Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 44


__ADS_3

Ben mengebrak meja dengan sangat keras membuat dokter Sean terkejut, sementara Yun hanya diam tanpa ekspresi persis seperti Jay. Dokter Sean yang merasa tidak melakukan kesalahan tetap saja gemetar ketakutan karena tanpa dia ketahui lebih dulu Ben datang ke rumah sakit.


" Ben, Ah. Tuan muda, apa yang membuatmu sampai datang kemari?." dokter Sean bertanya dengan gelagapan.


" Kau harus jujur." Tegas Ben, dokter Sean mengangguk.


" Aku harus jujur soal apa?."


" Sejauh mana kau tahu hubungan Jay dan gadisku?." Jay menjawab dengan pertanyaan.


" Apa? gadismu? siapa? setahu ku Jay menyukai gadis bernama Aida." dokter Sean mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Dia GADISKU." Yun dan dokter Sean tersentak mendengarnya.


" Sungguh aku tidak mengerti, tapi biar aku jelaskan padamu tuan muda."


Jay memang sedikit terbuka dengan dokter Sean mengenai gadis yang sedang dia sukai dan sejak kapan Jay menyukai Aida tentu saja dokter Sean tahu.


" Katakan!."


Dokter Sean menceritakan bagaimana pertemuan tak sengaja Jay dan Aida di Mall Cinnamon beberapa bulan lalu, karena itu dari sanalah kedekatan Jay dan Aida di mulai. Memang tidak semuanya Jay ceritakan dengan detail jadi apa yang dokter Sean ketahui itu yang dia sampaikan pada Ben tidak kurang dan tidak dia lebihkan.


" Ada satu lagi, terakhir aku memberitahu Jay saat dia masih di Amerika, kalau Aida berada di rumah sakit merawat keluarganya yang terkena serangan jantung. Awalnya aku hanya menduga kalau gadis itu yang Jay sukai karena dia tidak pernah sekali pun menunjukkan fotonya. Tapi saat aku mengirimkan foto Aida sedang tertidur di kursi tunggu pasien, Jay mengatakan memang benar Aida gadis yang selama ini Jay ceritakan padaku."


" Kau bilang apa tadi? foto? berani sekali kau memotret gadisku." Ben menarik kerah jas dokter yang di pakai Sean.


" Tuan muda, mana aku tahu dia gadismu, Jay juga sangat marah saat tahu aku memotretnya."


" Kau."


Ben melepaskan genggamannya dari jas dokter Sean. Ben mengetahu satu hal ternyata di hari itu bukan hanya dirinya yang tertarik dengan Aida tapi Jay juga bahkan pria itu membantu Aida membeli baju di toko pakaian ternama, pantas saja Jay terlambat menemuinya waktu itu.


" Kau masih menyimpannya?"


" Tidak, sudah aku hapus. Hanya Jay yang... ."


Bodoh kenapa kau tidak bisa menjaga mulutmu dokter Sean. Dasar ceroboh.


Yun mengumpat dalam hatinya.


" Lanjutkan!."


" Hanya Jay menyimpannya. Sungguh."


" Apa dia memberitahu mu dimana gadisku berada?."


" Sepengetahuanku dia belum bertemu dengan Aida sejak pulang dari Amerika, karena gadis itu sama sekali tidak bisa dia hubungi. Memangnya Aida menghilang?."


" Kau tidak perlu tahu."


" Ben, apa kalian berdua terlibat cinta segitiga?." dokter Sean tidak peduli walaupun hidup dan matinya dipertaruhkan.


" Dokter Sean." Tegur Yun yang akhirnya angkat suara.


" Kau duduk saja Yun. Kita semua ini sahabat, tapi kenapa harus ada teka-teki di antara kita." keluh dokter Sean, sekali lagi dia tidak peduli dengan nasibnya kalau pun harus di pidah tugaskan ke Afrika sekaligus ternak burung unta. Baginya urusan percintaan antara tuan muda dan Jay yang rumit harus di tuntaskan.


" Duduk."


Begitu Ben yang bicara Yun bersedia duduk di sofa berdekatan dengan dokter Sean.


" Ben, apa kamu yakin tidak salah orang?." dokter Sean ragu jika tuan muda jatuh cinta pada gadis yang sama dengan Jay.


Ben mengeluarkan selembar foto dari saku jas dan meletakkannya di atas meja.


" Kau lihat sendiri, dia gadisku."


