu kegiatan mu, selamat atas kelulusan mu Arini, assalamu'alaikum" Abdul langsung mematikan telponnya karena ia sudah sangat gugup tidak jelas. Arini yang mendengar kata-kata lelaki itu seketika teringat dengan Abdul lelaki yang mengusik Ketenangan fikiran nya itu. Lalu Arini langsung kembali ke acara perpisahan nya dan duduk di sebelah orang tuanya dan juga sahabat nya itu. "Arini kamu kok bisa datang sama pak ketos?" tanya Mifta penasaran.
Acaranya berlangsung begitu khidmat sehingga memecah tangis para siswa/siswi Namun Arini sangat senang karena ia mendapatkan predikat siswi terbaik orang tua Arini begitu bangga dengan prestasi anak gadisnya itu, setelah acara inti selesai semua siswa/siswi beserta keluarga sibuk untuk mengabadikan momen itu dengan cara berfoto keluarga. Arini yang sedang bercengkrama dengan Mifta dan keluarganya tiba-tiba, Adi datang menghampirinya beserta kedua orang tuanya "Assalamu'alaikum om, Tante" ucap Adi sembari menciumi punggung tangan bapak dan mamaknya Arini tak lupa ia juga menyalimi orang tua Mifta. Diikuti orang tua Adi juga menyapa dan berjabat tangan dengan kedua orang tua Arini dan Mifta. Arini dan sahabatnya itu hanya saling bertatapan satu sama lain**.
__ADS_1
.
.
.
.
__ADS_1