Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 39


__ADS_3

Aida tengah melakukan aktivitas rutinitasnya setiap pagi, menyiram berbagai tanaman dan pepohonan di halaman rumah.


" Ai! Hari ini kamu mau ikut ke pasar?."


" Aku di rumah saja ya, Nek."


" Ya, sudah. Nenek mau menyusul kakekmu dulu ke pasar."


" Hati-hati di jalan, Nek." Aida mencium punggung tangan neneknya.


" Kalau mau keluar rumah kunci pintunya." Nenek Miranti pergi ke pasar naik ojek langganannya yang pangkalannya ada di ujung jalan rumah.


Aida kembali menyiram tanaman salah satunya kembang sepatu putih yang jadi bunga favoritenya.


.


Aida sudah selesai dengan aktivitas pertamanya di pagi hari merapihkan semua peralatan yang digunakannya untuk menyiram tanaman.


" Aku belum sarapan."


Aida masuk ke dalam rumah menuju meja makan untuk menikmati sarapan pagi yang tadi sudah dibuatkan Nenek Miranti untuknya.


.


Aida duduk di ruang keluarga mengeluarkan ponsel yang sudah lama dia menonaktifkan walau nomor kontaknya sudah diganti dengan yang baru dan menghapus aplilasi whatsApp dengan nomor lama, mengulang instal untuk menggunakan nomor baru.


" Nura apa kabar ya, apa aku hubungi dia sekarang." Aida berpikir untuk menimbang-nimbang keputusan yang akan di ambilnya.


Aida sangat merindukan sahabatnya itu, dia sudah tidak sabar untuk menghubungi Nura orang yang harus pertama kali kabar tentangnya. Aida melakukan panggilan video call pada sahabatnya yang tidak lama terhubung.


" Hallo, Aida. Bagaimana kabarmu?." Nura sangat antusian memerima.vide call dari Aida yamg sudah lama dinantikannya.


" Kabarku sangat baik, Ra. Bagaimana kabarmu?." Aida memperlihatkan senyuman yang ceria seperti biasanya.


" Aku juga baik, tapi aku sangat merindukanmu." Nura tidak berniat untuk menceritakan bagaimana dia melewati setiap hari saat berada di kampus, apalagi harus memberitahu Aida tentang mahasiswa yang mengusiknya yang sudah dia beri pelajaran.


" Aku juga merindukanmu, disini aku kesepian." Aida masih mempertahankan senyumannya.

__ADS_1


" Ai, apa aku boleh datang mengunjungimu? Beritahu aku dimana kamu berada sekarang."


" Emh! Kamu boleh datang kapanpun. Kamu sangat suka dengan pantai bukan?."


" Tentu saja, kamu tahu aku sangat suka bermain air."


" Disini ada pantai dan salah satunya pantai dengan pasir putih yang sangat indah."


" Benarkah? Kalau gitu liburan semester ini aku akan datang kesana." Nura sangat senang selain bisa mengunjungi Aida, dia juga bisa bermain di hamparan pasir pantai yang luas dengan pemandangan laut lepas yang jadi favoritenya.


Aida berbicang hangat dengan Nura, meminta sahabatnya itu menceritakan bagaimana keadaan ibukota begitu juga sebaliknya.


" Ai! Aku ragu untuk mengatakan ini tapi aku ingin sekali menyampaikannya padamu."


" Apa, Ra? Kamu katakan saja."


" Emh! Aku melabrak Bobi dan mengatakan semuanya padanya. Aku sama sekali tidak menduga respon dia tidak seperti yang ada dalam pikiranku."


" Dia, kenapa?."


" Bobi seperti orang yang kebinggungan dia tidak percaya jika apa yang menimpamu di sebabkan oleh kakaknya sendiri dan dia seakan gak mengetahui apapun yang di perbuat kakaknya. Yang bisa aku simpulkan, kakaknya Bobi bertindak seorang diri tanpa melibatkan adiknya." Nura berani menjelaskan semuanya pada Aida karena dia merasa kesempatan tidak datang dua kali.


