
Aida merasakan sesak di dada, entahlah seperti merasakan telah terjadi sesuatu yang berkaitan dengannya.
" Tuan muda." lirihnya.
Perasaan yang melekat di hati Aida tidak lagi ada untuk Jay, semua sudah tergantikan oleh Ben.
Entah sejak kapan Aida justru lebih memikirkan tentang Ben meski pria itu sudah menghancurkannya.
.
Ben menendang satu persatu bebatuan kecil mengarah ke danau.
" Arghhh... kenapa harus Jay."
Bagi Ben sahabatnya itu memiliki peranan penting dalam hidup dia dan sekarang apakah persahabatan mereka masih bisa dipertahankan.
" Ben." panggil seseorang dari arah belakang.
" Kau datang?."
" Aku harus datang untukmu." Bisma menepuk bahu Ben.
Ben mencurahkan isi hatinya mengalir bagai air pada Bisma yang sangat dia percaya, mereka duduk di tepi danau.
" Aku ada di antara persaudaraan, cinta dan persahabatan. Mana yang harus aku pilih?."
" Cinta bisa mempersatukan semuanya." terang Bisma, pria yang sangat berpengalaman dengan urusan yang berkaitan dengan sebuah hubungan.
" Apa ini yang namanya buah simalakama?."
" Kamu berhak memilih, meski akan ada yang terluka, satu hal baik itu persaudaraan dan persahabatan sejati tidak akan pernah putus. Tapi, untuk cinta kesempatan tidak selalu datang dua kali."
Bisma tidak bermaksud memihak Ben, dia juga tidak tega dengan Bobi dan Jay.
Tapi ada alasan yang kuat kenapa Bisma memilih untuk mendukung Ben. Karena gadis yang Ben cintai berhak menerima pertanggungjawaban atas perbuatan sahabatnya.
" Kamu sudah mengikatkan benang merah padanya."
Bisma tahu kalau Ben sudah menyukai Aida sebelum kejadian malam itu karena tuan muda yang menceritakannya sendiri.
" Aku akan menemui dia sebentar lagi."
" Dimana? Kamu sudah menemukan keberadaannya?."
" Hmmm... ."
Ben tidak memberikan jawaban dan Bisma mengerti itu mungkin bukan bagiannya untuk tahu.
" Aku yakin Bobi dan Jay bisa mengerti dirimu, mereka hanya butuh waktu."
Sekali lagi Bisma mencoba menenangkan kegundahan hati Ben, meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.
" Aku tidak terlalu yakin."
Ben seolah kehilangan kepercayaan dirinya, karena masalah pribadi jauh lebih rumit dari masalah pekerjaan.
" Keputusan ada di tanganmu, kamu berhak memilih. Percayalah dengan kata hatimu."
Bisma benar setiap orang harus mengikuti kata hati mereka yang tidak pernah salah.
Ben bangkit dari duduknya, dia merasa sudah cukup bicara dengan Bisma yang juga ikut berdiri.
" Aku pulang."
Ben berbalik badan dan pergi menuju ke mobilnya.
" Ben, berusahalah untuk cintamu." Bisma setengah berteriak dari jarak yang cukup jauh melihat Ben hampir sampai ke mobilnya.
__ADS_1
" Apa kamu juga merasakannya, Aida." Ben memegangi jantungnya yang berdetak.
Ben mengemudikan mobil miliknya keluar dari area danau kembali ke jalan raya, sudah waktunya dia pulang ke rumah utama.
" Tuan muda, aku menunggumu."
Bayangan Aida muncul duduk di kursi sebelah Ben dan menghilang setelahnya, membuat Ben menghentikan laju mobil.
" Aida, apa itu tadi bayangannya."
Ben menyentuh kursi kosong di sebelahnya, berharap bayangan Aida muncul lagi. Tapi tidak ada yang terjadi.
" Secepatnya aku akan datang padamu."
Ben kembali melajukan mobilnya, banyak yang harus dia persiapkan sebelum keberangkatannya menemui Aida.
...----------------...
Jay, dokter Sean dan Yun masih berada di ruangan dokter.
" Jay, kau sudah ambil keputusan?." Yun ingin tahu apa sahabatnya bisa menerima yang diinginkan tuan muda.
" Aku bisa apa? Ben menginginkannya lebih dariku."
Jay bukan mengalah tapi dia tahu perjuangan Ben tidak akan mudah. Aida juga tidak mungkin begitu saja memberikan kesempatan pikirnya.
" Kau mau bersaing dengan tuan muda?." dokter Sean Cemas.
" Aku berhak untuk bertemu dengan Aida meski tidak bisa memilikinya dan Ben melarang ku."
" Jay, kau mau membuat semuanya jadi rumit?." Yun tidak habis pikir.
" Bukan aku sumber semua kerumitan ini." Jay mengelak, tentu saja bukan dia yang bersalah tapi harus terlibat di dalamnya.
" Kau mau menyalahkan Ben?." Yun berdiri dari duduknya.
" Kenapa kalian jadi ribut, duduk lagi." dokter Sean menyikapi dengan santai.
Yun dan Jay kembali duduk di tempatnya.
" Dalam persoalan cinta itu tidak ada benar dan salah, mana bisa mengatur hati untuk suka dan jatuh cinta pada siapa, kecuali benci."
