
**Setelah mengantarkan sahabatnya Arini langsung kembali ke dalam kamarnya, di dapati sang suami sedang duduk sambil memainkan ponselnya, lalu Arini masuk dan mengunci pintu kamarnya. Kini sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dengan posisi membelakangi Dul. Abdul yang melihat tingkah istrinya kecewa karena, ia sangat berharap Arini akan membujuknya jikalau dia berpura\-pura marah tapi sayangnya Arini tak seperti yang dikiranya, malah sifat Arini sangat dingin darinya. Lalu Abdul mengalah ia mencoba berbicara pada istrinya sambil meletakkan ponselnya diatas nakas, bagaimana pun hatinya masih menjanggal karena kehadiran Adi.
"Rin laki-laki yang memelukmu tadi siapa?" tanya Dul dengan nada datarnya. Arini tersenyum karena aktingnya untuk pura-pura dingin berhasil membuat Dul bicara dengannya. "Oh dia temanku bang, dia memang menyukai ku tapi aku tidak menyukainya" "kenapa kamu tidak menyukainya" tanya Dul semakin kepo " Karena waktu dia menyatakan perasaannya aku sudah jatuh cinta padamu" jawab Arini singkat. Dul tersenyum mendengar jawaban istrinya itu. Tapi ia berpura-pura tak percaya "Aku tak percaya, apa buktinya?" Dul kembali menanyai istrinya itu, Arini yang mendengar pertanyaan suaminya langsung duduk dan menghadap ke arah Dul, jantung mereka kini sudah sama-sama berpacu ingin keluar dari dalam rongga dadanya. "Buktinya sekarang aku kan sudah menjadi istrimu bang" jawab Arini tegas.
Lalu Arini kembali berbaring, mendengar jawaban yang cukup tegas itu Abdul langsung terdiam tak tahu apa yang akan di lakukan nya lagi, karena tadi ia berfikir Arini akan membuktikannya dengan cara menciumnya tapi lagi-lagi dugaannya salah. Kali ini Dul sudah tak tahan ingin memeluk tubuh mungil istrinya itu, lalu ia menyudahi marah pura-pura nya dan langsung mendekap Arini dari belakang. "Sayang, maafkan aku, aku tidak marah padamu, hanya saja aku sedikit kesal tadi" ucap Dul lirih sambil mencium leher Arini yang beraroma minyak telon itu. Arini yang mendengar suaminya itu memanggilnya dengan sebutan sayang untuk yang pertama kalinya refleks membuat perasaan Arini menghangat, lalu di elusnya tangan Dul yang sedang memeluknya itu. mendapatkan respon dari Arini Dul langsung memutar badan Arini sehingga kini mereka saling berhadapan. Jantung mereka berdetak semakin kencang hingga keduanya bisa merasakan degupan itu satu sama lain. "Apakah jantung mu berdegup sangat kencang Rin?" tanya Dul Arini hanya mengangguk " ku fikir hanya jantungku saja yang berdegup kencang" ucap Dul sambil mengusap-usap pipi Arini yang sudah mulai memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
Abdul semakin terpesona melihat wajah istrinya itu saat dekat, lalu ia mengusap-usap bibir Arini dan memandangi nya. "Sayang apakah aku boleh..." kata Dul terpotong karena Arini membungkam mulutnya. " Bang jangan minta jatah sekarang ya, karena aku baca saat malam pertama pengantin wanita pasti kesakitan dan akan teriak sangat keras, aku takut bang saat melakukan nya orang dirumah ini akan mendengar nya" ucap Arini malu-malu. Abdul terkekeh melihat kepolosan istri kecilnya itu, " Kamu sudah mempejari tentang malam pertama rupanya?" tanya Dul sambil tertawa kecil dan membuat Arini semakin salah tingkah. " Aku tidak akan memintanya sekarang, nanti saja saat kita sudah pindah ke rumahku, tapi kalau sekedar mencumbu anggap saja ini training Sebelum kita benar-benar melakukannya sayang" bisik Dul yang membuat pipi Arini semakin memerah lalu Arini pun mengangguk tanda menuruti permintaan suaminya itu, biar gimanapun kini ia sudah menjadi istrinya, sudah kewajiban Arini melayani Dul.
Lalu tanpa mikir panjang Dul mulai mengeratkan pelukannya, dan wajah mereka semakin dekat kini hampir sudah tak ada jarak, perlahan tapi pasti kini ia sudah mendapatkan ciuman pertama nya pada istri mungilnya itu namun tak ada respon dari Arini, Dul teringat ia pernah membaca cara ciuman agar di balas dengan cara menggigit bibir Arini lalu Arini pun membuka mulutnya dan terjadilah ciuman panas yang penuh dengan birahi sampai-sampai mereka kehabisan oksigen dan melepaskan ciumannya. Tak berhenti disitu kini tangan Dul mulai nakal, ia memasukan tangannya ke dalam piyama Arini yang memang biasa tidur tanpa menggunakan bra, yang membuat Dul tersenyum mesum karena tangannya bisa lebih gampang me***** gunung kembar Arini yang ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. "Bang ahhh " desah Arini sambil memegang tangan Dul yang sedang asyik bermain di gunung kembarnya, tapi Dul langsung membungkam mulutnya dengan ciuman sehingga mereka sama-sama panas jika tidak mengingat sedang dirumah mertuanya ia pasti akan sudah melepaskan hasratnya itu.
.
__ADS_1
.
.
.
__ADS_1