AKU MENCINTAIMU, BIARLAH ALLAH SAJA YANG AKAN MENJAWABNYA

AKU MENCINTAIMU, BIARLAH ALLAH SAJA YANG AKAN MENJAWABNYA
BAB 4


__ADS_3

*Flashback On


Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Abdul karena pada hari ini ia akan Wisuda, perjuangannya selama 4 tahun akhirnya telah usai. Abdul yang sudah dari pagi siap-siap untuk pergi ke acara Wisuda sudah tak sabar ingin menyandang gelar sebagai sarjana Ekonomi. Abdul telah sampai di gedung tempat yang akan di adakan Acaranya, ia mencari-cari keberadaan kedua orang tuanya tapi tak kunjung ia temukan keberadaan orang tuanya itu. "Ayah sama bunda mana yah?" tanya Abdul dalam hati, ia mulai cemas apakah orang tuanya tak jadi menghadiri Wisuda nya itu, "tapi kenapa tak ada kabar atau kenapa-napa lagi dijalan Yaallah perasaan ku ga enak fikiranku sangat kacau sekarang". Namun segera di tepisnya rasa kecemasan itu.

__ADS_1


Acaranya pun sudah di mulai tapi wujud kedua orang tuanya tak kunjung sampai. Abdul merasa sedih dan matanya sudah berkaca-kaca, ketika namanya dipanggil sebagai Mahasiswa yang lulus dengan predikat Cumlaude ia merasa penghargaan nya itu tak ada gunanya walaupun semua orang yang ada di ruangan tersebut bertepuk tangan atas prestasinya itu tapi orang yang diharapkan nya tak ada datang untuk menyaksikan keberhasilan nya sebagai seorang anak.


Drett...drrtttt...drett.. suara telpon seluler nya berbunyi, di ambilnya benda pipih tersebut dari dalam saku. Dilihatnya nama yang tertera " Ayah" gumamnya dengan menyunggingkan sedikit senyum lalu segera di angkatnya, "Assalamu'alaikum yah, udah sampai dimana?" tanya Abdul dengan suara yang sedikit pelan karena ia tak mau menjadi pusat perhatian orang-orang didalam gedung tersebut. "Walaikumsalam, maaf ini dengan saudara Abdul?" suara seorang pria yang tak dikenal. "Iya dengan saya sendiri, ini siapa? kenapa hape Ayah saya bisa pada anda?" Tanya Abdul karena terheran bukan Ayahnya yang menelpon nya. "Saya anggota kepolisian, saya ingin mengabarkan bahwa Ayah anda mengalami kecelakaan lalulintas dan sekarang dalam perjalanan menuju kerumah sakit Syafira Pekanbaru. degh...Hati Abdul terasa sesak bagai disambar petir siang bolong, pandangan nya kabur dan kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya. "Abdul kamu kenapa? siapa yang telpon?" tanya Reihan karena khawatir tiba-tiba temannya itu lemas dan menangis membuat orang yang berada disekitar Abdul melihat dan bertanya-tanya apa yang membuat pria tampan itu menangis tanpa suara. "Han, tolong antarkan aku kerumah sakit!" pinta Abdul dengan suara gemetar menahan tangisannya. "Loh siapa yang sakit Dul?" tanya Reihan "Ayah sama Bundaku Han, tolong!!" Abdul memohon dengan tangis yang sudah tak bisa di tahannya hiks..hikss..hikss.. "Baiklah Dul, aku izin dulu sama orang tua ku" setelah Reihan pamit ia pun langsung membopong tubuh Abdul menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Suasana hening, kegiatan di dalam gedung sempat terhenti karena tangisan Abdul yang membuat orang didalam sana pun tanpa sengaja menetes kan bulir-bulir air matanya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Abdul telah sampai dirumah sakit yang dituju, ia langsung berlari meninggalkan Reihan yang sedang memarkirkan mobilnya. Tiba-tiba ia melihat 2 orang yang berlumuran darah sedang didorong oleh para perawat yang tak lain adalah Ayah dan Bundanya ia menjerit "Ayahhh, Bunda" teriak Abdul sambil memegang tubuh yang sudah terkulai lemah itu "Abdul" suara Ahmad memanggil nama anak lelakinya itu. "Iya yah" jawab Abdul sambil ikut berlari kecil mengikuti langkah perawat yang sedang mendorong Ayahnya itu. "Maafkan Ayah sama Bunda nak ga bisa liat kamu Wisuda, tapi Ayah bangga memiliki anak seperti mu" kata Ahmad sambil menahan rasa sakitnya.


πŸ₯ΊπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­

__ADS_1


__ADS_2