
"**Assalamu'alaikum pak, buk" salam Dul sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Arini.
"walaikumsalam Dul, silahkan duduk" jawab bapak Arini. Mereka pun kini sudah duduk berempat dan Arini duduk disebelah Dul, Arini menyentuh tangan Dul untuk sekedar menguatkan lelakinya itu. Orang tua Arini bingung melihat kedua anak muda itu, apalagi mereka melihat anak gadisnya menyentuh tangan seorang lelaki didepan mata mereka. "Maaf sebelumnya pak kalo saya lancang, jujur saya bingung harus memulai ini dari mana" kata Dul gugup " Santai saja Dul, katakanlah apa yang ingin kamu katakan" jawab Rahmat mencairkan suasana " Emm begini pak, saaa..ya menyukai anak bapak ARINI tapi saya tidak ingin berpacaran, karena itu saa..yaa berniat untuk meeeenikahinya" jelas Dul dengan terbata-bata. Kedua orang tua Arini spontan kaget "Apa?" Rahmat dan Nur bersamaan kagetnya.
"Pak apa mamak ga salah dengar?" tanya Nur pada suaminya "Entahlah Mak, bapak juga gak habis fikir anak kita mau dilamar" "Mak, Pak Arini juga sudah siap kok menikah" Arini mencoba meyakinkan orang tuanya itu " Begini nak Abdul, kami sangat senang dengan niat baikmu itu, tapi apakah kamu sudah memikirkannya dengan matang?" tanya bapak Arini "Sudah pak saya memang sungguh-sungguh ingin menikahi anak bapak, saya tahu Arini baru berusia 17 tahun tapi saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk nya" jawab Dul mantap " Tapi kamu tahukan kami hanya keluarga yang sederhana, sedangkan dirimu orang yang terpandang di kampung ini, apa kata orang jika aku menikahkan anak ku padamu diusianya yang masih sangat muda? pasti mereka akan beranggapan aku menikahkan nya karena mengincar hartamu" Jelas Bapak Arini sedikit cemas. "Pak, saya tidak melihat status keluarga bapak, karena saya mencintai Arini tulus apa adanya jangan fikirkan hal-hal seperti itu, karena apapun anggapan orang saya akan tetap menikah dengan Arini pak" jawab Dul mencoba meyakinkan keraguan orang tua lelaki Arini. "Baiklah, saya merestui niatmu nak" kata Rahmat sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih pak, buk, besok pagi saya akan datang beserta keluarga saya untuk melamar Arini" Kata Dul sambil menciumi punggung tangan Rahmat. Arini langsung membelalakkan matanya " Bang kamu yakin?" tanya Arini dengan suara pelan "Aku yakin Arini aku tak mau berlama-lama" Arini pun hanya diam mendengarnya. Setelah membicarakan tentang rencana pernikahannya Abdul berpamitan pulang karena hari juga sudah larut malam. Dan kini tinggal lah Arini beserta kedua orang tua nya. Arini berniat beranjak menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti karena suara Bapaknya " Arini tetap lah duduk dulu disini!" perintah Rahmat pada anak gadisnya itu.
"Iya pak" Arini kembali duduk ditempatnya "Apa kamu benar-benar yakin mau menikah nak?" tanya Rahmat "Pak Arini yakin, walaupun usia Arini masih sangat muda, tapi Arini jamin bang Abdul akan jadi suami yang baik untuk ku" jawab Arini mantap "Kamu jangan main-main nak, pernikahan bukanlah sebuah permainan jika kamu sudah bosan bisa meninggalkan nya begitu saja" kini Nur yang menasehati anaknya itu "Iya Mak, Arini faham kok, inshaallah Arini akan selalu mempertahankan rumah tangga Arini" jawab Arini lagi.
.
__ADS_1
.
.
.
__ADS_1