
Pukul setengah tujuh malam Aida sudah masuk ke lobby apartement dan bertemu dengan resepsionist. Aida memang mempercepat kedatangannya supaya dia tidak terlambat bertemu Jay.
" Mba! saya mau antarkan pesanan unit 999 atas nama Tuan B." Ucap Aida.
" Silahkan Anda naik lewat lift khusus menunju lantai 21." Resepsionist mengarahkan.
Lantai 21 adalah puncak apartement mewah tersebut. Pemilik unit sudah menginformasi pada resepsionist kedatangan Aida, jadi gadis itu bisa diizinkan masuk. Padahal orang asing biasanya tak diizinkan untuk naik lift khusus menuju lantai apartement paling atas.
Dua orang penjaga di depan pintu lift mempersilahkan Aida masuk setelah salah seorang membukanya.
" Apa mungkin Tuan B itu pemilik apartement ini, tapi kenapa dia pesan makanan melalui aku. " Aida bermonolog bertanya-tanya.
Dan benar saja, begitu lift terbuka hanya terdapat satu pintu masuk ke unit apartement bertuliskan angka 999 di depan pintu.
" Aku harus cepat." Aida ingin segera menyerahkan orderan makanan yang dibawanya.
Ting! Tong! Ting! Tong!
Aida menekan tombol bel untuk memanggil penghuni unit apartement keluar. Tak butuh waktu lama seseorang membukakan pintu.
Deg!
Dia terlihat lebih cantik dari hari itu. Ben
" Tuan B, saya Aida datang mengantarkan pesanan Anda." Ucap Aida tersenyum sambil menyerahkan tas plastik yang dibawanya.
Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya aku lupa. Aida
Entah kenapa Aida merasa familiar dengan pria tampan di depannya.
Ben tersadar dari lamunannya, " Tolong bantu Saya menyiapkanya diatas meja makan."
" Emh! Maaf Tuan, saya harus...."
" Hanya sebentar." Pinta Tuan B.
" Baiklah!." Aida menerima permintaan pelanggan barunya.
Tuan B mempersilahkan Aida masuk ke dalam unit apartementnya lalu mengajaknya menuju ruang makan.
" Kamu bisa menyiapkannya disini, saya ke kamar dulu untuk ambil bayaranmu." Ucap Tuan B.
" Iya, Tuan." Ucap Aida.
Dapat dilihat dengan jelas oleh Aida saat Tuan B berlalu pergi menuju kamarnya dengan naik anak tangga ke lantai dua.
Aida mencari peralatan makan yang tertata rapih di dapur, dengan cekatan dia menyiapkan alat makan di atas meja dan menghidangkan makanannya.
" Selesai!." Seru Aida.
Lama menunggu jam di dinding sudah menunjukan pukul tujuh malam. Akhirnya Aida memutuskan menyusul Tuan B ke kamarnya.
Tuan B baru saja selesai membersihkan diri keluar kamar mandi.
" Apa rencanaku akan berhasil." Ucap Tuan B duduk di kursi meminum segelas wine masih mengenakan jubah mandi berwarna putih.
.
Begitu sampai di depan kamar, Aida mengetuk pintu sebanyak tiga kali, " Tuan! Saya sudah selesai. Maaf saya harus pergi sekarang."
__ADS_1
Mendengar Aida memanggilnya di luar kamar Tuan B menghela napas menyiapkan diri untuk memulai rencananya.
Usai meneguk wine untuk kedua kalinya Tuan B melangkahkan kaki untuk membuka pintu kamarnya.
" Tuan! Anda transfer saja pembayarannya, Saya tak bisa menunggu lebih lama karena ada urisan lain." Ujar Aida ingin segera pergi.
Tuan B membuka pintu dan dengan gerakan cepat menarik tangan Aida membawanya masuk ke dalam kamar.
" Tuan! Apa yang Anda lakukan." Aida yang tak siap tertarik masuk ke dalam kamar.
" Kenapa terburu-buru, hmmm?." Tanya Tuan B yang menyudutkan tubuh Aida ke dinding kamar.
" Saya ada janji dengan seseorang." Jawab Aida.
" Apa dia pacarmu?." Tanya Tuan B lagi, dalam posisi mengungkung Aida.
Aida tersenyum, " Be.. lum, Tuan." Jawab Aida.
Tuan B mengepalkan kedua tangannya yang menempel di dinding, melihat Aida yang tersenyum dan mengatakan belum yang biasa diartikan ada kemungkinan seseorang yang di maksud akan menjadi pacar Aida.
Tanpa permisi Tuan B mencium bibir ranum Aida membuat gadis itu terbelalak dan reflek mendorong tubuh pria di depannya.
" Tuan! Anda sudah kurang ajar." Aida ingin melayangkan tangannya menampar Tuan B yang telah merenggut ciuman pertamanya, tapi dia menggurungkan niatnya karena dirinya tak pernah kasar pada siapa pun.
Tuan B menatap tajam Aida dengan penuh amarah, " Kau lebih suka pria dewasa atau laki-laki seusiamu?".
Nyali Aida menjadi ciut melihat pria dihadapannya dengan tatapan yang begitu menakutkan.
" Aku... Maaf aku harus pergi Tuan." Aida ingin meloloskan diri hendak menggapai pegangan pintu kamar.
Namun, Tuan B yang tak lain Ben Askara kakak dari Bobi adik sepupunya kembali menarik Aida menyudutkannya ke dinding berada dalam kungkungannya lagi.
Ben mengunci kedua tangan Aida ke atas kepala gadis itu, menggenggamnya kuat dengan satu tangan.
