
Tengah Malam Aida masih harus terjaga untuk memastikan truk-truk yang membawa semua barang dari pasar dan rumah yang akan di bawah pindah tidak ada yang tertinggal.
" Pak Agus! Kang Ujang! Apa semua barang sudah masuk ke dalam truk?."
" Sudah semua Neng, tinggal berangkat." Jawab Pak Agus.
Aida bernapas lega, " Kang Ujang mau pindah sekarang?." Tanya Aida lagi.
" Iya, Neng. Saya dan istri akan atur dan tata semua barang ini di rumah keluarga neng Aida disana, mungkin nanti minta bantuan beberapa orang." Jawab Kang Ujang.
" Benar itu Neng!." Timpal Imas istri Kang Ujang.
" Saya titip ya Teh Imas, Kang Ujang dan Pak Agus. Kalau Nenek dan Kakek besok sudah bisa keluar rumah sakit. Kita secepatnya akan menyusul." Terang Aida.
" Neng Aida tenang saja, kami yang akan urus semuanya disana." Timpal Pak Agus.
" Terima kasih banyak." Kata Aida.
Hanya toko yang seluruh isinya di kosongkan sementara rumah hanya pakaian, barang-barang dan surat-surat penting saja yang di bawa pindah. Kursi, meja, tempat tidur, lemari dan perabot rumah besar lainnya di tinggalkan sebab semua itu sudah ada di tempat tinggal yang baru lebih tepatnya rumah lama keluarga Aida.
" Pak Agus, bisa kita bicara sebentar?." Tanya Aida.
" Iya, Neng." Jawab Pak Agus.
Aida mengajak Pak Agus bicara, mereka duduk di kursi teras depan rumah.
" Pak! Ini ada gaji sekaligus uang pesangon. Tolong di terima." Aida menyerahkan dua amplop coklat berisi coklat.
Selain gaji Aida memberikan uang pesangon sebanyak tiga kali gaji. Tujuan Aida untuk bisa menanggung kebutuhan keluarga pegawainya sebelum dapat pekerjaan lagi.
" Ya ampun, Neng. Apa ini gak kebanyakan?" Tanya Pak Agus melihat isi di dalam amplop.
Aida tersenyum, " Semoga uang itu cukup untuk kebutuhan keluarga Bapak dan Pak Agus bisa cepat dapat kerja lagi di tempat lain."
" Terima kasih ya Neng Aida." Ucap Pak Agus penuh rasa syukur.
.
Kang Ujang, istrinya dan Pak Agus sudah naik truk, mereka siap untuk berangkat. Satu persatu mobil barang pergi dari rumah keluarga Aida mecairkan kesunyian jalanan Ibukota di malam hari.
" Aku gak pernah menyangka akan datang hari ini." Ucap Aida merasa sedih harus terusir dari rumah yang sejak kecil dia tinggali bersama kakek dan neneknya.
Tak terhitung berapa banyak kenangan yang ada membuat Aida menitikan air matanya.
" Aku harus kembali ke rumah sakit." Aida naik taksi online yang sudah di pesannya.
.
Aida duduk di kursi tunggu pasien sebelum masuk ke ruang rawat inap keluarganya.
" Besok aku harus menemuinya." Kata Aida.
Aida kelelahan dan mengantuk tertidur di kursi tunggu. Dokter Sean dan suster yang baru saja keluar dari ruang rawat inap pasien lain datang menghapiri Aida.
" Suster! Tolong bawakan selimut untuknya." Perintah Dokter Sean.
" Baik! Dok." Kata Suster Dewi.
.
" Maaf! Aku memotretmu." Tanpa izin Dokter Sean mengambil gambar wajah Aida, dia bermaksud menunjukkannya pada Jay.
__ADS_1
Aida tidur dengan nyenyak sama sekali tidak terusik dengan keberadaan Dokter Sean.
" Dokter! Ini selimutnya." Suster Dewi memverika selimut.
" Kamu kembali saja ke ruang jaga." Perintah Dokter Sean.