Apa mungkin Aida merindukan pria yang sudah menghancurkan hidupnya, bisa saja bukan. Mereka tidak terikat dalam hubungan apapun kecuali sudah melakukan hubungan di luar nikah satu malam bahkan pagi harinya.


" Maaf aku harus membuka lukamu, dengan apa yang aku jelaskan. Aku bukan bermaksud membela dia, aku hanya ingin kamu tahu satu hal."


" Aku mengerti, Ra. Terima kasih sudah memberitahuku, apa yang kamu ketahui." Aida tidak marah, dia sudah bisa menerima semua yang terjadi dengan lapang dada, tidak ada gunanya terbelengu masa lalu karena kehidupan masih terus berjalan.


" Ai! Jika dia masih mengincar, maksud ku mencari kamu bagaimana?."


" Jangan katakan pada siapapun keberadaan ku, aku tidak ingin mereka tahu cukup kamu saja."


" Aku tidak bisa janji untuk hal itu, bukan berarti suatu saat aku bisa mengkhianati mu. Tapi, aku lebih baik jujur bukan?." Nura merasa sesuatu yang baik bisa saja terjadi.


Mungkin saja pria yang menghancurkan hidup Aida akan bertanggungjawab karena dia sudah membuat kesalahan besar. Setiap manusia berhak mendapatkan hukuman, tapi mereka juga berhak diberikan kesempatan. Mengotori hati tidak akan membuat hidup jadi tenang pikirnya.


" Kita memang gak tahu apa yang akan terjadi, jika takdir menghendaki sebuah pertemuan pasti akan bertemu."

__ADS_1


Bayangan wajah Ben melintas sesaat dalam benak Aida. Tanpa Aida sadari dia mengelus perutnya yang masih rata, menyalurkan perasaan rindu yang muncul di hatinya.


" Ai, kalau Bobi tidak sepenuhnya bersalah kamu mau memaafkan dia?. dengan hati-hati Nura mengatakannya.


" Kamu peduli padanya, Ra?."


" Bukan begitu, aku kasihan melihatnya hari itu, dia syok sampai harus di antar pulang. Jujur aku justru merasa bersalah."


" Kamu ada perasaan sama dia? Kalian itu seperti tom and jerry tapi bisa saja nanti berubah jadi Romeo and Julie.


Nura mengoceh panjang lebar tidak tahan dengan Aida yang mengodanya, berulang kali Nura menyangkal kalau dia hanya sebatas kasihan pada Bobi tidak lebih.


" Kalau saja kita bicara bukan lewat sambungan telepon, aku pasti sudah mengelitikmu."


Aida tergelak dengan ancaman sahabatnya itu, Nura memang selalu menggelitik pinggang Aida jika dia terus menggodanya.


" Aku hubungi kamu lagi nanti ya, aku lupa belum kasih makan Miko. Hahaha!."


" Ah, iya sudah. Aku juga harus berangkat ke kampus. Sampai nanti."


Aida mengakhiri panggilan di ponselnya, dia segera pergi ke kandang Miko untuk memberikan makan pagi hewan peliharaannya.


" Gukkk... gukkk... ."


" Maaf! Aku lupa, tapi asik bicara dengan Nura."


" Gukkk... gukkk... ."


" Kamu sangat pengertian Miko, makanlah."


Aida membukan kadang Miko dan menyodorkan tempat makan anjingnya.


" Nanti sore aku ajak kamu lagi ke pantai, sekarang habiskan makananmu."


Aida mengusap lembut bulu Miko yang halus, dia sangat sayang dengan anjing peliharaannya itu.


Aida melanjutkan beberapa pekerjaan rumah yang masih tertuda, kesehariannya selain berada di rumah dia juga kadang ikut ke pasar untuk membantu nenek dan kakeknya berdagang.

__ADS_1


Keluarga Aida menyewa kios yang cukup besar untuk kembali membuka toko kelontong yang jadi sumber mata pencaharian. Sudah hampir dua minggu di buka, toko selalu ramai di kunjungi para pembeli. Kang Ujang dan istrinya ikut membantu karena itu Aida tidak setiap hari datang ke pasar.


...Kembang sepatu putih melambangkan kemurnian, kecantikan dan keanggunan....


__ADS_2