
Kedatangan Aida dan kakeknya di sambut oleh sang nenek di teras depan rumah. Dari sebrang jalan Bobi menghentikan laju motornya memperhatikan Aida.
Jadi pria tua yang menjemput Aida itu Kakeknya. usianya pasti sama dengan Opa. batin Jay
" Jalan lagi, Bob." Ucap Lukman di belakangnya. Bobi mengangguk.
.
Setelah berganti pakaian Aida berkumpul di meja makan bersama kakek dan neneknya sudah waktunya untuk makan siang.
" Nek! Kakek mau ajak kita makan malam di luar." Terang Aida.
" Iya, Ai. Nenek yang minta, sesekali kita jalan bertiga makan di luar gak ada salahnya." Ungkap Nenek Miranti.
" Sudah ngobrolnya di lanjut nanti, sekarang kita makan siang dulu." Ajak Kakek Rianto.
Mereka bertiga duduk dengan tenang menikmati makan siang bersama sampai isi piring tandas tak bersisa.
" Jangan lupa minum obatmu, Ai." Nenek Miranti mengingatkan.
" Iya, Nek. Aida ke kamar dulu ambil obatnya." Ucap Aida.
Di dalam kamar Aida mengambil obat yang di taruhnya di dalam laci nakas.
" Aku tadi keterlaluan gak ya sama Bobi." Jujur Aida masih tak enak hati dengan sikapnya sendiri. Melihat Bobi membuat luka di hatinya terbuka dan teringat dengan orang yang mengaku kakaknya.
Aida tidak meneruskan apa yang di pikirkannya dia bisa sakit lagi, karena setres bisa berpengaruh buruk bagi kondisi tubuhnya yang baru saja pulih.
" Aida!." Panggil Nenek Miranti di susul ketukan pintu.
" Iya, Nek, sebentar." Aida membuka pintu.
" Ini Nenek bawakan air buat minum obat, kamu istirihat saja di kamar." Saran Nenek Miranti.
" Iya, Nek." Aida mengambil segelas air dari tangan neneknya.
.
.
.
Di dalam arena billiard Bobi, Lukman, Joni, Faisal dan Gerry memegang tongkat masing-masing bersiap untuk main.
" Kita gak salah main ke tempat billiar siang-siang?." Tanya Joni.
" Orang juga ada yang datang dari pagi buat main billiar, Jon." Jawab Lukman.
" Ada kafe di lantai paling atas kalau kamu gak mau main billiard." Ungkap Bobi.
" Datang bareng-bareng masa nongkrong sendirian." Keluh Joni.
Permainan billiard yang berlangsung singkat meski sudah ketiga kalinya karena Bobi, Faisal dan Lukman banyak memasukkan bola.
" Hahhh~ Aku nyerah." Gerry duduk bersandar di bangku panjang.
" Kalian bertiga saja yang main." Joni ikut duduk di sebelah Gerry.
" Selesai main kita nongkrong di kafe atas." Kata Bobi. Semua setuju.
__ADS_1
Bobi, Lukman dan Faisal menikmati permainan billiar yang sengit, tiba-tiba saja tiga orang gadis datang dan merangkul mereka.
" Hai, Bob." Sapa Mourin.
" Lepas." Pinta Bobi.
Bukannya melepas Mourin dengan manja memeluk pinggang Bobi, laki-laki yang disukainya.
" Permainan billiard kamu keren juga, Man." Puji Yina. Lukman tak menjawah dia hanya menyingkirkan tangan gadis yang merangkulnya.
" Kamu juga keren, Sal." Puji Lola tak mau kalah.
" Basi." Faisal menghidar dari Lola.
Bobi melepas paksa pelukan Mourin, dia merasa risih dengan gadis yang bersikap seenaknya.
" Kita pulang." Bobi menghentikan permaian billiar yang baru setengah jalan.
" Kita gak jadi nongkrong di kafe atas?." Tanya Joni.
" Kamu saja sendiri, Jon." Jawab Lukman.
Keberadaan Mourin, Lola dan Yina tak pernah di sukai Bobi, Lukman, Gerry dan Faisal kecuali Joni karena tidak tak pernah di usik ketiga gadis yang hobi cari perhatian.
Mourin mengerutu kesal melihat kepergian Bobi sama halnya dengan Lola dan Yina, lagi-lagi mereka kehadiran mereka diabaikan.
.
.
.
Ben berada di dalam mobil bersama sekretaris Yun yang duduk bersebelahan dengan supir yang fokus mengemudi. Mereka menuju tempat dimana orang yang mengundang Tuan Muda makan malam menunggu.
Membuka pintu mobil, " Silahkan, Tuan Muda."
Ben turun dari mobil merapihkan jasnya sebelum melangkah masuk ke dalam restaurant di ikuti sekretarisnya.
Tuan Lando dan Asisten pribadinya berdiri menyambut kedatangan CEO dari Askara Grup.
" Selamat datang, Tuan Muda." Tuan Lando berjabat tangan dengan Ben. " Silahkan duduk." Lanjutnya.
Sekretaris Yun menarik kursi untuk Tuan Mudanya bisa duduk. Tanpa basa-basi Tuan Lando mengutarakan maksud dan tujuannya mengundang makan malam membicarakan bisnis yang berkaitan dengan keingannya untuk bekerjasama dengan Askara Group.
" Saya masih berharap Tuan Muda bisa mempertimbangkan lagi kerjasama kita." Keinginan Tuan Lando.