Dengan tangan gemetar dokter Sean mengambil foto itu dan melihatnya bersama Yun.

__ADS_1


Dia gadis yang mencium tuan muda di lobby perusahaan jadi namanya Aida. Yun


Dia gadis yang di sukai oleh Jay. dokter Sean


" Kalian berdua tahu sekarang, dia hanya milik ku, tidak akan aku biarkan siapapun memilikinya."


" Ba... bagaimana dengan Jay?."


" Sean, tutup mulut mu." tegur Yun.


" Kau diam Yun, persoalan cinta ini mempertaruhkan persahabatan kita." dokter Sean tidak ingin ada perpecahan antara Ben dan Jay hanya karena mencintai gadis yang sama.


" Aku tidak akan mengulangi perkataanku lagi.


Brakkk!!!


Pintu ruang kerja dokter Sean terbuka lebar karena dorongan keras dari luar oleh seseorang.


" Jay." dokter Sean bangkit dari duduknya.


Sebelum datang Jay mengirim pesan pada Yun untuk mencari tahu keberadaan tuan muda ada dimana. Tanpa menaruh curiga Yun membalas pesan dari Jay yang mengatakan tuan muda dan dirinya ada di rumah sakit bertemu dengan Sean.


" Maaf kedatanganku mengejutkan kalian semua." Jay datang di selimuti amarah dan emosi yang tidak bisa dia kendalikan setelah mengetahui fakta apa yang Ben dan Aida lakukan di dalam unit apartement.


Tidak hanya cctv apartement yang Jay periksa, Jay kembali masuk ke unit 999 dan memeriksa cctv yang terpasang di dalam ruangan. Rekaman video tidak menunjukkan kejanggalan tapi suara yang terekam dengan jelas di dalamnya menegaskan Ben telah melakukan sesuatu yang salah, terdengar suara Aida berteriak, memohon minta di lepaskan, jerita kesakitan dan suara erangan mereka karena Ben tidak mengaktifkan peredam suara kamar pribadinya.


" Jay kenapa kau datang?." Yun berinisiatif bertanya, karena dialah orang yang bertanggungjawab atas kedatangan Jay.


" Aku ada urusan." Jay dingin.


" Kau mau apa kemari? Bukankah aku menyuruh mu ke rumah utama."


" Karena tuan muda ada disini jadi aku kemari untuk mengantarkan ini."


Jay menyerahkan jam tangan milik Ben di atas meja. Ben mengambilnya.


Jay mengeluarkan kalung dari genggaman hanya menyisakan ujungnya yang masih dia pegang.


" Aku menemukan ini di sebelah jam tanganmu, tuan muda."


Ben sama sekali tidak tahu jika kalung itu milik Aida karena dia sama sekali tida menyadari gadis itu memakai kalung saat bertemu dengannya.


" Mungkin itu milik seorang pelayan, kau berikan saja pada Pak Mus." Ben bicara dengan enteng tanpa beban.


" Kamu yakin? atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan?." cecar Jay tidak terima dengan apa yang Ben katakan.


" Jay, cukup. Kau sudah lancang." tegur Yun.


" Kau diam, aku tidak ada urusan denganmu."


" Jay, lebih baik bicara sambil duduk." usul dokter Sean.


" Kau juga diam." bentak Jay


" Berani sekali kau meninggikan suara di depanku." Ben yang emosi berdiri diikuti yang lain.


" Apa aku masih harus bersikap hormat padamu tuan muda?."


Jay menggerakan kalung dengan liontin bunga mawar ke kiri dan kanan tepat di depan wajah Ben.


" Jay. turunkan tangan mu." Yun memegang lengan Jay menariknya untuk turun.


" Ada nama yang tertulis di liontin ini, kau tidak bisa berkilah tuan muda Ben."


Ben mengepalkan tangannya dia tidak terima sikap Jay padanya saat ini, dia merebut paksa kalung yang di pegang Jay dan melihat nama yang terukir di liontinnya.


" Aida." lirihnya

__ADS_1


" Kau terkejut, aku yang memberikannya sebagi hadiah untuk Aida. Kau brengsekk Ben."


Bughhh!!!


Jay melayangkan pukulan untuk menghajar Ben, tapi Yun sigap menghadangnya dan menerima pukulan telak itu tepat di perutnya.


" akhhh... ." Yun meringis kesakitan.


