AKU MENCINTAIMU, BIARLAH ALLAH SAJA YANG AKAN MENJAWABNYA

AKU MENCINTAIMU, BIARLAH ALLAH SAJA YANG AKAN MENJAWABNYA
BAB 18


__ADS_3

**Setelah beberapa menit akhirnya Arini pun keluar menghampiri bapak dan Abdul yang sedang duduk sambil berbincang\-bincang. "Ahh kalian seperti nya asik sekali" sapa Arini lalu duduk di samping bapaknya itu. "Melihat Arini sontak membuat bibir Abdul tiba\-tiba keram tak bisa berkata\-kata lagi. "Ya sudah pak Arini pamit yah" sambil mencium punggung tangan bapaknya itu dan di ikuti oleh Abdul. Lalu dari dapur Nur datang dengan membawa minuman namun ia melihat anaknya dan juga Abdul sudah ingin pergi "Loh udah mau pergi ya? baru aja ibuk bawakan minum Dul" sapa Nur "Maaf buk, terimakasih banyak takutnya nanti kemalaman" jawab Dul sambil menggaruk\-garuk tengkuknya padahal tidak gatal. "Ya sudah cepatlah pergi, tapi ingat jangan pulang terlalu malam ya Dul" sambung bapak Arini "Iya pak" Lalu Dul dan Arini keluar dari rumah menuju motor Dul.

__ADS_1


Di atas motor Dul dan Arini hanya diam seribu bahasa, karena tidak dipungkiri keduanya memang sama-sama gugup. Lalu Dul memberanikan diri untuk membuka suara "Rin apa planning mu setelah lulus?" tanya Dul "Oh aku ingin kuliah bang" jawab Arini " Lalu rencana mu akan kuliah dimana?" Dul mulai bertanya lebih jauh karena ia takut Arini akan memilih kuliah di luar kota, sehingga harapannya untuk serius menjadi kan Arini istrinya pasti akan pupus karena pastilah Arini akan bertemu laki-laki yang sebaya bahkan lebih baik darinya fikiran Abdul mulai menjelajah. "Sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan kuliahku ke kota Bandung bang, tapi aku kasihan pada orang tuaku mereka sudah sangat terbebani olehku" Dul hanya diam tak menjawab dugaannya benar "Aku mendapatkan undangan bang di salah satu universitas terbaik di kota Bandung untuk kuliah di sana selama 3 tahun dan 1 tahun lagi ku lanjutkan di Thailand, tapi biaya nya sangat besar jadi aku menolaknya dan memilih kuliah disini saja" sambung Arini. Abdul yang mendengar ucapan Arini spontan langsung tersenyum tipis "Arini jangan bersedih, kau bisa mewujudkan mimpimu tak harus belajar disana, disini juga bisa lagian disini kau juga bisa lebih leluasa bertemu orang tua mu" kata Abdul memberikan semangat kepada Arini.

__ADS_1


"Iya bang" beberapa menit kemudian kini mereka telah sampai di tempat yang dituju, yaitu sebuah caffe sederhana dengan pemandangan yang indah yaitu lampu-lampu lampion menghiasi cafe tersebut. Arini yang melihatnya terkagum karena pemandangan yang asri di tepi sawah ini, jarang sekali Arini menemukan pemandangan seperti itu karena selama ini kalau pulang Arini tak pernah keluar rumah. Mereka memilih duduk di tempat duduk yang paling pojok dengan suasana outdoor dan di suguhkan pemandangan sawah yang terbentang luas di depannya. Tak lama mereka memesan makanan dan makanannya sudah datang Arini sangat lapar sehingga ia langsung menyantap makanannya tanpa menyadari bahwa Abdul senyum-senyum melihat Arini yang sedang melahap makanannya. " Ahh...Dia imut sekali walaupun sedang makan begitu" gumam Dul dan tak sengaja di dengar Arini spontan membuat aktivitas mengunyah nya terhenti "Bang ngomong apa?" tanya Arini penasaran "Oh tidak ada makanlah lagi Rin" jawab Abdul gugup.

__ADS_1


Setelah makan mereka hanya diam tak ada satu katapun yang keluar. kini Arini lah yang membuka suaranya "Bang, kamu kenapa tiba-tiba ngajak aku keluar? Apa ada hal yang sangat penting yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Arini yang membuat Abdul bingung apakah tidak terlalu cepat baginya mengungkapkan perasaan dan keinginan nya itu. Sejenak Abdul diam sambil menatap mata Arini**.

__ADS_1


__ADS_2