Aku Yang Menolak Cinta

Aku Yang Menolak Cinta
Episode 36


__ADS_3

Jay keluar dari pintu kedatangan penumpang pesawat di Bandara Internasional seorang diri mendorong troli membawa beberapa koper.


" Akhirnya aku kembali."


" Selamat datang, Asisten Jay. Saya senang melihat Anda kembali." Seorang pegawai perusahaan menyapa Jay dan mengantikan posisinya mendorong troli sampai keluar lobby bandara.


" Terima kasih."


" Silahkan, asisten Jay." Supir perusahaan membuka pintu mobil untuk Jay bisa segera masuk ke dalamnya, disusul supir duduk di kursi kemudi dan pegawai perusahaan yang selesai memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.


Jay mengeluarkan ponsel di saku jasnya, untuk menghubungi tuan muda Ben.


" Hallo, Tuan muda. Saya sudah sampai."


" Hmmm... ." Ben lebih dulu mengakhiri panggilan sepihak.


Perusahaan Askara Group terlihat berbeda hari itu, sebaagian orang sedang mempersiapkan penyambutan ke pulangan Jay dari Amerika atas intruksi dari presdir yang disampaikan oleh sekretaris Yun.


" Aku senang dia kembali." Tugas Yun berdiri di belakang Tuan muda sudah selesai. Walau suatu kebanggaan baginya bisa sangat dekat dengan Ben.


" Sekertaris Yun, apa masih ada yang bisa kami kerjakan?." Tanya seorang pegawai.


" Jika semua sudah selesai, bersiaplah di posisi masing-masing. Sebentar lagi asisten Jay akan tiba."


" Baik, sekretaris Yun." Pegawai yang mengajak bicara Yun undur diri.


.


Tidak lama berselang Jay tiba di Askara Group, petugas keamanan membukakan pintu samping mobil untuknya. Semua orang yang jadi bagian dari perusahaan berbaris rapih di sisi kiri dan kanan Jay menunduk sopan memberikan sambutan selamat datang. Sedikit ada yang berbeda dari tampilan gedung Askara Group yang sengaja di dekorasi untuk penyambutan kedatangan Jay.


" Aku senang melihatmu lagi Jay." sekretaris Yun merangkul Jay penuh keakraban.


" Kau senang karena tugasmu selesai mengantikanku, bukan?."


" Itu salah satunya, tapi aku bangga dalam waktu singkat bisa mengantikan posisimu sementara." bisik Yun, "Tuan muda sudah menunggumu."


" Aku temui Tuan muda dulu."


Kepulangannya memang udah dinantikan oleh Ben, sehingga setibanya Jay di ibu kota dia di bisa langung beristirahat. Jay menyempatkan tidur di dalam pesaat beberapa jam selama perjalanan pulang.


" Kau tahu Jay... ." Yun hampir saja menceritakan kejadian dua minggu lalu yang menghebohkan di perusahaan.


" Apa?."


" Tidak jadi, sudah pergilah ke ruangan tuan muda Ben."


" Kau berani menyembunyikan sesuatu dariku?."


" Kali ini aku lebih baik menyembunyikannya darimu." Yun segera pergi meninggalkan Jay, dia memilih kembali ke meja kerjanya saja.


Jay tahu betul jika yang ingin disampaikan Yun sebenarnya berkaitan dengan tuan muda Ben karena itu dia urung memeberitahu.


" Tuan muda, Saya Jay." di susul ketukan pintu sebanyak tiga kali.


" Masuklah."


" Terima kasih untuk penambutannya Tuan muda." Jay menunduk sopan menghadap Ben yang duduk di kursi kebesarannya,


" Hmmm... ."


" Tuan muda! Apa nanti malam Anda akan datang ke perayaan tahunan?.

__ADS_1


" Aku akan datang, kau bisa pulang sekarang dan beristirahatlah."


" Saya akan datang ke rumah utama menjemput Anda nanti malam." Jay kembali menunduk sopan, dia berpamitan untuk pulang ke rumah.


.


Jay kembali teringat dengan Aida yang sudah lama sulit sekali dia hubungi, nomor kontaknya sudah tidak aktif, whatsAppnya juga, bahkan semua akun sosial medianya hilang.


" Apa aku datang saja ke rumah Aida, aku rindu sekali melihat wajahnya."


