Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 46


__ADS_3

Makan malam keluarga Askara.


Tidak ada yang berbeda, selalu sama seperti biasanya. Saat sedang makan tidak akan ada satu orang pun yang bicara sampai mereka selesai menikmati hidangan yang disajikan untuk makan malam.


" Aku sudah selesai."


Ben berdiri dari duduknya, dia bermaksud untuk kembali ke kamar pribadinya lebih dulu.


" Kakak marah padaku?."


Bobi menghentikan langkah Ben yang hampir keluar dari ruang makan utama. Ben dia tidak menjawab pertanyaan adiknya.


" Maaf atas tindakan ku kemarin malam, sungguh saat itu aku sangat kecewa padamu."


Meski Bobi sakit hati dan kecewa karena kakaknya merebut gadis yang dia sukai, sebagai adik dia merasa bersalah sudah berteriak dan marah pada Ben di depan semua orang di rumah utama. Bahkan tidak hanya keluarga, para pelayan dan pekerja lainnya ikut mendengar meski mereka tetap bekerja.


" Ben, adikmu sangat menyesal. Sejak pagi dia berusaha untuk menemuimu tapi kamu sudah keluar rumah pagi sekali."


Mama Maisha mengungkapkan apa yang dirinya ketahui, dia tidak ingin hubungan kakak beradik renggang.


Ben mengakui bukankah seharusnya dia yang meminta maaf lebih dulu, sebab dirinyalah yang paling bersalah sudah mengecewakan adik kesayangannya.


" Boi, kamu tidak bersalah."


Karena Ben sendiri yang salah langkah.


" Kita bicarakan di tempat lain."


Papa Zeino tidak ingin pembicaraan berlanjut di ruang makan, dia mengajak semua anggota keluarga berpindah tempat ke ruang keluarga.


" Aku tidak membenarkan tindakan diriku yang sudah melewati batas."


Sekali lagi Ben harus memberitahu selain pada Bisma karena pengaruh minumanlah dirinya sampai hati menodai kesucian gadis itu.


Ben juga menjelaskan pada semua anggota keluarga tujuan awalnya tidaklah begitu, dia hanya ingin memberikan ranting buruk untuk pekerjaan Aida dan menakuti gadis itu.


" Apa kakak mencintainya?."


Bobi ingin tahu apa Ben memiliki perasaan pada Aida.


" Aku sudah tertarik padanya sejak lama."


Itu artinya Ben mengenal Aida jauh sebelum dia tahu, Bobi patah hati karena cintanya di tolak oleh gadis itu pikir semua orang.


" Kakak sudah lama mengenalnya?."


Bobi semakin di buat penasaran.


" Tidak, aku hanya tidak sengaja pernah menabraknya di Mall, aku baru tahu siapa dia saat menyelidiki apa yang terjadi padamu."


" Ben, kamu harus bertanggungjawab padanya."


Opa Baskara tidak ingin cucu sulungnya itu lari dari tanggungjawab dan merasa bersalah dikemudian hari.


Mama Maisha memijat kepalanya yang terasa pusing, dirinya tidak menyangka akan mendapatkan seorang menantu dengan cara tak biasa akibat ulah terlarang putra sulungnya.

__ADS_1


" Mama, kenapa?.


Papa Zeino khawatir melihat istrinya terus saja memijat kening sendiri.


" Kalau Aida hamil bagaimana, Pah?."


Mama Maisha sebagai seorang wanita merasakan kekhawatirannya, dia tidak bisa membayangkan jika Aida sampai hamil oleh perbuatan putranya dan menanggung semuanya sendirian.


Ben menelan saliva, jika itu sampai terjadi maka lengkap sudah penderitaan yang dia berikannya untuk Aida.


" Ben, apa kamu?."


Papa Zeino menahan emosinya tidak mungkin dia marah di depan semua anggota keluarga apalagi melihat kondisi istrinya.


Ben menangguk, " Aku mengeluarkan semuanya di dalam."


" Cari dia Ben, cari Aida sampai ketemu, bertanggungjawablah sebelum terlambat."


Mama Maisha menangis, dia tidak ingin Aida bernasib sama seperti sahabatnya di masa lalu yang hamil di luar nikah dan kekasihnya tidak mau bertanggungjawab, sampai pada akhirnya wanita itu memilih bunuh diri bersama bayi yang dikandungnya.


" Mama tenang, Ben pasti mencarinya."


Papa Zeino tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya karena itu semakin membuatnya marah, menatap tajam pada Ben.


" Aku sudah menemukan keberadaannya."


Mama Maisha sangat antusias mendengarnya, rasa pusing di kepalanya seketika hilang.


" Apa kamu akan segera menemuinya?."


Ben sendiri tidak sabar untuk kembali melihat gadisnya, meski belum terikat hubungan apapun diantara mereka Ben mengakui Aida miliknya.


Bobi hanya diam tidak tahu harus mengatakan apa, dia ada di antara perasaan senang dan sedih secara bersamaan. Senang mengetahui kabar keberadaan Aida dan sedih karena dia tidak mungkin ikut bertemu dengan gadis yang pernah terlihat sangat menyedihkan di hari terakhir mereka bertemu.


