Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 34


__ADS_3

Sean sedang berkomunikasi dengan Jay lewat sambungkan telepon memanfaatkan waktu istrihatnya.


" Sean! Kau yakin gadis yang kau ceritakan Aida yang aku kenal?." Tanya Jay Ragu.


" Yakin! Aku memiliki fotonya, dia sangat manis saat sedang tidur." Jawab Sean.


" Kau berani memotret orang sembarangan." Tegur Jay.


" Tenang sedikit, aku hanya kebetulan melihatnya sedang tidur di kursi tunggu. Kalai dia tidak tidur aku mana berani memotretnya." Jelas Sean.


" Kirimkan padaku sekarang." Pinta Jay.


" Sebentar, jangan akhiri panggilannya." Kata Sean.


Foto Aida yang sedang tidur sudah terkirim melalui pesan whatApps dari Sean ke Jay.


" Kamu hapus fotonya sekarang dari ponselmu." Perintah Jay.


" Ckk! Kenapa harus aku hapus?." Keluh Sean.


" Hapus atau aku pindah tugaskan kau ke Afrika." Ancam Jay walau belum melihat fotonya.


Sean mendengus kesal, " Kenapa aku bisa lupa kau siapa." Gerutu Sean.


Akhirnya dengan terpaksa Sean menghapus foto Aida dari galeri foto di ponselnya. Sambungan ponsel masih terhubung tapi antar Jay dan Sean tidak saling bicara.


Deg!


Jantungnya Jay berdegup, ternyata benar foto gadis sedang tertidur yang di kirim Sean memang Aida yang di kenalnya.


Aku merindukanmu Aida. batin Jay


" Hai! Jay kamu sudah lihat fotonya?." Suara Sean lewat sambungan telepon mengagetkannya.


" Sudah, dia memang Aida yang aku kenal." Ungkap Jay.


" Kau tahu saat dia tidur aku mendengar dia mengigau seperti orang ketakutan menyebut nama Tuan B." Terang Sean.


Deg! Deg! Deg!


Jay merasakan kali ini jantungnya berdebar kencang, entah kenapa mendengar nama orang yang sahabatnya sebutkan dia jadi teringat sosok Ben.


" Sepertinya sesuatu sudah terjadi dengan gadis yang kamu kenal itu Jay." Lanjut Sean.


" Kau yakin mendengarnya mengigau?." Jay masih tak percaya.


" Aku ini seorang dokter yang masih sehat, bisa bedakan mana orang mengigau dan tidak." Kata Sean.


Apa Jay tahu siapa Tuan B. batin Sean


" Ya, ya. Aku tahu kau seorang dokter." Ucap Jay malas.


Jay mana mungkin menanyakan langsung pada Aida, jika gadis yang dikenalnya mengigau menyebut nama seorang pria.


" Ah, ya Jay. Hari ini Kakek dan Nenek Aida audah keluar dari rumah sakit. Aku hampir lupa mengatakannya padamu." Ujar Sean.

__ADS_1


" Terima kasih sudah memberitahuku." Kata Jay.


" Kau kapan kembali?." Tanya Sean.


" Dua minggu lagi." Jawab Jay.


" Wah! Tepat sehari sebelum perayaan tahunan persahabatan kita semua." Kata Sean.


" Kau benar, sudah dulu ya. Aku mau istirahat. Ucap Jay ingin pergi tidur sebab di Amerika sudah larut malam


Perbedaan waktu Amerika dan Indonesia sampai sebelas jam karena itu jika Sean baru saja menghubungi Jay di jam makan siang makan disana sudah tengah malam.


" Baiklah, sampai jumpa." Sean mengakhiri panggilannya.


.


" Bagaimana jika selama aku tidak ada, Ben sudah melakukan sesuatu pada Aida."


Jay harus tetap tidur meski dalam pikirannya muncul banyak pertanyaan tentang siapakah Tuan B yang disebut oleh Sean. Ada rasa khawatir yang besar dalam diri Jay, dia ingin menyangkal jika sosok pria itu Ben Askara.


.


Aida sedang mengemasi pakaian dan barang pribadi milik kakek dan neneknya ke dalam tas.


" Ai! Kita pulang kemana?." Tanya Nenek Miranti berusaha tidak sedih.


" Aku sudah sewa penginapan, Nek. Besok baru kita berangkat pulang kampung." Jawab Aida.


" Kenapa gak hari ini saja?." Tanya Kakek Rianto.


" Satu hari lagi saja kita disini." Bujuk Nenek Miranti pada suaminya.


" Ya sudah, sekarang kita ke penginapan." Ajak Kakek Rianto. Nenek Miranti dan Aida tersenyum.


.


Kakek Rianto dan Nenek Miranti senang bisa menghirup udara bebas begitu keluar dari rumah sakit. Aida sudah memesan taksi online lewat aplikasi di ponselnya.


" Itu taksinya datang Kek, Nek." Ucap Aida.


