Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 21


__ADS_3

Pagi ini Aida kembali menikmati sarapan di meja makan hanya bersama neneknya. Aida merasa kondisi tubuhnya sudah membaik memutuskan untuk masuk kuliah, sudah cukup hanya dua hari dirinya absen.


" Kamu yakin mau masuk kuliah?." Tanya Nenek Miranti memastikan.


" Iya, Nek. Aida sudah mendingan." Jawab Aida sebelum makan suapan terakhir.


" Ya, sudah. Tapi kamu jangan kerja dulu." Pinta Nenek hanya mengizinkan cucunya kuliah.


Aida harus menurut bukan hanya karena patuh pada sang nenek tapi dia juga masih harus memulihkan dirinya terutama batinnya. Hampir setiap malam Aida bermimpi buruk, sejak kejadian buruk yang menimpanya tempo hari.


" Aida berangkat dulu, Nek." Ucap Aida.


" Kamu naik taksi saja, Ai." Suruh Nenek Miranti.


" Iya, Nek." Aida mencium unggung tangan sang nenek sebelum keluar rumah.


Di teras rumah Aida menunggu taksi online yang di pesannya lewat aplikasi datang. Begitu taksi onlinenya sampai Aida menghampirinya masuk ke dalam mobi.


" Sesuai aplikasi ya, Mba." Ucap Supir taksi online.


" Iya, Pak." Ucap Aida.


Selama perjalanan menuju kampus Aida terus menatap ponsel miliknya berharap Jay menghubunginya meski hanya mengirim pesan. Andai saja waktu bisa di putar kembali Aida lebih baik kehilangan satu orderan dan pelanggan baru daripada tak bisa bertemu dengan Jay. Tapi menyesal pun tak ada arti, semua sudah terjadi waktu tak bisa di putar kembali.


" Mungkin disana Kak Jay sedang sibuk." Lirih Aida, " Apa aku yang sekarang pantas merindukannya." Ucap Aida menitikan airmata.


" Merindukkan seseorang bukan perkara pantas atau tidak, sering kali orang lebih memilih memendam perasaannya dari pada mengutarakan. Kalau rindu sampaikan saja meskipun orang yang dirindukkan tak merindukkan. Itu saran Saya, maaf ya Mba." Ujar Supir taksi online.


" Gak apa-apa, Saya justru berterima kasih dapat saran dari Bapak." Ucap Aida.


" Sama-sama. Kita sudah sampai, Mba." Supir taksi menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus.


" Makasih, Pak." Aida menyerahkan ongkos taksi onlinenya. " Kembaliannya ambil saja." Lanjut Aida membuka pintu mobil turun dari taksi.


" Terima kasih banyak, Mba." Ujar Supir taksi.


Aida menatap gedung kampus rasanya seperti sudah lama tidak mengijakan kakinya disana. Aida senang bisa kembali berkuliah, bertemu dengan sahabat dan juga teman-temannya. Kedatangan Aida di sambut oleh Nura yang terlihat bersemangat berlari ke arahnya.


" Jangan lari-lari, Ra." Larang Aida.


" Hah hah hah... Aku senang lihat kamu masuk kuliah lagi." Nura mengatur napas.


" Aku juga senang ketemu kamu lagi." Aida dan Nura berpelukan melepas rindu.


Mereka berdua masuk ke area kampus menuju ruang kelas, Nura sama sekali tak mau melepas gandengan tangannya dengan tangan Aida. Selama Aida tak masuk kuliah Nura merasa kesepian meski pun ada Rena yang mulai akrab dengannya. Nura bukannya pemilih dalam berteman, hanya saja dia merasa sudah cukup memiliki Aida sebagai seorang teman sekaligus sahabat yang tak ada duanya.


Lukman dari kejauhan melihat Aida dan Nura segera pergi untuk memberitahu Bobi, jika gadis yang tak ada kabarnya sudah kembali masuk kuliah.


