
Aida sampai di rumahnya segera masuk ke dalam kamar, hari ini Aida terpaksa tak pergi kuliah dengan kondisinya yang tak memungkinkan. Apa kata teman-temannya nanti melihat mata sembab Aida dan cara berjalannya yang aneh.
Ingin sekali rasanya Aida memeluk Jay tadi, meminta perlindungan. Tapi untuk apa karenanya hanya teman prianya bukan kekasih atau kakaknya.
Meski membuat Jay jadi bertanya-tanya karena dia menghindarinya itu lebih baik daripada Aida harus mengatakan apa yang telah menimpanya.
Aida mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya sebelum meringkuk di atas ranjangnya di balik selimut. Selagi nenek dan kakeknya tak ada di rumah, mereka tak akan tahu jika Aida tak masuk kuliah hari ini dan untuk pertama kaliannya Aida harus bolos kuliah, hal yang tak pernah dirinya lakukan.
Begitu menyalakan ponsel banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab di aplikasi whatsAppnya.
Panggilan masuk dari Nura membuat Aida belum sempat membuka chat yang masuk.
" Hallo! Ai, kamu dimana? Rena bilang kamu gak ada kabar dari semalam." Cecar Nura.
" Maaf! Aku sakit." Aida terpaksa harus berbohong.
" Kamu sakit? Aku pikir sesuatu terjadi padamu." Nura memastikan.
" Iya, sampaikan maafku untuk Rena. Semalam baterai ponselku habis, aku charger dan lupa menyalakannya." Aida kembali berbohong.
" Baiklah! Akan aku sampaikan, aku sudah absenkan dirimu tadi karena aku pikir kamu masuk kuliah tapi datang terlambat. Lekas sembuh ya, kalau sempat aku akan menjenggukmu sepulang kuliah." Tutur Nura.
" Iya, kabari aku jika mau datang." Ucap Aida.
" Ok! Bye." Nura mengakhiri panggilannya.
Nura yang sangat mengenal Aida merasa ada yang aneh dengan sahabatnya, karena Aida yang selama dia kenal tak pernah sekalipun absen dari kuliah bahkan sedari masa sekolah menengah atas.
.
" Maaf! Aku sudah berbohong padamu dan juga Rena, Ra." Sesal Aida.
Aida turun dari ranjangnya keluar kamar memuju dapur ingin mengambil es batu di dalam kulkas untuk mengopres matanya yang sembab dan membengkak.
Kembali ke kamarnya Aida mencari handuk kecil. Duduk di tepi ranjang dia mulai menyelipkan es batu di dalam haduk kecil lalu berbaring dan siap mengopres kedua matanya.
.
.
.
Ben dan Jay bersama seorang supir pergi ke rumah sakit sebelum tiba waktunya Jay pergi ke Bandara.
Jay duduk di samping supir dan Ben seperti biasa berada di kursi belakang.
" Kau yakin tidak akan terlambat, Jay?." Tanya Ben.
" Tidak, Tuan Muda. Saya ingin menjenggung Tuan Muda Bobi sebelum pergi ke Amerika." Jawab Jay.
Sesampainya di rumah sakit semua pegawai yang melihat kedatangan Ben dan Jay menunduk hormat menyambut keduanya.
Menggunakan lift Ben dan Jay sampai di lantai 9 menuju ruang rawat inap VVIP khusus keluarga Askara.
Dua pengawal yang berjaga di pintu ruang rawat inap menunduk hormat melihat kedatangan Tuan Muda Ben.
__ADS_1
" Selamat datang, Tuan Muda." Ucap salah seorang pengawal dan membukakan pintu.
Ben diikuti Jay masuk ke dalam kamar rawat inap Bobi yang sedang menikmati makan siangnya dari suapan sendok terakhir yang diberikan Mama Maisha.
" Kamu sudah datang Ben." Sapa Mama Maisha, Ben hanya memberi senyum.
" Kamu sudah lebih baik, Boi?." Tanya Ben.
Bobi hanya mengangguk bahkan tak berani menatap Ben yang berbicara padanya.
" Anda tetlihat jauh lebih baik Tuan Muda Bobi." Ucap Jay. Bobi tak menjawab.
" Jangan khawatir Kakakmu sudah tidak marah, benarkan Ben?." Tanya Mama Maisha.
" Itu benar, Kakak justru khawatir pada kondisimu." Ben nepuk bahu adik sepupunya.
" Maaf, Kak." Ucap Bobi masih tertunduk.
" Sudahlah! Kamu harus segera sembuh, jangan terlalu lama absen dari kuliah." Ben menasehati adiknya.
" Aku sudah mulai membaik." Bobi tersenyum menatap Ben, yang membalas dengan senyuman.
Sebelum kedatangan Ben dan Jay, Mama Maisha sempat menasehati putra bungsunya untuk tidak larut dalam kesedihan dengan mengatakan jika perasaan cinta Bobi itu bukan akhir dari segalanya, putranya itu masih punya kesempatan untuk berjuang meluluhkan hati gadis yang disukainya selama gadis itu belum terikat hubungan khusus dengan seseorang.
Mama Maisha juga memberitahu pada Bobi bagaimana cara menaklukan hati seorang gadis dengan pendekatan yang baik.
Mendapatkan dukungan dari sang mama, Bobi kembali bersemangat untuk bisa segera sembuh dan kembali kuliah agar bisa bertemu dengan Aida, gadis yang berhasil menarik perhatiannya.
.
" Kamu mau pergi Jay?. Tanya Mama Maisha.