" Dokter Sean kau sendiri tidak punya pengalaman soal cinta, bagaimana bisa mengatakan hal seperti itu." Yun menarik sudut bibirnya.
" Aku memang tidak punya pengalaman, tapi aku tahu banyak pengalaman orang-orang sampai aku membaca buku yang berkaitan dengan perasaan cinta."
Dokter Sean terkadang menerima curahan hati tentang cinta dari saudara atau temannya bahkan pasiennya sendiri. Jadi meski pengalamannya sendiri nol dia tidak awam dengan persoalan cinta.
Jay mencerna apa yang dokter Sean katakan, menurutnya benar perasaan mana bisa menentukan tapi bisa di kendalikan. Sebelum terlampau jauh Jay harus bisa menata hatinya melepaskan perasaan cinta untuk Aida. Merelakan Aida menjadi milik tuan muda.
" Hahhh~ Boleh aku bernapas lega sekarang." Yun sudah terlalu lama menahan napasnya yang terasa berat.
" Memangnya dari tadi kau tidak bernapas, dasar bodoh." dokter Sean kesal sendiri.
" Diam kau atau aku kirim ke Afrika."
" Apa tidak ada ancaman lain? aku sudah tidak peduli sejak tadi ada Ben disini." dokter Sean menyadarkan tubuhnya, untung saja hari ini tidak ada lagi pasien yang harus mendapatkan tindakan medis darinya.
Jay berdiri dari duduknya sudah tidak ada lagi yang ingin dia bicarakan dengan kedua sahabatnya.
" Kau mau kemana?." tanya Yun.
" Pulang."
" Kalau begitu aku juga pulang." Yun ikut berdiri.
" Hei, kenapa kalian mau pulang? Disini saja temani aku." dokter Sean masih ingin di temani.
__ADS_1
" Tidak." jawab Jay dan Yun bersamaan.
" Ka.. kalian berdua kompak sekali. Bagaimana kalau kita pindah nongkrong ke kafe saja?." Tawar dokter Sean.
" Ayo jalan." Jay setuju.
" Kau Yun?."
" Terserah."
Dokter Sean melepaskan jas dokternya, karena jam kerjanya juga sudah selesai.
Ketiga pria itu keluar dari ruangan, setiap orang yang berpapasan dengan mereka begitu kagum melihatnya berjalan tegap dengan wajah tampan yang mendekati sempurna.
Seorang ibu hamil bahkan mengelus perutnya berdoa pada sang Maha Kuasa berharap kelak bayinya terlahir dengan wajah yang tampan jika dia seorang laki-laki.
" Hentikan tingkahmu, kau itu dokter." Yun kesal dengan perilaku dokter Sean bak artis yang berjalan melewati para pengemar.
" Ini kesempatan langka." alasan dokter Sean.
" Memalukan, tinggalkan saja dia." usul Jay.
" Setuju." Yun sepakat.
" Kalian tidak seru." dokter Sean berdecak kesal.
Mereka sampai di parkiran mobil bersamaan dengan Bisma yang bau saja keluar dari mobilnya.
" Kalian bertiga mau pergi?." tanya Bisma menghampiri ketiga sahabatnya.
" Kami mau ke kafe." jawab dokter Sean.
" Ada apa kamu kemari?."
Jay menduga kedatangan Bisma ada hubungannya dengan Ben, mereka pasti sudah bertemu sebelumnya.
" Santai saja, Jay. Aku hanya ingin bertemu kalian. Yun yang mengatakan padaku kalian ada disini."
Yun mengangkat bahu membuka lebar telapak tangannya mendapatkan tatapan intimidasi dari Jay dan dokter Sean.
" Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kita bertiga memang ada di rumah sakit."
" Aku datang kesini tidak ada maksud apapun, karena aku tidak punya urusan."
" Aku tahu sebelum kesini kamu pasti sudah bertemu dengan tuan muda lebih dulu, dan Yun pasti yang memberitahu kamu semuanya." Jay menarik sudut bibirnya.
" Yun, kau itu seperti mata-mata." dokter Sean menyipitkan matanya menatap Yun.
" Karena hanya Bisma yang bisa diandalkan untuk mengendalikan tuan muda jika sedang dipenuhi amarah."
" Tuan muda bagaimana sekarang?."
Jay ingin tahu keadaan Ben, karena dia sejujurnya sangat peduli dengan tuan muda meski saat ini mereka sedang berseteru.
" Tadi dari danau tuan muda langsung pulang ke rumah. Kau tenang saja dia sudah jauh lebih baik."
Bisma mengingat pesan Ben padanya untuk tidak membocorkan jika Ben sudah tahu dimana keberadaan Aida.
" Syukurlah." Jay bernapas lega.
" Apa kalian bertiga mau ke suatu tempat?." tanya Bisma.
" Kami mau ke kafe." jawab Yun.
" Kalau begitu aku ikut tapi hanya sebentar saja." Bisma ingin bergabung dengan mereka.
" Tidak masalah, Ayo jalan." Jay tidak ambil pusing, mungkin berkumpul dengan semua sahabatnya bisa menenangkan hati dan pikiran dia yang sedang berkecamuk.
__ADS_1
Mereka berempat masuk ke mobil masing-masing dan pergi dari area parkir rumah sakit satu persatu.