" Kau masih bisa bersenang-senang di luar sana setelah mematahkan hati adikku, hah?." Ben sudah tak bisa lagi menahan emosi.
Adik? Apa maksudnya? Apa mungkin pria ini kakaknya Bobi. batin Aida
" Jawab!!!." Bentak Ben membuat Aida gemetar.
" Tuan! sungguh aku minta maaf, bukan maksudku untuk membuat Bobi patah hati." Jelas Aida menundukkan kepalanya.
Aida ingin sekali bisa lari dari kamar Ben tapi sulit baginya meloloskan diri karena Ben mengunci pergerakannya.
" Kau pikir maafmu itu cukup?." Ben meraih dagu Aida.
" Tuan! Aku...." Ucap Aida lirih.
" Kamu harus menerima balasannya." Ben emosi.
Tanpa izin Ben kembali mencium bibir ranum Aida membuat gadis itu berusaha berontak semampunya. Meski buliran air mata Aida jatuh di pipinya, Ben tak menghentikan ciumannya.
" Mmmmphhh..." Aida kesulitan bernapas karena cukup lama Ben menciumnya.
Ben melepaskan pertautan bibirnya memberi kesempatan Aida untuk bernapas karena tak mungkin membiarkan gadis dalam kungkungannya tiada karena kehabisan napas.
" Hah hah hah! Tuan, Anda sudah keterlaluan." Aida menangis.
Ada rasa iba di hati Ben melihat Aida menangis tapi dia teringat kembali kondisi adik sepupunya di rumah sakit dan apa yang Aida katakan tadi tentang ada janji bertemu seseorang membuat Ben semakin tak bisa menahan emosinya.
__ADS_1
" Kau menikmatinya bukan?." Tanya Ben. Aida memalingkan wajahnya.
Cinta di tolak kakak bertindak mungkin itu kata yang tepat untuk mewakili perbuatan Ben pada Aida sekarang.
Aida tak menjawab, " Tolong! biarkan aku pergi." Dia justru kembali memohon.
Ponsel Aida di dalam tas berdering, ada panggilan masuk dari Jay.
" Tuan!." Aida berharap Ben melepaskan dirinya.
Ben tak peduli, dia justru mengeluarkan ponsel itu dari dalam tasnya Aida menggunakan satu tangannya.
" Kakak! Manis sekali, apa dia orangnya?." Tanya Ben. Aida mengangguk.
Ben yang kesal menonaktifkan ponsel Aida tanpa persetujuan pemiliknya melemparkan benda pipih itu ke atas sofa.
" Tuan! Aku harus menjawabnya, kenapa di lempar?." Aida tak habis pikir dengan kelakuan Ben.
Dalam kemarahannya yang semakin memuncak Ben menarik tangan Aida dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
" Aaa... Tuan, Anda menyakitiku." Aida mencoba bangun, tapi Ben mendorongnya sampai dia kembali terbaring.
" Kamu harus merasakan apa yang adikku rasakan." Ucap Ben dengan suara yang meninggi.
Aida berada dibawah kungkungan Ben berusha mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga agar menjauh darinya karena Ben berusaha menciumnya lagi.
" Maaf Tuan, Maafkan aku." Aida memohon berharap Ben menghentikan tindakkannya.
Ben merentangkan tangan Aida yang menganggu pergerakannya.
" Diam!!!" Lagi-lagi Ben membentak gadis yang berada dibawah kuasanya.
Ben memaksa ingin mencium Aida yang bersusah payah menghidar.
" Tuan! jangan." Pinta Aida sambil menangis.
Namun, Ben yang berhasil mencium paksa bibir ranum Aida untuk ketiga kalinya. Ben juga mengunci kedua tangan Aida ke atas kepalanya lagi dengan satu tangannya.
Kenapa jadi begini, apa kesalahanku sangat besar sampai aku diperlakukan sejauh ini. batin Aida
Ciuman Ben semakin menuntut meski Aida tak membalasnya. Perlahan bibir Ben turun menelusuri leher jenjang Aida yang mengulum bibir sambil menangis agar suara desahnya tak keluar.
" Tu... Tuan! Tolong hentikan." Tangis Aida memohon lagi dan lagi tapi Ben tak memperdulikannya.
Tanpa Aida sadari Ben sudah berhasil membuka seluruh kancing kemejanya. Ben menatap lekat kedua bola mata gadis yang menangis di bawah kungkungannya,
" Aku belum memulai apapun." Ben diselimuti kabut gairah.
Cengkraman tangan Ben melonggar, membuat kedua tangan Aida bisa terlepas dan segera mendorong tubuh Ben untuk menjauh darinya. Ben jatuh terduduk di lantai.
" Beraninya kau." Ben marah.
Aida berusaha kabur tapi sayangnya pintu kamar Ben sudah terkunci otomatis, Aida yang sama sekali tak tahu bagaimana cara membuka pintunya hanya bisa menyerah teruduk di lantai.
Ben menyeringai, " Jangan pernah kau berpikir bisa lari dariku."
Sekali lagi Ben menarik paksa tangan Aida dan menghempas tubuhnya ke atas ranjang.
" Awhhh!." Aida meringis mendapat perlakuan kasar dari Ben.
__ADS_1
Tak main-main dengan tindakannya Ben menanggalkan paksa seluruh pakaian yang di kenakan Aida tak peduli gadis itu menangis dan berteriak memohon, Ben melemparkannya pakaian Aida ke sembarang arah sampai terjatuh ke lantai. Tenaga seorang pria yang jauh lebih besar dari tenaga wanita membuat Aida tak berdaya. Ben telah kehilangan kendali pada dirinya sehingga perbuatan di luar batas yang tak seharusnya dia lakukankan justru terjadi.