Kakek Rianto duduk di kursi samping supir, sedangkan Aida dan Nenek Miranto duduk di kursi belakang.


" Tujuannya sesuai aplikasi ya." Ucap Supir Taksi online.


" Iya, Pak." Kata Aida.


Aida merangkul tangan sang nenek menyandarkan kepala, ada rasa sedih yang menyelimutimu.


Aida merasa terasing di kota tempat tinggalnya sendiri, seharusnya dia bisa mengajak kakek dan neneknya pulang ke rumah mereka bukan penginapan. Tapi mau bagaimana lagi Aida terlalu takut berhadapan dengan masyarakat. Apalagi kondisi kedua orang kesayangannya baru saja keluar dari rumah sakit, dirinya tak mau ambil resiko. Walau Aida yakin tidak semua orang akan mengahikimi dia dan keluarganya.


" Nenek dan kakek gak apa-apa, kamu jangan terlalu khawatir." Nenek Miranti yang peka dengan perasaan cucunya. Aida hanya mengangguk.


Taksi yang mereka tumpangi sampai di halaman hotel. Turun dari mobil mereka langsung masuk ke lobby hotel.


" Kamu pesan berapa kamar Ai?." Tanya Kakak Rianto.

__ADS_1


" Satu, tapi ada 2 tempat tidur ukuran besar." Jawab Aida tersenyum.


Aida meminta kakek dan neneknya duduk di kursi sementara dirinya menemui resepsionist untuk konfirmasi kamar yang sudah dipesannya.


Setelah menerima kunci kamar, seorang porter datang membawakan barang mereka dan memandu menuju ke kamar hotel.


.


" Tidak masalah kan kita menginap disini satu malam Kek, Nek?. Tanya Aida memberanikan dirinya bertanya walaupun dia sendiri sudah tahu jawabannya.


" Kalau kamarnya sebagus ini kenapa kamu gak pesan 3 hari 3 malam saja, Ai." Canda Kakek Rianto terkekeh.


" Benar! Kapan lagi bisa meninap di hotel dengan kamar yang bagus." Timpal Nenek Miranti ikut terkekeh juga.


" Nanti Kakek keenakkan." Aida tergelak.


Suasana kamar hotel terasa menghangat dengan canda tawa keluarga Aida.


" Jelas! lebih enak lagi kalau sekarang kamu pesan makan siang." Pinta Kakek Rianto membuat Nenek Miranti geleng-geleng kepala.


" Siap! Komandan." Kata Aida memberi hormat.


Kakek Rianto dan Nenek Miranti tersenyum senang, mereka merasa lambat laun cucunya yang selalu ceria dan penuh semangat bisa kembali. Aida memang tidak lagi menunjukkan raut wajah sedih meski jauh di dalam lubuk hatinya dia menangis. Aida tak bisa melawan takdir yang sudah di gariskan untuk hidupnya, tak ada jalan lain selain menerima keadaan dirinya sekarang untuk melanjutkan kehidupan yang masih terus berjalan.


Aida duduk bersandar di sofa sedang berkutat dengan ponselnya untuk memesan beberapa menu makanan lewat aplikasi O-jek Food.


Begitu makanan yang di pesan datang Aida segera menghidangkannya di atas piring untuk kakek, nenek dan dirinya sendiri.


.


Malam semakin larut dua orang di tempat berbeda masih terjaga. Ben tak bisa tidur meski sudah berulang kali memejamkan matanya, sudah beberapa hari setiap malam Ben memimpikan Aida yang menangis memohon dalam kungkungannya. Ben berbaring menatap langit-langit kamarnya.


Apa aku di hantui rasa bersalah. batin Ben


Sedangkan Aida belum bisa tidur karena memikirkan bagaimana hari esok, ada yang menganjal dihatinya. Aida duduk bersandar di kepala ranjang.


" Sebelum pergi, aku ingin mengakhiri semuanya tapi apa yang bisa ku lakukankan." Gumam Aida.


" Ai! Tidur sudah larut malam." Kata Nenek Miranti terjaga dari tidurnya.


" Iya, Nek." Lirih Aida lalu berbaring menarik selimut.


Besok hari terakhir Aida dan keluarganya ada di Ibukota. Aida ingin pergi tanpa membawa beban permasalahan dirinya. Tapi dengan cara apa menghakhiri dendam seseorang padanya. Apa ada cara yang bisa Aida gunakan itu yang masih dia pikirkan.


Besok saja aku pikirkan lagi langkah apa yang harus ku ambil. batin Aida.


.


Ben menutup tirai jendela kamar, hatinya tak tenang merasa sesuatu akan terjadi besok. Dia kembali berbaring di atas ranjangnya.


" Aida." Lirih Ben begitu saja sebelum tidur.


.


..." Cinta dan benci terkadang sulit di bedakan, lain di kata lain di hati. Seseorang bisa bertindak di luar akal sehat karena cinta dan benci "...

__ADS_1


__ADS_2