Jay mengemudikan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan jalan menuju ke rumahnya. Dia sudah tidak sabar memberi kejutan untuk Aida. Berhenti di pinggir jalan Jay membeli sebuket bungan sebagai hadiah kepulangnnya untuk Aida. Berharap gadis itu mau menerimanya.


" Aku tidak tahu bukan apa yang dia suka tapi kombinasi bunga mawar merah dan putih sangat cantik."


Jay tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, dia harus segera sampai ke rumah Aida. Meski nanti dia akan bertemu dengan keluarga Aida yang pastinya akan mengajukkan berbagai pertanyaan, Jay sudah siap memberikan jawaban.


...***...


Universitas Ternama Ibukota


Nura tidak lagi bersemangat menjalani hari-hari kuliahnya di kampus. Aida sudah lama tidak memberikan kabar, terakhir mereka bertemu di hari Aida pergi meninggalkan ibukota. Nura duduk seorang diri di kantin kampus menikmati segelas es teh manis yang di pesannya.


" Aku pikir kau juga akan melarikan diri seperti gadis murahan itu." Ejek Mourin pada Aida yang batang hidungnya saja sudah tidak kelihatan.


Nura membisu, dia sudah bosan mendengar Mourin, Yina dan Lola tidak lelah untuk bicara mengejek Aida dan dirinya.


" Atau kau disini untuk mengantikan posisinya jadi gadis murahan?." Hardik Yina tidak tahan melihat Nura hanya diam tak meladeni mereka.


" Dia itu artinya iya." Timpal Lola.


Nura masih saja tidak bergeming, baginya mengatakan apapun tidak ada mengubah sudut pandang dan cara berpikir orang-orang yang punya pemikiran sempit.


Nura ingin beranjak pergi, namun kaki Mourin berhasil membuatnya tersandung.


" Dia bersuara juga, aku pikir tadinya kau hanya mayat hidup." Ejek Mourin lagi.


Nura menyiramkan es tehnya pada ketiga gadis menyebalkan yang tidak pernah ada kata bosan untuk mengusik seseorang.


" Aku bisa memperlakukan kalian sangat buruk, sesuatu yang tidak pernah kalian bayangkan. Aku sangat tahu rahasia kalian. Bahkan aku bisa mengali informasi lebih dalam perbuatan buruk apa yang selama ini sudah kalian lakukan." Nura bukan hanya sedang mengretak mereka, dia benar-benar tahu siapa Mourin, Yina dan Lola yang tidak diketahui orang lain.


" Cih! Omong kosong, jangan percaya. Dia hanya ingin menakuti kita." Yin membantah.


" Apa perlu aku meminta seseorang menghubungi sugar dady kalian?."


BOOM!!!


Habis sudah kesabaran Nura selama ini, berdebat atau diam saja tidak mengubah kebiasaan orang-orang yang mengusiknya. Mourin, Lola dan Yina saling pandang mereka tidak pernah menyangka Nura mengetahu rahasia mereka yang selama ini tertutup dengan rapih.


" Kalian sadar sekarang, tidak hanya mulut kalian yang kotor."


Nura pergi dengan kemarahan yang belum mereda, waktunya mengukap kebenaran tentang fakta di balik kejadian buruk yang menimpa sahabatnya. Aida hanyalah korban dan pelaku yang sesungguhnya masih bebas berkeliaran di luar sana.


.


" Bobi!!!." teriak Nura meleparkan tasnya mengenai punggung laki-laki itu yang sedang berdiri membelakangi meringis.


" Ra! Apa yang kamu lakukan?." Joni tidak terima sahabatnya di lepar sebuah tas.


" Diam! Aku gak ada urusan denganmu." Nura menatap Joni tajam memuat nyali pria itu menciut.


" Berani sekali kamu meleparkan tas padaku." Bobi tersulut emosi.

__ADS_1


" Jika tidak ada hukum di negeri ini, aku bisa saja meleparkan pisau untuk membunuhmu." Apa yang merasuki Nura, gadis itu terlihat seperti orang kesetanan.


Bukan hanya Bobi dan Joni yang diam mematung mendengar apa yang Nura katakan. Faisal, Liukman dan Gerry juga sama mereka tak ada yang berani bicara.


" Apa salahku padamu?." Bobi mempertanyakan apa yang sudah dia lakukan sampa membuat Nura ingin dirinya tiada. Nura tidak menjawab, dia memungut tasnya mengeluarkan selembar foto dan melemparkannya ke arah Bobi.


