
**Arini pun menatap nya dengan penuh tanda tanya, karena selama ini mereka tak pernah dekat hanya sekedar bertemu di jalan saja. Lalu Dul menghela nafasnya dan mulai berkata " Mungkin ini terlalu cepat Rin, tapi aku sungguh tidak mampu menahan nya lagi, aku menyukai mu tapi aku tak mau menjadikanmu sebagai pacarku" kata Abdul. Arini yang mendengar kaget namun terheran\-heran karena Dul menyukai nya tapi tak ingin menjadikan nya pacar "Lalu kakak menginginkan ku sebagai apa?" tanya Arini dengan nada sedikit ketus karena ia sedikit tersinggung dengan perkataan Dul tadi. "Dengarkan aku dulu! aku belum selesai bicara Rin" balas Dul dengan nada yang sangat lembut lalu di balas dengan dehemman oleh Arini tanda ia akan mendengar kata Dul " Aku menginginkan mu untuk menjadi penyempurna sebagian dari Agamaku Rin, tidak pacaran aku ingin kita menikah dulu baru pacaran" "Apaaa, bang jangan becanda deh" Arini tertegun dengan perkataan Dul.
__ADS_1
"Aku tau Rin, kamu pasti tidak mau, aku cukup sadar diri karena aku bukanlah lagi ABG yang masih muda, sekarang aku sudah menjadi orang dewasa sedangkan dirimu masih sangat belia dan cantik, pastilah banyak lelaki muda yang mau menjadi kekasihmu" jawab Dul dengan nada datarnya. Arini bingung harus menjawab apa walaupun ia sangat senang karena lelaki yang di sukai nya kini menyatakan perasaannya, tapi Arini masih ragu jika harus langsung naik pelaminan. "Ahh bang aku tak pernah melihatmu dari sisi umur ataupun yang lain, jujur aku juga menyukaimu, tapi untuk segera menikah aku belum yakin" jawab Arini sambil menggenggam tangan Dul. "Aku tau Rin, kau masih sangat muda tapi umurku sudah tak bisa lagi di ajak kompromi, aku sangat ingin menikah dan memiliki keluarga, tapi entah kenapa aku hanya menginginkan kelak kamu lah yang akan menemani ku" balas Dul membalas genggaman Arini.
__ADS_1
Mereka saling diam tapi tetap saling menatap, "Tapi bang, kamu tahu kan aku juga masih ingin kuliah" kini Arini mulai terisak menahan air matanya karena ia tak tahu apakah sekarang ia harus senang atau sedih "Kalau kamu masih ingin kuliah aku tidak akan melarang mu Rin, kamu bisa kuliah setelah kita menikah" Dul meyakinkan Arini. "Tapi tidak mungkin suami-istri tinggal terpisah bang, aku akan kuliah di Pekanbaru dan kamu di kampung" "Kita tidak akan tinggal terpisah Rin, aku akan menemani mu menempuh pendidikan sampai kamu mendapatkan apa yang kamu impikan" "Lalu bagaimana dengan aset keluargamu bang, aku tahu betul selama ini kamulah yang mati-matian mengurus nya?" "Kamu tenang saja masih ada suami adikku, untuk sementara biar dia yang akan mengurusnya" Arini tak punya alasan lagi untuk menolak ajakan Dul untuk menikah karena sesungguhnya ia juga menginginkan nya. "Bagaimana apakah kamu menerima ku?" tanya Dul "iya bang aku mau" jawab Arini sambil menyematkan senyumnya Lalu Dul berdiri dan memeluk Arini ia berniat ingin mencium nya tapi di urungkan niat itu karena ia tak mau melakukan itu sebelum Arini benar-benar menjadi miliknya.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, aku sudah tak sabar ingin bicara dengan orang tuamu!" ajak Dul lalu dibalas anggukan oleh Arini mereka pun berlalu meninggalkan cafe itu menuju rumah Arini. Setibanya dirumah Arini sebenarnya Dul sangat gugup untuk bicara hal itu pada orang tua wanita yang di cintai nya itu, tapi biar bagaimanapun ia tak ingin berlama-lama, karena ia sudah sangat ingin menikahi Arini. Mereka berjalan dan kini sudah sampai di depan pintu rumah Arini tok..tok..tok.. (Suara pintu diketuk) "Assalamu'alaikum Mak" suara Arini memanggil dan tak lama pintu pun terbuka, ya Nur lah yang membuka pintunya " walaikumsalam, loh cepet banget pulangnya?" tanya Nur pada anaknya itu " gak papa mak, ayo bang masuklah" ajak Arini Dul berjalan perlahan memasuki rumah**.
__ADS_1