
Bobi berulang kali mengetuk pintu kamar kakaknya yang sama sekali tidak memberikan jawaban.
" Apa kakak tidak ada di kamarnya."
" Selamat pagi, Tuan muda Bobi. Saya hanya ingin memberitahu tadi pagi-pagi sekali Tuan muda Ben sudah pergi dari rumah utama." Pak Musin menjelaskan.
" Aku terlambat. Terima kasih Pak Mus." Bobi pergi dari depan pintu kamar dengan tangan kosong.
" Apa Tuan muda Bobi mau makan?."
" Emh! Siapkan saja di meja makan, aku ke kamarku dulu baru setelah itu aku turun untuk makan."
" Baik, Tuan muda Bobi akan saya siapkan sekarang. Saya permisi." Pak Musin undur diri dari hadapan tuan muda kedua keluarga Askara itu.
" Ya."
Keinginan untuk bisa berbaikan dengan Ben terpaksa harus di tunda, Bobi sebenarnya akan meminta maaf atas kejadian semalam. Tapi karena Bobi terlambat bangun jadi dia kehilangan kesempatan untuk berdamai lebih awal dengan kakaknya.
.
Ben tidak masuk kantor hari ini dia sengaja meluangkan waktu untuk mencari informasi keberadaan Aida dengan turun tangan sendiri karena semua orang yang sudah di perintahkan olehnya tidak satu pun yang membuahkan hasil.
" Apa aku bisa menemukan petunjuk jika datang ke rumahnya."
Langkah pertama yang Ben lakukan dengan mendatangi rumah keluarga Aida yang sudah di tinggalkan, berharap untum mendapatkan sebuah petunjuk.
Ben terlihat sangat bersungguh-sungguh untuk menemukan keberadaan Aida yang entah berada dimana, mengapa gadis itu bisa pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali pikirnya.
Ben meminta Jay untuk mengambil alih semua urusan pekerjaan dan tanpa bertanya apa alasan tuan mudanya, Jay menerima perintah Ben sebagai seorang presdir pada asistennya.
Mengendarai mobil miliknya seorang diri, Ben sampai di halaman rumah Aida yang terlihat sangat sepi. Ini pertama kalinya Ben menginjakkan kaki di rumah seorang gadis yang berhasil masuk ke dalam hatinya dan selalu ada dalam pikirannya.
" Sederhana tapi sangat nyaman." Ben memberikan penilaian untuk rumah yang sedang dia perhatikan.
" Tuan, apa ada mencari keluarga Aida? mereka sudah lama pindah." Seorang tetangga yang hendak melewati rumah keluarga Aida menghentikan langkahnya untuk berbicara dengan pria asing yang tidak dikenalnya dan terlihat bukan orang sembarangan karena Ben terlihat sangat berkelas mengenakan kemeja hitam dan celana bahan hitam juga kacamata untuk melengkapi penampilan kerennya.
" Apa Anda tahu mereka pindah kemana?."
" Maaf, Saya dan tetangga disini gak ada yang tahu. Karena waktu itu mereka pindah dari sini di tengah malam."
Ben gagal mendapatkan jawaban yang diinginkannya, tetangga keluarga Aida itu pun pergi setelah memberitahu Ben dan berpamitan karena dia mau ke pasar.
Tidak ingin pulang dengan hampa Ben mencari tetangga keluarga Aida yang lain, dia tidak peduli dengan statusnya sebagai tuan muda. Ben memang tidak pernah turun kelapangan untuk hal apapun selalu memerintahkan orang lain. Ini pertama kalinya dia sendiri dengan penuh keyakinan demi bisa menemukan keberadaan Aida.
.
" Pak! Sampai kapan mau menganggur? Sudah dua minggu lebih." Keluh seorang istri pada suaminya.
" Ya gimana Bu, belum ada yang mau terima bapak kerja."
' Uang dari keluarga Neng Aida sekarang masih cukup, tapi kalau Bapak gak kerja juga. Ke depannya kita bisa kekurangan uang.
Deg!
Ben yang tidak sengaja melewati rumah dimana suami istri sedang berbincang mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tidak salah lagi mereka mengenal Aida dan keluarga, pasti sangat dekat pikir Ben.