" Anda masih belum menyerah juga, kalau begitu tentunya Anda tahu betul bagaimana jika ingin bekerjasama dengan Askara Grup." Papar Sekretaris Yun mewakili Tuan Mudanya.
Ben yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tak banyak bicara hanya diam tidak menjawab, karena dia tahu kapan harus angkat bicara.
" Sekertaris Yun sebagai seorang pria Anda patut di perhitungkan." Puji Tuan Lando.
" Apa Anda sudah mengerti?." Tanya Sekretaris Yun tidak ingin basa basi.
" Tentu, bagaimana kalau sekarang kita makan malam saja dulu." Pinta Tuan Lando karena makanan sudah tersaji di atas meja.
Tuan Muda Ben berdiri, " Saya harus ke toilet."
" Silahkan, Tuan Muda, kami akan menunggu." Ucap Jimi sekretaris Tuan Lando
__ADS_1
" Hmmm..." Ben pergi ke toilet sendiri tanpa di temani Sekretaris Yun.
Di restaurant yang sama Aida bersama keluarganya baru saja datang untuk makan malam bersama. Nenek Miranti berhasil membujuk suaminya untuk
" Kakek yakin kita makan disini?. Tanya Aida mengedarkan pandanganya.
" Kita mampu, sesekali Kakek ingin menyenangkan kalian berdua." Jawab Kakek melangkah mendaului Aida mencari tempat duduk.
" Sudah Ai, ayo kita duduk." Ajak Nenek Miranti.
" Aida ke toilet dulu ya Nek."
" Iya, jangan lama-lama." Ucap Nenek Miranti lagi.
Aida pergi mencari toilet di area restaurant, Nenek Miranti bergabung dengan Kakek Rianto duduk di kursi sebelahnya.
" Aida, kemana?. Tanya Kakek Rianto.
" Toilet." Jawab singkat Nenek Miranti.
.
Toilet berada di samping luar area restaurant terdapat sebuah taman kecil di depannya. Aida keluar dari toilet wanita, dia harus segera kembali ke dalama restaurant tanpa sadar menabrak tubuh seseorang yang baru keluar dari toilet pria sedang merapihkan jasnya.
" Maaf, saya... ." Ucap Aida terpotong melihat siapa yang di tabraknya.
Deg!
Dia ada disini? Sedang apa? Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi. batin Aida
Aida yang tidak ingin berurusan lagi dengan Tuan B memilih untuk segera pergi. Namun, sayangnya baru satu langkah dengan cepat Tuan B yang tak lain adalah Ben menarik lengan Aida menyudutkannya ke tembok.
" Tuan B, maaf saya harus pergi." Aida menunduk.
" Jangan pernah berpikir bisa lari dariku." Ben mengukung Aida.
Aida ingin berteriak tapi Ben mencegahnya dengan mengatakan kalau sampai dia melakukannya pria itu akan memutar balikkan keadaan. Aida tak berkutik dengan ancaman Ben, dia merasa pria di depanna sangat berkuasa dan bisa berbuat apapun.
" Bagaimana caramu keluar dari apartementku?" Tanya Ben meraih dagu Aida.
Memalingkan wajah, " Saya tidak menjawab pertanyaan yang Anda tahu sendiri jawabnnya." Terang Aida.
Ben tidak terima mendengar jawaban Aida lantas berusaha memaksa mencium bibir ranumnya.
" Tu.. Tuan tidak seharusnya Anda bersikap seperti ini pada seorang gadis." Aida berusaha keras menjauhkan bibirnya dari jangkauan bibir Ben.
" Baiklah." Ben menghentikan aksinya. Aida menatap tak percaya
Dan benar saja bibir Ben mendarat tepat di bibir ranum Aida, gadis yang melebarkan matanya merasa telah di kelabui. Ben terus mencium bibir Aida dan ********** menyalurkan perasaan yang sulit diartikan dirinya sendiri. Aida tak kuasa menahan air matanya hingga menetes, mendapat ciuman dari Ben di area yang terbuka untuk umum membuatnya takut di lihat orang-orang..
"Mmmpphh... ." Aida mendorong tubuh pria di depannya. Ben melepaskan pagutan bibirnya memberi peluang Aida bernapas.
" Sudah cukup Tuan, Anda sudah merengut hal paling berharga dariku, apa itu masih kurang? Adik kesayangan Anda juga sudah sembuh bahkan terlihat sangat sehat, kenapa Anda masih saja ingin berurusan denganku?." Cecar Aida tiada henti dengan mata berkata-kaca menatap marah Ben, dia tidak peduli lagi pria yang menciumnya akan bertindak sejauh apa lagi.
Deg!
Hati Ben berdenyut melihat Aida menangis dan mendengar apa yang di ucapkannya, Maksud Tuan Muda itu mencium Aida bukan lagi untuk balas dendam. Ben sendiri sulit menjabarkan perasaannya. Aida melihat Ben tidak lagi fokus padanya mengambil kesempatan berlari pergi masuk kembali ke restaurant..
" Aida... ." Lirih Ben menyadari gadis itu pergi..
__ADS_1
Aku merindukanmu. batin Ben.
Ben masih ingin menyimpan rasa rindu untuk Aida di hatinya, Tuan Muda sadar rasa rindunya tidak tepat dan mana mungkin gadis yang dijebaknya merasakan hal yang sama, setelah apa yang diperbuatnya pasti menorehkan luka yang teramat dalam di hati Aida.