" Harusnya aku tegas melarang Aida berteman denganmu, harusnya aku memperingatkanmu untuk menjauhi sahabatku. Kau sangat keterlaluan, tega sekali meminta kakakmu untuk menghancurkan masa depan Aida, dengan wajah tanpa dosa kau masih ingin kembali menjadi teman sahabatku. Dan karena Mas Rivan memukulmu kau dan kakakmu berkomplot menyebar luaskan selembaran berisi foto itu. Foto Aida dan kakakmu." Air mata Nura tak terbendung lagi, jatuh menetes membasahi pipinya.


Duarrr!!!


Seperti suara bom waktu yang meledak menguncang hati dan pikiran Bobi sekarang. Kenapa Nura mengatakan dia dan kakaknya yang bersalah sementara Bobi tidak terlibat sebuah persengkongkolan dan mengetahui apapun.


" Kakakku? Pria di foto ini kakakku? itu gak mungkin." Bobi menatap foto yang di pegangnya seolah mencari jawaban untuk mengetahui sebuah kebenaran.


" Bob!," Seru Faisal melihat Bobi mempertajam matanya pada selembar foto.


" Ini tato kalajengking dalam lingkaran." Bobi melihat kesamaan bentuk dan posisi tato pria di foto dengan yang berada di bawah tengkuk Ben, Selebaran yang dulu pernah beredar tak memperlihatkan dengan jelas gambar tato itu berbeda dengan yang ada di dalam kertas foto.


" Apa kau sedang bersandiwara, berpura-pura tidak mengenali kakakmu sendiri?." Nura semakin marah melhat Bobi yang kebinggungan.


" Nura, kamu lihat Bobi tidak percaya jika itu kakaknya, itu artinya dia tidak tahu jika kakaknya yang sudah... ." Faisal tidak ingin melanjutkan perkataannya.


" Ben Askara!!!." Teriak Bobi mengagetkan orang-orang yang ada di arena latihan futsal, beruntung hanya ada keempat sahabatnya dan Nura saja tidak ada orang lain.


Duduk bersimpuh untuk pertama kalinya Bobi menangis di hadapan orang lain, hatinya yang sudah sakit semakin terluka dan bertambah pria, mengetahui kebenaran perbuatan kejam kakak sepupunya sendiri.


" Tidak sekalipun aku berpikir untuk menyakiti Aida. Tapi kakakku sendiri bermain dibelakangku menghancurkan hidup gadis yang aku cintai." Bobi sangat terpukul.


Otak Nura masih bisa berpikir jernih, dia melihat keterpurukan Bobi, jelas laki-laki itu memang tidak tahu apapun di balik semua peristiwa yang menimpa Aida.


" Kalau kau memang tidak sepenuhnya bersalah, cari kakakmu dan tanyakan padanya." Nura pergi tanpa ingin bicara lagi, dia sudah puas mengungkap kebenaran yang seharusnya dia sembunyikan. Bobi tdak mengatakan apapun.


" Aku pikir kita sungguh-sungguh berteman, ternyata kamu menyembunyikan identitasmu, Bob." Lukman buka suara bukan tanpa alasan.


Lukman cukup tahu siapa kakaknya Bobi, orang paling berpengaruh di negeri ini, sangat berkuasa dan bisa melakukan apa saja. Terbukti dengan apa yang sudah menmpa Aida.


" Aku tidak pernah ingin menyembunyikan dan mengungkapkannya."


" Man, ini bukan waktunya. Lihat keadaan Bobi sekarang kita harus membawanya pulang." Faisal mencoba untuk menjadi penenggah.


" Kamu pikir bisa sembarangan masuk ke rumah utama keluarga Askara." Timpal Gerry.


" Bodoh! Kenapa kalian harus berdebat, kita hanya perlu membawa Bobi pulang, urusan rumah utama kita pikirkan saja nanti." Kali ini apa yang Joni katakan benar, yang akan mereka antar pulang anggota keluarga Askara. Mana mungkin mereka tidak diberikan izin masuk.


.


...Tatoo Scorpio(kalajengking) memberikan makna pada si pemakai:...


...Hasrat yang tinggi...


...Sangat emosional dan sensitif...


...Imajinatif dan intuitif...


...Sensual...


...Setia...


...Bermartabat...


...Gigih...

__ADS_1


...Percaya diri...


...Dan lingkaran menjadi simbol yang mewakili kekekalan dan bersifat melindungi....


__ADS_2