" Permisi! Boleh saya bertanya?." Ben tersenyum.
" Maaf! Tuan silahkan duduk, apa yang ingin Anda tanyakan?." Pak Agus yang bertanya karena istrinya sudah masuk ke dalam rumah untuk membuatkan suaminya secangkir kopi.
Ben duduk di bangku yang terbuat dari susunan bambu beralaskan tikar.
__ADS_1
" Apa Bapak tahu kemana kelurga Aida pindah?." Ben langsung bertanya untuk segera memperoleh jawaban.
" Ma.. maaf Saya tidak tahu Tuan." Pak Agus yang panik berusaha agar tubuhnya tidak terlihat gemetar karena dia memyembunyikan sesuatu.
.
" Pak! Ini Abah Rianto, Eh.. kakeknya Teh Aida telepon." Asih, adiknya Iwan yang masih duduk di kelas sekolah dasar datang ke teras dari dalam rumah.
" Iya." Pak Agus segera mengambil ponsel dia yang di pegang anak perempuannya dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Ben begitu saja.
" Kakak, siapa?." Tanya Asih.
" Saya... ." Haruskah Ben mengatakan nama sesuai dengan identitasnya. " Aska."
.
" Pak, ini ko.. pinya." Ibu Salimah istri pak Agus kaget melihat yang duduk bukan suaminya.
" Bu! Ini Kak Arka temannya Bapak." Asih menjawab kebinggungan ibunya.
" Bapakmu mana?."
" Terima telepon dari kakeknya Teh Aida."
" Oh."
" Bu, liburan sekolah kita pulang kampung ya, Asih kangen main ke pantai, kita juga bisa ketemu Teh... ."
" Asih, kamu siap-siap berangkat ke sekolah sana.
" Iya, Pak." Aish di temani ibunya kembali masuk ke dalam rumah.
" Maaf, Tuan. Saya harus pergi mengatarkan anak pergi sekolah."
" Saya punya hak untuk tidak menjawab pertanyaan Anda sekali pun Saya harus berbohong. Silahkan Anda pulang." Pak Agus tidak akan membocorkan keberadaan keluarga mantan majikannya.
Ben menahan amarahnya yang ingin sekali dia luapkan, dirinya tidak terima dengan apa yang Pak Agus katakan.
" Tidak bisakah Anda berbaik hati memberitahu Saya." Tanya Ben.
" Saya sudah berjanji pada mereka dan Saya tidak mungkin ingkar." Pak Agus tidak peduli Ben menghargai jawabannya atau tidak.
Ben pergi dari rumah Pak Agus setelah berpamitan, sepanjang jalan menuju ke mobil sesuatu terlintas dalam pikirannya.
" Anak kecil itu pasti tahu dimana Aida berada, tadi dia ingin mengatakannya.' Ben tersenyum senang, dia yakin anak perempuan bernama Asih tahu dimana keberadaan gadis yang dicarinya.
Ben mengikuti motor yang di kemudikan Pak Agus dari jarak yang cukup aman supaya pria paruh baya yang diikutinya tidak curiga.
Asih turun dari motor mencium punggung tangan bapaknya, pak Agus langsung pergi mengendarai motornya lagi.
" Asih!."
Gadis kecil itu menoleh mencari sumber suara seseorang yang memanggilnya sembari membenarkan tas punggung yang di pakainya.
" Kakak yang tadi di rumah bukan?." Tanya Asih dengan polosnya. Ben mengangguk.
" Kenapa datang ke sekolah Asih?."
" Kakak mau bertanya tapi kamu harus jawab jujur?."
" Kata bapak Asih harus selalu jujur."
" Kamu tahu dimana Aida berada?."
__ADS_1
Asih tidak langsung menjawab, dia teringat pesan pak Agus itu tidak menceritakan keberadaan Aida pada siapapun.
" Asih sudah janji sama bapak gak boleh kasih tahu orang lain, maaf ya Kak." gadis itu segera pergi masuk ke pintu gerbang sekolah tanpa berpamitan pada Ben karena lonceng sudah berbunyi.
