
**Abdul memeluk adik perempuannya itu, "Bang kenapa Ayah sama Bunda ninggalin kita bang, Apa ini gara-gara aku yang selalu membuat mereka kecewa" kata Mia sambil memukul-mukul kecil lengan Abangnya itu. "Enggak dek, ini semua udah takdir Allah, ALLAH lebih sayang sama Bunda dan Ayah" balas Abdul menguatkan adiknya. Mia masih merasa berdosa kepada kedua orang tuanya itu karena ia putus kuliah karena sudah hamil deluan akibat pergaulan bebasnya semasa kuliah di Pekanbaru. Rasa sesak penyesalan sudah tak terbendung walaupun orang tuanya itu sudah memaafkan kesalahannya dimasa lalu tapi rasa penyesalan nya masih menghantui sampai sekarang ia sudah melahirkan anaknya itu.
Jasad kedua orang tuanya belom di semayamkan karena Abdul masih menunggu kedatangan Adiknya yang sekolah di Surabaya. Kini Abdul duduk di tengah-tengah Mayat Ayah dan Bundanya, air matanya tak henti-hentinya mengalir deras, walaupun ia sudah mencoba untuk tidak menangis, tapi Abdul juga manusia biasa yang mempunyai perasaan sedih atas kepergian orang yang paling disayangi itu. Waktu Magrib tiba namun Adiknya yang bernama Rio belom sampai, dan Abdul memutuskan untuk membersihkan diri untuk melaksanakan sholat magrib. Setelah sholat magrib didengarnya suara seorang lelaki berteriak memasuki rumahnya " Ayah, Bundaaaa hiks...hikss... bangun Yah, Bunda Rio pulang nih" tangis Rio Anggara pecah melihat jasad orang tuanya itu yang sangat tragis. "Sabar dek, kita harus kuat" Abdul duduk disebelah adiknya sambil mengelus-elus punggung Rio. lalu Rio berbalik dan langsung memeluk tubuh kekar Abangnya itu. " Bang Rio belom bisa bahagiain Ayah sama Bunda" rengek Rio. Abdul pun tak kuasa menahan tangisnya, ia pun merasakan apa yang dirasakan adiknya itu. Dia pun merasa sangat sedih karena orang tuanya tidak bisa menyaksikannya mendapatkan gelar sarjana dengan Cumlaude. Di peluknya Rio dengan sangat erat karena ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi.
Keesokan paginya barulah kedua orang tua nya dimakamkan. Semenjak kepergian orang tuanya Abdul memutuskan untuk menetap di kampungnya untuk mengurus aset-aset peninggalan orang tuanya sekaligus menjaga adiknya.
__ADS_1
*Flashback off
Pagi ini Arini bangun untuk menunaikan sholat bersama orang tua beserta Adiknya, seusai sholat Arini mengambil Air dan dimasukannya ke dalam baskom. "Mak Pak, boleh Arini mencuci kaki mamak sama bapak?" orang tua Arini melihat ke arah anak gadisnya itu. "Arini walaupun kamu ga mencuci kaki bapak sama mamak, kami sudah memaafkan serta selalu mendoakan mu agar kamu lulus dengan nilai yang baik nak" jawab Nur sambil mendekat ke anaknya itu. " Gak papa mak, Arini mohon!" Lalu ia mencuci kaki kedua orang tuanya. Orang tuanya tersenyum melihat Arini begitu berbakti nya pada mereka. "Oh iya nanti kamu pulang pagi atau siang?" tanya bapak Arini. Siang aja deh pak, biar bapak bisa kerja dulu baru Anter Arini cari travel" jawab Arini.
" ya udah Ayuk masak nak!" Ajak Mamak Arini " Iya mak".
__ADS_1
.
.
.
__ADS_1
.
😊🙏**