" Bob... Bobi..." Teriak Lukman masuk ke dalam kelas.


" Kamu lari-lari di kejar setan?." Tanya Joni.


" Diam kamu, Jon." Pinta Lukman.


" Katakan, ada apa?." Tanya Bobi santai.


" Aku lihat tadi Aida masuk kuliah." Terang Lukman.


" Oh!," Bobi hanya beroh ria.


Bobi teringat pesan dari Mama Maisha, dia harus bersikap dewasa jangan tergesa-gesa dalam bertindak. Demi memeluhkan pujaan hatinya dia harus memantaskan dirinya sebagai laki-laki yang layak diperhitungkan.


Respon Bobi yang tak biasanya membuat semua sahabatnya bertanya-tanya dan membandingkan dengan sikap Bobi yang kemarin


" Ke sambet apa ini anak." Faisal heran.

__ADS_1


" Jiwanya ketuker kali, tumben kalem." Sindir Gerry.


" Sembarangan, aku gak mau senang berlebihan." Dalih Bobi.


Semua sahabat Bobi memuji sikapnya yang tak lagi kekanak-kanakkan dan pola pikir yang tak lagi semaunya sendiri.


.


.


.


Ben berada di ruang kerjanya sedang menghubungi seseorang, dia tampak berbicara serius tak memberi jeda untuk lawan bicaranya.


" Awasi baik-baik dan laporkan semuanya padaku." Ben mengakhiri panggilannya sepihak.


Pria yang memegang segala kendali itu kembali memeriksa berkas di atas meja. Dia harus menyelesaikan pekerjaan sendiri tanpa bantuan Jay asisten pribadi yang setia berdiri dibelakangnya.


" Terakhir kali Jay menghubungiku dia sudah sampai Amerika, apa pertemuan bisnisnya berjalan lancar? kenapa dia belum menghubungiku?." Ben bermonolog.


Ben mencoba mengalihkan pikirannya pada hal lain daripada terus memikirkan Aida yang selalu mengingatkannya dengan permainan panas mereka.


" Aku bisa gila jika terus begini." Ben mengacak-acak rambutnya frustasi.


.


" Tuan Muda, boleh saya masuk." Panggil Sekretaris Yun di susul ketukan pintu.


Ben merapihkan dirinya, " Masuk."


" Tuan Muda, saya ingin menyampaikan kalau malam ini Anda ada undungan makan malam dari Tuan Lando sekaligus membicarakan soal kerjasama." Papar Sekretaris Yun.


" Kau persiapkan semuanya." Perintah Ben.


" Baik, Tuan Muda. Saya permisi." Sekretaris Yun undur diri.


Dalam berbisnis Ben sangat slektif memilih rekan kerja, dia bisa menolak dan menerima kerjasama tanpa bisa dibantah. Bahkan dia berani menghacurkan perusahaan yang mau mengajaknya bermain kotor dalam bisnis.


.


.


.


Mata kuliah pagi telah selesai, Aida bersiap untuk pulang. Sesuai permintaan sang nenek dia belum memulai lagi pekerjaannya, selain itu Aida masih belum fokus bahkan saat dosen menerangkan mata kuliah dirinya justru melamun. Jika orang lain sadar pasti mengira sedang banyak pikiran, tapi memang benar itu adanya.


" Kamu pulang sendiri, Ai?." Tanya Nura.


" Kakek tadi mengirim pesan mau menjemputku." Jawab Aida.


" Syukurlah! Kalau kamu pulang sendiri lebih baik aku antar." Nura bernapas lega.


" Makasih ya, Ra. Kamu perhatian sekali sama aku." Aida memeluk sahabatnya.


" Bagiku kita itu lebih dari sahabat, kamu aku anggap saudara." Tutur Nura tulus.


Mereka mengurai pelukan keluar dari ruang kelas yang sudah sepi.


.


