
" **Tidak bang, lakukanlah aku sudah siap" jawab Arini memotong perkataan suaminya. Dul tertegun dan langsung menatap wajah Arini dengan penuh tanya kembali, Arini yang melihat suaminya sedang menatap nya seperti itu langsung berkata "Aku siap bang, lakukanlah, apapun yang terjadi aku akan tetap ingin melakukannya, karena itu memang sudah kewajiban ku, janganlah menahan hasrat mu sendiri bang, berbagilah dengan ku bukankah aku sekarang sudah menjadi istrimu, aku sudah menjadi milikmu bang, semua yang ada di diriku adalah milikmu bang" kata Arini sambil tersenyum menangisnya. Abdul hanya diam ia bingung apakah ia harus melakukan nya sekarang karena disisi lain Arini masih sangat belia dan disisi lain ia juga sudah sangat ingin merasakan kenikmatan surga yang dikatakan orang\-orang yang sudah menikah.
Melihat suaminya hanya diam Arini memulainya dengan mencium mata, hidung, dan bibir Dul dengan lembut tangan Arini sudah mengelus-elus dada bidang suaminya itu, tak di pungkiri keduanya sama-sama gugup dan jantung mereka bekerja 2 x lebih cepat dari biasanya. Akhirnya Dul pun tergoda untuk mulai mencumbui tubuh mungil Arini, kini ia menindih Arini dan mulai mencium lembut bibirnya yang lama-kelamaan menjadi ciuman yang sangat bergairah. Tangan Dul sudah mulai berjelajah di tubuh Arini, dengan lembut ia ******* gunung kembar Arini.
Arini yang mendapat sentuhan itu spontan memegang tangan Dul yang sedang bermain disana. Namun ciuman mereka begitu lama. Kini Dul mulai menciumi leher Arini dan meninggalkan tanda kepemilikan disana, dibukanya piyama yang menutupi tubuh Arini dan Dul terdiam sejenak melihat tubuh mungil polos istrinya yang begitu imut tanpa sehelai benang pun.
__ADS_1
Lalu ia mulai menciumi gunung kembar Arini, dengan m******** gunungnya seperti anak bayi yang kehausan dan tangan yang satunya memainkan gunung yang satunya. Memang tidak terlalu besar tapi gunung kembar Arini pas di genggaman suaminya itu. Arini mengerang menikmati sentuhan demi sentuhan suaminya itu kini Dul sudah mencapai hasratnya ingin memasuki kawasan terlarang Arini dengan juniornya.
"Sayang apa kamu yakin ingin melakukannya sekarang,?" tanya Dul sekali lagi "Iya sayang lakukanlah pelan-pelan ya" ucap Arini sudah bergairah.
"Arini ini pasti akan sangat sakit jika masih pertama" Dul takut Arini akan menjerit kesakitan jika ia membuka keperawanan nya. "Sesakit apapun aku akan menahan nya demi kamu bang, jika tidak sekarang kapan lagi?" "Arini sayang aku akan melakukan nya dengan sangat pelan dan hati-hati jika kamu merasakan sakit Jambak saja rambutku atau cakar saja punggung ku" ucap Dul karena ia masih khawatir dengan Arini pada saat ia akan menancapkan senjatanya itu. Lalu dibukanya celana yang dikenakannya dan memperlihatkan miliknya yang besar sehingga Arini yang melihatnya langsung terbelalak namun ia harus tetap siap karena itu memang harus dilakukannya untuk memuaskan nafsu suaminya itu. Perlahan Dul mulai membuka paha Arini dan mulai menusuk kan senjatanya ke dalam kepemilikan Arini yang begitu sempit "Aahh bang sakiitt" Arini meringis kesakitan sambil meremas sprei nya. Dul tak tega melihat nya apalagi setengah saja belum masuk senjatanya tapi Arini sudah menangis. Lalu ia mencabut kembali senjatanya dari kepemilikan Arini. melihat itu Arini langsung melihat ke arah suaminya itu "Sudahlah mari kita tidur sayang, jangan memaksa kan tubuh mungilmu itu" ucap Dul lirih lalu Arini kembali menarik tangan nya, "Tidak bang, kita sudah melakukannya separuh jalan, lanjutkan lah aku janji tidak akan bersuara" janji Arini sambil meletakkan tangan besar Dul di pipinya. Lalu Dul melihat Arini sangat berusaha memenuhi kewajiban sebagai istri tapi ia malah menarik ulur hasratnya. "Baiklah sayang mari kita lakukan lagi" ajak Dul yang kemudian merebahkan tubuh Arini kembali. Lalu ia kembali mencoba menusuk kan senjatanya ke dalam kepemilikan Arini, namun rasa sakit saat selaput darah itu robek memang sangat luar biasa sehingga janjinya agar tak bersuara tak bisa ditepatinya "hiks...hiks Mak sakiiiit" ucap Arini sembari meremas kuat sprei nya. Dul memejamkan matanya dengan masih tetap berusaha menerobos gawang Arini.
__ADS_1
.
.
.
__ADS_1
.
π₯Ίπππ¨**