
Ben sedang menikmati santap makan malam bersama Mama, Papa dan Kakeknya di ruang makan keluarga. Dia menyadari adik sepupunya tak kunjung datang karena kursinya masih kosong.
" Ma, dimana Boi?." Tanya Ben memanggil adik sepupu kesayangannya.
" Mungkin masih dikamarnya." Jawab Mama Maisha. " Pak Mus, bisa tolong panggilkan Bobi untuk makan malam." Lanjutnya memberi perintah pada kepala pelayan.
" Maaf Nyonya, Tuan Muda Bobi sampai sekarang belum pulang." Ungkap Pak Musin.
Mendengar jawaban Pak Musin mereka yang duduk saling pandang, ini pertama kalinya Bobi tak ada saat makam malam karena seharusnya Bobi sudah ada di rumah sebelum pukul enam malam. Sebagai Tuan Muda kedua Bobi tak diizinkan keluar malam kecuali untuk acara atau kegiatan tertentu.
" Pak Mus, tolong ambilkan ponsel saya di kamar." Perintah Ben
" Baik, Tuan Muda." Ucap Pak Mus menundukkan kepala..
" Ma, apa Boi gak mengabarimu jika dia pulang terlambat?." Tanya Papa Zeino, Mama Maisha hanya menggeleng. Tak biasanya tuan muda kedua masih berada diluar rumah tanpa izin.
" Kemana cucuku itu." Ucap Kakek Baskara.
" Ben, akan cari tahu Kek." Ben yang tadi duduk berdiri lebih dulu dari yang lain.
.
Mereka semua sudah selesai makam malam berpindah tempat menuju ruang keluarga dimana Ben menunggu Pak mus membawakan ponsel miliknya.
" Tuan Muda, ini ponsel Anda." Pak Mus menyerahkan ponsel ke tangan tuan mudanya.
Berulang kali Ben mencoba menghubungi Bobi namun nihil, adik sepupunya tak juga menerima panggilan telepon dia.
" Apa sesuatu terjadi pada Boi." Mama Maisha mulai cemas tak kunjung ada kabar dari Bobi.
" Tenang, Ma." Papa Zeino mencoba menenangkan istrinya.
Pukul sepuluh malam Ben belum juga berhasil menghubungi Bobi membuat dirinya mulai emosi memutuskan untuk menghubungi Jay.
.
.
.
Jay sedang menikmati udara malam di balkon yang berada didepan kamar tidurnya, senyum bahagia terukir diwajahnya mengingat kebersamaan dirinya dengan Aida sore tadi dan sebuah pesan dari gadis pujaannya yang mengatakan terima kasih untuk hadiah yang telah dia berikan, itu berarti Aida sudah tahu ada sebuah kalung dengan liontin bunga mawar melingkar di lehernya.
Ponsel Jay berdering, dengan senyum yang belum memudar dia menerima panggilan masuk dari tuan mudanya.
" Hallo! Tuan Muda?" Jay menerima panggilan masuk dari ponselnya.
" Cari Bobi sekarang juga, bawa dia pulang dalam satu jam." Ben mengakhiri panggilannya sepihak tanpa menunggu Jay bicara. Suara Ben terdengar menahan amarah membuat asisten pribadinya itu merinding.
__ADS_1
Jay segera menghubungi seseorang untuk meminta bantuan mencari keberadaan Bobi yang saat ini tengah mabuk-mabukan sambil duduk di sofa tamu Club Malam.
" Aida, aku mencintaimu. Tapi kenapa kamu menolakku." Bobi kembali meracau dan terus menyebut nama gadis yang gagal dia jadikan kekasihnya.
Jay segera pergi dari rumahnya karena waktu satu jam yang diberikan Ben sudah berjalan lima menit, padahal Jay maih ingin menikmati udara malam ini mengingat semua hal yang menurutnya dia saat bersama Aida.
.
.
.
Aida masih berdiri depan lemari yang terdapat cermin cukup besar. Aida terus saja memegang liontin mawar dan melihatnya di dalam cermin.
" Apa aku pantas menerima hadiah ini," Aida senang tapi dia juga khawatir, bagaimana pun hari ini dirinya baru saja menolak cinta seseorang tapi sekali lagi menerima hadiah dari pria lain yang membuatnya kembali berpikir. Seseorang tak mungkin memberi sesuatu tanpa alasannya. Bagaimana jika Jay mempunyai perasaan padanya dan Aida kembali harus mengecewakan seseorang lagi.
" Ai! Kamu belum tidur?." Terdengar suara Nenek Miranti disusul ketukan di pintu kamar.
Aida yang memang belum tidur membuka pintu kamarnya membiarkan sang nenek masuk. Aida memilih duduk ditepi ranjang dengan mengembangkan senyum menatap langit kamar.
" Ada yang ingin Nenek tanyakan padamu." Nenek Miranti mengambil posisi duduk disamping cucunya.
" Tanyakan saja, Nek." Aida siap menjawab apapun pertanyaan nenenknya.
" Siapa yang sudah beberapa kali ini mengantarkanmu pulang? Apa dia seorang pria? kekasihmu?." Cecar Nenek Miranti dengan suara lembutya.