Sia-sia sudah usaha Ben mengikuti pak Agus dan Asih sampai ke sekolah, pria tampan itu harus pulang dengan tangan hampa.
" Aku tidak akan menyerah."
Ben mengurungkan niatnya untuk pulang dia bertekad menunggu gadis kecil itu sampai pulang sekolah.
...----------------...
Jay sampai di perusahaan Askara Group seorang diri tak seperti biasanya.
" Jay, kamu sendiri?." Yun yang bertemu dengan Jay di lift menanyakan keberadaan tuan muda mereka.
" Dia ada urusan pribadi."
Sejak kapan tuan muda mementingkan urusan pribadi yang membuatnya sampai tidak bekerja pikir Yun.
" Ada yang ingin aku tanyakan padamu Jay, ini tentang... ."
" Jangan membahas apapun yang kamu dengar dengan ketahui saat perayaan itu." Jay dingin di tidak ingin membahas Aida, entah mengapa hatinya merasa teriris.
Jay keluar dari lift lebih dulu meninggalkan Yun begitu saja, dia ingin menghindar.
" Apa kau juga menyukai gadis itu? gadis yang bernama Aida, kau tahu dia datang ke perusahaan ini dan mencium Ben di depan banyak orang."
Yun ingin mencari kebenaran di balik sikap kedua orang yang jadi sahabatnya, hanya saja jika di bandingan harus menghadapi Ben dia lebih berani untuk menghadapi Jay sebab dia mengenal betul pria itu.
" Apa katamu?." Jay menarik kerah kemeja Yun, dia tidak terima dengan apa yang pria itu katakan.
" Aku tidak akan mengulanginya."
" Itu tidak mungkin."
" Aku tahu dari Sean siapa gadis yang kamu bicarakan dengannya."
" Cih! Berani sekali dia mengatakannya padamu."
" Dalam pekerjaan jabatan mu memang lebih tinggi dan aku menghormati dirimu. Tapi sebagai sahabat aku tidak ingin ada perpecahan antara kamu dan Ben."
" Kamu gak tahu apa pun Yun, tidak mungkin tuan muda mencintai gadis yang dia benci karena menolak cinta adiknya."
Yun terperangah mendapati fakta baru, kenapa persoalan cinta selalu ada kerumitan pikirnya.
" Kalau Ben tidak mencintai gadis bernama Aida itu, dia pasti sudah mendorongnya agar menjauh. Justru yang aku lihat Ben membalas ciuman Aida."
" Jangan sebut namanya, aku tidak akan percaya sebelum melihatnya dengan mata kepala ku sendiri."
" Kamu tahu betul aku tidak pernah berbohong sama seperti dirimu, tapi kamu sekarang bersikeras membohongi dirimu sendiri." Yun melangkah pergi, dia yang balik meninggalkan Jay begitu saja dengan perasaan kesal karena sahabatnya tidak mempercayai apa yang dikatakannya.
" Aku tetap tidak percaya."
Jay tetap pada pendiriannya dia ingin menyangkal semua yang berkaitan dengan Aida yang keluar dari mulut siapa pun hanyalah omong kosong. Jay yakin Ben membenci Aida dan tidak mungkin berbaik hati pada gadis itu apalagi atas perbuatannya menyakiti hati adik kesayangan tuan muda.
" Kalau pun Aida datang ke perusahaan ini dan sampai menci... ." Jay menarik kata yang ingin diucapkan, dia tidak rela.
Untuk urusan cinta haruskah Jay mengalah, sedangkan ini pertama kalinya dia merasakan perasaan cinta pada seorang gadis.
" Jika Tuan muda berubah dari benci jadi jatuh cinta denganmu, apa aku pantas untuk bersaing dengannya."
Mungkinkah Jay siap untuk memperebutkan hati Aida, jika dengan Bobi bisa saja dia menyanggupi tapi jika dengan tuan muda mampukah dia bersaing. Bukan perkara kedudukan siapa yang lebih tinggi dan rasa hormat, Jay tahu betul dan sangat mengenal Ben yang selalu punya ide dan seribu satu cara untuk meraih keberhasilan karena semua bisa dia kendalikan dengan tangannya.
__ADS_1