" Saya akan ke Amerika untuk pertemuan bisnis, Nyonya." Jawab Jay.
" Kalau begitu kamu hati-hati ya Jay." Pesan Mama Maisha.
" Pergilah! Beri kabar jika sudah sampai." Ben dengan mada dingin melepas kepergian Jay.
" Baik Tuan Muda." Kata Jay, " Nyonya, Tuan Muda Bobi, saya pamit." Jay menunduk hormat. Mama Maisha hanya mengangguk.
Jay keluar dari ruang rawat inapnya Bobi dengan tanda tanya besar melihat sikap Ben yang tak seperti biasanya.
Bukankah seharusnya Tuan Muda senang melihat kondisi adiknya yang semakin membaik, lalu apa lagi yang dipikirkannya. batin Jay
Menempuh perjalanan satu jam Jay sampai di Bandara tepat pukul dua belas lewat lima belas menit, dia diantar oleh supir perusahaan Askara Grup.
Jay yang menunggu waktu keberangkatan tiba, duduk di kursi calon penumpang pesawat first class.
" Apa sebaiknya aku hubungi Aida lagi, mungkin kali ini tersambung." Jay mencari nomor kontak Aida dan menekan tombol hijau membuat panggilan.
Dan benar saja ponsel Aida sudah aktif kembali tapi pemiliknya tak juga menerima sambungan telepon dari Jay, untuk kesekian kalinya Jay belum menyerah, dia masih mencoba menghubungi nomor kontak gadis pujaan hatinya.
.
.
__ADS_1
.
Nenek Miranti yang baru saja pulang ke rumah lebih dulu dari pasar mendengar ponsel milik cucunya berdering di dalam kamar.
" Ai! Ponselmu bunyi." di susul ketukan pintu.
Karena tak ada jawaban Nenek Miranti membuka pelan pintu kamar Aida dan melihat cucunya sedang tertidur dengan kompresan diatas keningnya.
Nenek Miranti masuk memeriksa kondisi sang cucu dengan meletakkan punggung tangannya di kedua sisi leher Aida bergantian dan juga keningnya.
" Kamu demam Aida." Nenek Miranti dengan raut wajah yang berubah cemas karena ini pertama kalinya Aida kembali jatuh sakit setelah sekian lama.
Mendengar ponsel Aida terus berdering Nenek Miranti berinisiatif menerima panggilan masuk dengan nama kontak kakak.
" Hallo, Ai! syukurlah kamu bisa dihubungi, sekarang Kakak ada di Bandara untuk terbang ke Amerika, Maaf gak bisa berpamitan padamu secara langsung, nanti begitu sampai disana Kakak akan hubungi kembali." Jay terus bicara tanpa tahu kalau bukan Aida yang menerima telepon darinya.
" Maaf, Nak. Saya neneknya Aida, saat ini cucu nenek sedang tidur. Kamu bisa menghubunginya lagi nanti." Jelas Nenek Miranti memberitahu kondisi cucunya pada Jay
" Maaf saya mengganggu, Nek." Ujar Jay merasa tidak enak hati.
" Tidak apa, hanya saja saat ini Aida sedang demam, nenek harus merawatnya." Nenek Miranti bermaksud mengakhiri panggilan.
" Semoga Aida lekas sembuh, Nek. Sekali lagi saya minta maaf." Ujar Jay.
" Iya, terima kasih, Nak." Nenek Miranti mengakhiri panggilan.
.
Nenek Miranti menghubungi suaminya dengan ponsel Aida untuk memberi kabar jika cucu mereka jatuh sakit. Aida yang tidur terbangun mendengar suara yang dia tahu itu sang Nenek.
" Nek! Ai haus." Suara Aida serak,
" Iya, sayang." Kata Nenek Miranti membantu cucunya untuk bangun duduk bersandar di atas ranjang.
Nenek Miranti mengambil segelas air di atas nakas lalu memberikannya pada Aida tanpa melepaskan gelas yang masih dipegangnya untuk membantu sang cucu bisa minum dengan benar.
" Kamu sudah makan?" Tanya Nenek Miranti, Aida menggeleng.
" Gadis nakal, kamu selalu saja lupa makan." Seloroh Nenek Miranti mencoba menghibur cucunya meski sedang sakit.
" Maaf, Nek." Aida berusaha tersenyum.
" Ya, sudah. Kamu tunggu disini jangan kemana-mana, Nenek buatkan bubur dulu sebelum kamu minum obat." Ujar Nenek.
" Siap! Ibu Ratu." Aida masih bisa melakukan kebiasaannya memberi hormat pada sang nenek yang hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah cucunya yang seperti biasa walau sedang sakit.
" Oh! ya, tadi ada yang meneleponmu dengan nama kakak, dia bilang sedang di Bandara untuk terbang ke Amerika. Nenek bilang padanya kamu sedang tidur dan sedang demam." Jelas Nenek sebelum keluar dari kamar Aida untuk memasak bubur di dapur.
Aida berpikir apa mungkin semalam tujuan Jay mengajaknya pergi makan malam di restaurant untuk berpamitan sebelum pergi ke Amerika hari ini.
" Aku harus menghubungi Kakak, mungkin saja dia khawatir padaku." Aida menduga
Aida mencoba menghubungi Jay tapi nomor kontaknya sudah tidak aktif. Pikir Aida kemungkinan besar Jay sudah berada di dalam pesawat.
" Aku kirim pesan saja, nanti Kakak pasti membacanya." Ucap Aida.
__ADS_1
Aida menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sejenak mencari kenyamanan dan ketenangan.