" Boi, kamu diam saja. Apa ada yang ingin kamu katakan?."


" Aku ikut senang. Aku harap kakak dan Aida bisa bersama."


Bobi tersenyum, dia harus bisa melepaskan cintanya dan merelakan gadis itu untuk kakaknya sendiri.


" Maaf Boi, kakak tidak bermaksud merebutnya dari kamu."


" Semua sudah terjadi Kak, sejak awal Aida memang bukan untukku."


Opa Baskara yang sejak tadi hanya diam merasa kagum pada kedua cucunya begitu juga orangtua mereka.


Didikan orangtua memang punya peranan penting, untuk mengajarkan tidak semua masalah harus di hadapi dengan emosi. Selalu mengutamakan dengan kepala dingin tapi terkadang untuk Ben hal itu jelas tidak berlaku karena kalai saja dia bisa mengendalikan diri, persoalan antara Bobi dan Aida tidak akan berbuntut panjang.


Menjadi seorang Ben tidaklah mudah, ada banyak sekali tuntutan pekerjaan sebagai seorang presdir yang harus mengendalikan perusahaan besar yang sudah diwariskan turun temurun belum lagi menjaga dan melindungi seluruh anggota keluarganya, dia memikul beban yang sangat berat. Ben mudah sekali meledak meluapkan amarahnya, karens dia sendiri memgatakan menahannya hanya akan menjadi penyakit.


" Kak, sampaikan maaf ku untuk kakak ipar."


Semua menatap tak percaya pada Bobi, dia mengakui Aida sebagai bagian dari keluarganya meski belum resmi.


" Uhukkk... uhukkk... " Opa Baskara terbatuk-batuk mendengar Bobi menyebut Aida dengan panggilan berbeda.

__ADS_1


" Opa, baik-baik saja?." Ben khawatir melihatnya.


" Adikmu sudah mendahului kami semua. Kalian lupa Opa belum memberi restu."


Semua terdiam, walau tidak terucap secara langsung kedua orangtua Ben sudah merestui tapi mereka melupakan satu orang paling penting dalam keluarga, Opa Baskara.


" Opa."


Ben berharap pria lanjut usia itu akan memberikan restunya.


" Bawa gadis bernama Aida itu ke hadapanku, baru kalian berdua akan dapat restuku, anak muda."


Opa Baskara bangkit dari duduknya, sudah waktunya dia untuk istirahat di kamar.


" Ben berjanji akan membawanya bertemu dengan Opa."


Ben mencium punggung tangan Opa Baskara seperti anak kecil yang senang akan di beri hadiah jika berhasil menyelesaikan tugas sekolah.


" Berjuanglah." Opa Baskara memberikan dukungannya. Ben mengangguk.


...----------------...


Kafe Star Light


" Jay, tidak biasanya kau minum teh tawar?." Bisma melihat hal yang tidak biasa.


" Ini akan jadi yang terakhir kalinya. Besok aku akan kembali menambahkan satu sendok gula."


" Ada apa denganmu, Jay?." Yun ingin tahu alasannya.


" Aku tidak mungkin masih melakukan kebiasaan itu karena sebentar lagi dia akan jadi milik tuan muda." Alasan Jay menyukai minum teh tawar panas atau dingin karena Aida, tapi dia tidak akan lagi melakukan kebiasaan itu, sekarang hanya untuk di kenang.


" Jadi Aida alasannya, pantas saja." dokter Sean akhirnya tahu kenapa Sean memesan teh tawar.


" Kau pasti akan mendapatkan penganti yang cocok denganmu, kalian berdua juga cepat cari pasangan dan menikah."


" Pernikahan itu bukan lomba, siapa yang duluan dia yang menang." Yun belum punya keinginan memiliki seorang kekasih atau mencari calon istri.


" Kenapa nasibku berbeda sekali dengan kalian, aku selalu dijodohkan dengan berbagai macam wanita. Tapi tidak ada yang sesuai dengan seleraku."


" Memiliki pasangan itu untuk saling melengkapi bukan mencari yang sempurna. Kesampingkan selera mu itu atau sampai kapanpun tidak akan pernah ada yang cocok denganmu dokter Sean." Bisma memberikan petuahnya, pria yang sudah memiliki dua orang anak, satu putra dan satu putri dari pernikahannya.


" Bicara itu mudah, mempraktekkan itu yang sulit."


" Sulit bisa menjadi mudah kalau kau serius." Yun ikut bersuara.


" Hei, kau juga belum berpengalaman." dokter Sean tidak mau kalah.


" Habiskan minuman kalian, setelah itu kita pulang." Jay lelah mendengar perdebatan diantara sahabatnya.


" Kau harus berlapang dada, orang yang berjodoh denganmu pasti suatu saat kalian akan bertemu."


Bisma menepuk bahu Jay dan meminum sisa cappucino yang ada di dalam gelas miliknya sampai habis .


Mereka sudah selesai dengan obrolan yang dari awal serius sampai yang kesana kemari sekedar untuk menghibur satu sama lain. Sudah waktunya untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2