" Jay, apa yang kau lakukan." dokter Sean menarik mundur Jay.


" Lepaskan. Pria brengsekkk seperti dia harus diberikan pelajaran."


" Lakukan." Ben menantang Jay.


Yun yang menahan sakit di perutnya dan dokter Sean saling pandang, apa akan terjadi pertumpahan darah sekarang. Ini tidak bisa dibiarkan, jika salah satu di antara mereka terluka parah akan muncul masalah besar.


" Aku tidak menyangka sebegitu bencinya kau pada Aida karena menolak cinta Bobi."


Yun dan dokter Sean dibuat terkejut oleh pernyataan Jay yang menyatut nama Bobi.


Jay hendak melayangkan pukulan ke wajah Ben tapi dia mengurungkan niatnya.


" Katakan, apa yang sudah kau lakukan pada Aida?." air mata Jay sebagai seorang pria jatuh menetes, merasa perih menghadapi kenyataan yang ada. Hatinya telah patah sebelum mengutarakan cinta pada gadis pujaan hatinya.


" Aku menghabiskan satu malam dengannya, dia milikku. Aku peringatkan padamu untuk tidak lagi mencari dan menemui Aida. Jangan pernah melanggar atau kau tahu sendiri akibatnya." ancam Ben, dia angkat kaki dari ruangan dokter Sean meninggalkan ketiga pria yang berdiri terdiam tak percaya tuan muda mereka berterus terang dengan perbuatannya.


" Yun, kau dengar itu. Tuan muda kita." bisik dokter Sean


" Diam."


Jay terduduk di sofa di susul dokter Sean dan Yun.


" Kau tidak menyusulnya?." tanya Jay.


" Kejar." timpal dokter Sean..


" Kau mau aku mati di tangannya sekarang?. Yun balik bertanya, dokter Sean menggeleng


Kemarahan Ben adalah hal paling menakutkan bagi mereka, tidak ada yang berani mendekati tuan muda saat sedang marah. Hanya satu orang yang bisa mengendalikannya, Bisma.


Tidak ada yang bicara satu sama lain mereka bertiga diam menenangkan hati dan pikiran masing-masing dari perkataan Ben. Tapi, dokter Sean tidak bisa lama menahan diri untuk menghilangkan rasa penasarannya.


" Jay, apa hubungannya semua ini dengan Bobi?."


" Bobi jatuh cinta tapi gadis itu menolaknya, Ben meminta untuk menyelidiki siapa yang menolak cinta adiknya dan ternyata dia Aida, gadis yang sudah aku kenal sebelumnya. Tadi aku menemukan sebuah kebenaran tentang Ben yang menghabiskan satu malam dengan Aida sehari sebelum aku pergi ke Amerika dan aku tidak tahu lagi apa yang Ben perbuat padanya."


" Tuan muda mengatakan Aida gadisnya, apa itu artinya dari benci jadi cinta."


" Ben mencintai Aida." Yun tahu karena Ben sangat merindukan Aida, tidak mungkin jika membenci seseorang tapi merindukannya.


" Kenapa harus gadis yang sama." Jay memegang kepalanya yang terasa pening, menyadari tindakannya yang salah karena di selimuti amarah dan emosi yang sudah menguasai diri.


" Aku tidak menyangka Ben sudah tidur dengan seorang gadis." dokter Sean merasa kecewa, sahabat yang sangat dia hormati sudah melewati batasannya."


" Kau masih berani mengatakan hal itu." tegur Yun, dia sendiri kecewa tapi apa mau di kata semua sudah terjadi.


Yun mengerti ada cinta antara Ben dan Aida meski tidak diungkapkan satu sama lain, dia juga memahami apa yang sudah terjadi merupakan suatu kerumitan yang melibatkan perasaan banyak orang.


" Maaf." sesal dokter Sean.


" Apa aku harus melepasnya." Jay masih tidak rela Aida akan menjadi milik orang lain meski orang itu sahabatnya sendiri.


Ada yang harus Jay mengerti, lepasnya kalung yang dia berikan dari leher Aida mungkin sebuah pertanda, gadis itu bukanlah untuknya.


" Jay percayalah mereka saling mencintai, meski semua berawal dari sebuah kesalahan."


Yun tidak ingin ada pepecahan yang terjadi dalam persahabatan mereka, dia juga tidak bermaksud memihak pada siapapun.

__ADS_1


__ADS_2