Aida dan Nura bertemu Bobi bersama keempat sahabatnya di koridor kampus.


" Kita pergi saja, Ai." Bisik Nura. Aida mengangguk.


" Aida! Tunggu." Bobi menghentikan langkah Aida yang melewatinya.

__ADS_1


Nura mendengus, " Jangan di gubris." di luar dugaan Aida justru kembali mengangguk menuruti permintaan sahabatnya.


" Ai! Bisa kita bicara? sebelumnya aku mau minta maaf." Tanya Bobi penuh harap.


" Aku... gak mau bicara denganmu lagi, tolong mulai sekarang menjauhlah dariku." Ujar Aida mengajak Nura pergi tak peduli Bobi akan mengatakan apa.


Bobi menghela napas, " Apa tadi itu Aida, kenapa jadi terasa seperti orang lain."


" Beri dia waktu, kamu harus sabar." Saran Faisal menepuk bahu sahabatnya.


" Kita mau kemana sekarang?." Tanya Gerry mengalihkan pembicaraan.


" Ke tempat main billiard gimana?." Usul Lukman.


" Kita pergi." Bobi setuju.


" Hei, Bob. Maksudmu kita ke tempat main billiard?." Tanya Joni memastikan.


Lukman, Gerry dan Faisal membiarkan Joni berjalan cepat mengejar Bobi yang mencari jawabat atas pertanyaannya.


" Dasar bodoh, dia masih belum paham juga kalau Bobi ngomong." Ejek Gerry tergelak bersama Lukman dan Faisal.


Bobi sama seperti Ben jika bicara singkat, padat dan orang lain harus paham dengan maksudnya. Kakak beradi memang kompak meninda pemikiran orang-orang. Jangan tertawa, belajarlah memahami mereka.


.


Di gerbang pintu masuk kampus kakek Rianto sudah menunggu cucunya pulang kuliah di luar mobil.


" Aida!." Panggil Kakek Rianto mengangkat satu tangannya.


" Kakek!." Sahut Aida.


Nura pamit dari jauh menunduk pada kakek Rianto sebelum masuk ke mobil yang dikemudikan supirnya.


" Aku duluan ya, Ai." Nura membuka pintu mobil.


" Iya, sampai ketemu besok." Aida tersenyum.


Setelah Nura pergi dengan mobilnya, Aida menghampiri sang kakek yang sudah menunggunya.


Kakek Rianto membukakan pintu mobil untuk cucunya. Bobi dari kejauhan melihatnya diatas motor yang dia kendara.


Aida di jemput siapa, gak biasanya. batin Bobi


" Kamu liatin apa, Bob?. Tanya Faisal mengsejajarkan motornya menghalangi pandangan Bobi yang sedang memperhatikan Aida bersama seseorang.


" Bukan apa-apa." Jawab Bobi asal kembali melajukan motornya ke jalan raya di susul sahabatnya satu persatu.


Di lampu merah mobil sedan Aida berhenti sama halnya dengan motor Bobi dan keempat sahabatnya.


" Bob! Itu bukannya Aida?." Tanya Lukman di sebelah kiri motor Bobi.


Bobi menoleh untuk memastikan benar atau tidak yang ditanyakan sahabatnya.


Aida tertawa riang di dalam mobil bersama kakek Rianto yang mengajaknya bersenda gurau.


Lampu kembali hijau satu persatu kendaraan mulai melaju lagi. Kakek Rianto menancap gas mobilnya.


" Nanti malam kita bertiga makan malam di luar, mau?." Tanya kakek Rianto tetap fokus menyetir.


" Kakek dapat durian runtuh?." Aida balik bertanya dengan mata berbinar.


" Kamu ini." Kata Kakek.


Aida cenggegesan, " Maaf, Kek. Aida mau malam di luar." Senang.

__ADS_1


Tanpa Aida tahu Bobi mengikuti mobilnya di belakang karena jalur yang mereka lalui searah.


__ADS_2