" Nenek dan Kakek gak melarangmu untuk berteman atau memiliki hubungan dengan seorang pria, asalkan kamu bisa menjaga dirimu. Ujar Kakek Rianto tiba-tiba saja masuk ke kamar cucunya membuat Aida dan Nenek Miranti memandang ke arahnya bersamaan.
" Kakek!." Panggil Aida.
" Kapan kamu mau mengenalkannya pada kami?." Tanya Kakek Rianto ikut duduk disamping cucunya, kini posisi duduk Aida berada ditengah-tengah.
" Saat ini dia hanya temanku bukan pacar atau kekasih." Aida gugup.
" Memangnya kenapa kalau mengenalkan dia sebagai temanmu, Ai?." Tanya Nenek Miranti.
" Kami hanya ingin tahu dengan siapa kamu bergaul." Jelas Kakek Rianto.
Benar juga, apa salahnya mengenalakan seorang pria pada keluarga sebagai teman kenapa harus menunggu memiliki hubungan sebagai pasangan, begitu pikir Aida.
" Kalau sempat Aida akan mengenalkan Kakak pada Nenek dan Kakek karena dia orang sibuk." Aida tersenyum.
" Memangnya sesibuk apa pekerjaannya itu?." Tanya Kakek lagi mencari tahu.
" Emh! Apa Kakek dan Nenek akan percaya jika Ai mengatakannya?." Aida balik bertanya.
" Kamu ini Ai memangnya kapan kami gak mempercayaimu." Nenek Miranti terkekeh, sedangkan Kakek Rianto geleng-geleng kepala karena sang cucu bukan menjawab pertanyaan yang diberikannya.
__ADS_1
Aida membuat Nenek dan Kakeknya menunggu hingga ingin mengatakan bosan, gadis itu memang suka sedikit usil sampai terkadang kedua lansia itu ingin sekali menjewer kuping cucu tersayang mereka.
Melihat raut wajah penasaran kedua orang yang disayanginya Aida tergelak, " Maaf! Baiklah Aida akan kasih tahu sekarang."
" Kamu suka sekali berbuat iseng, Ai." Nenek Miranti cemberut.
" Kak Jay itu asisten pribadi dari CEO Askara Grup." Ungkap Aida sontak membuat kedua lansia diampingnya mematung.
BOMMM!!!
Siapa yang tak kenal dengan Askara Grup perusahanan ternama dan terbesar yang semakin maju sampai sekarang. Mendengar namanya saja semua orang sudah sangat kagum apalagi bisa bekerja dan menjadi bagian dari peruahaan meski hanya jadi karyawan biasa dianak cabang peruahaban sebesar itu.
" Kamu yakin, Ai?." Nenek Miranti meragukan. Aida mengangguk.
" Kamu jangan bicara sembarangan, Ai." Timpal Kakek Rianto yang juga ragu.
Aida berdiri menatap ke arah Kakek dan Neneknya bergantian, benar saja keduanya tak semudah itu percaya jika berkaitan dengan nama Askara Grup.
Aida tergelak, " Ini sudah malam Nek Kek, Ai mau tidur." Ucap Aida ingin mengakhiri saja obral malam ini
Nenek dan Kakek yang masih dibuat tak percaya berdiri dari tepi ranjang, " Jangan bercanda sayang." Ucap Nenek Miranti.
" Aida serius mengatakannya pria itu memang Jay Gelano. Awalnya Aida juga gak percaya tapi setelah mencari tahu di internet ternyata benar, Nek, Kek." Jelas Aida mencoba meyakinkan.
" Ya, sudah. Sekarang kamu tidur ini sudah larut malam. Perintah Kakek pada cucunys. Aida mengangguk.
Kakek Rianto dan Nenek Miranti keluar dari kamar Aida masih dengan pemikiran mereka yang ragu unttuk percaya atau tidak.
" Selamat malam dan selamat tidur, Kek, Nek." Ucap Aida. Kakek hanya mengangguk.
" Langsung tidur." Perintah Nenek.
" Siap! Ibu Ratu." Aida memberi hormat sebelum menutup pintu kamarnya.
.
Nenek Miranti mengajak Kakek Rianto bicara begitu memasuki kamar tidur mereka.
" Kalau yang dikatakan Aida benar. Bagaimana, Bah?." Tanya Nenek Miranti menyebut suaminya Abah.
" Entahlah! Abah belum tahu Ambu. Apa kita bisa menjalin berhubungan dengan orang-orang besar itu nantinya jika Aida memiliki hubungan khusus dengan orang bernama Jay." Kakek Rianto khawatir karena status sosial keluarganya berbeda jauh dengan kalangan Askara Grup.
" Semoga saja tangan mereka terbuka menerima Aida jika nanti cucu kita harus berada diantara mereka, Bah." Nenek Miranti penuh harap pada Maha Kuasa, semoga kebahagiaan selalu menyertai cucu mereka satu-satunya.
" Hmmm... Kita tidur, besok Abah harus berangkat subuh ke pasar." Kakek Rianto berbaring langsung memejamkan matanya.
Nenek Miranti juga ikut berbaring dan mereka tertidur menghabiskan malam untuk melepas lelah dan beristirahat.
__ADS_1