" Baik! Dok." Jawab Suster menunduk sopan.
Dokter Sean menyelimuti Aida dengan hati-hati supaya tidak membangunkannya.
Entah kenapa aku kasihan melihatnya, dia pasti sangat lelah mengurus kakek dan neneknya seorang diri. batin Sean
" Jangan! Aku mohon, lepaskan." Aida mengigau.
" Dia kenapa." Gumam Dokter Sean.
" Tuan B! Jangan." Aida terus mengigau berulang kali menyebut nama itu.
" Aku jaga saja dia." Kata Dokter Sean.
Dokter Sean tidak tega membangunkan Aida, dia hanya menemaninya sampai gadis yang di kenalnya tidak lagi mengigau dan kembali tertidur.
" Pria mana pun pasti akan menyukai gadis seperti dia, tapi sayangnya Jay lebih dulu menemukan Aida." Dokter Sean tersenyum.
Sean membuang pikirannya untuk menyukai Aida lebih jauh, dia sadar dalam kamus persahabatan tidak ada yang namanya menyukai gadis yang sama karena bisa memecah belah.
.
Matahari sudah terbih menandakan malah hari sudah berganti pagi. Aida mengerjapkan mata terbangun dari tidurnya mendengar suara orang-orang yang lalu lalang di rumah sakit.
" Ah, aku ketiduran disini." Aida mengucek mata. " Eh, ini siapa yang kasih selimut." Lanjutnya bertanya-tanya.
" Pa... pagi Suster, maaf saya ketiduran disini." Kata Aida gugup.
" Tidak apa-apa, semalam saja Dokter Sean menemanimu disini bahkan meminta Saya membawakan selimut untuk Nona Aida." Ungkap Suster.
" Benarkah? Aku jadi tidak enak." Kata Aida.
" Nona tidak perlu sungkan, Dokter memang selalu baik pada siapa saja." Terang Suster.
" Oh! Begitu, terima kasih ya Suster, sampaikan juga terima kasihku untuk Dokter Sean." Ujar Aida.
" Baik! Akan Saya sampaikan, kalau begitu sekarang Saya permisi dulu." Suster Dewi menunduk Sopan undur diri dari hadapan Aida.
" Iya, Suster." Kata Aida.
.
Aida masuk ke kamar rawat inap kakek dan neneknya untuk memastika kondisi mereka dan ingin membersihkan diri.
" Aida! Kamu dari mana?." Tanya Nenek Miranti melihat cucunya berantakan layaknya orang bangun tidur.
" Maaf! Nek. Aku ketiduran di kursi tunggu." Jawab Aida tersenyum.
" Ya, sudah kamu mandi dulu sana." Perintah Nenek Miranti.
" Siap! Ibu Ratuku." Kata Aida melakukan kebiasaannya lagi.
Syukurlah cucuku bisa kembali tegar meski dia pasti berat menerima semuanya. batin Kakek Rianto
Sebelum masuk ke kamar mandi Aida melirik ke arah kakek dan neneknya.
__ADS_1
Demi kalian, aku harus bangkit dan bisa menerima semuanya. batin Aida
Sudut mata Aida berair, dia segera mengahapusnya.
.
Dokter Sean dan suster Dewi datang kembali ke ruang rawat inap kedua pasien lansianya untuk pemeriksaan terakhir.
" Selamat pagi! Kek, Nek. Saya datang untuk periksa kondisi kalian lagi sebelum pulang." Sapa Dokter Sean menjabarkan maksud kedatangannya.
" Silahkan! Dok." Jawab Nenek Miranti. Kakek Rianto hanya tersenyum ramah.
" Suster tolong cek tekanan darah Nenek." Perintah Dokter Sean.
" Baik, Dok!." Kata Suster Dewi.
" Kek! Berbaring ya, Saya periksa dulu." Ucap Dokter Sean. Kakek Rianto menurut.
Kakek Rianto dan Nenek Miranti sudah selesai di periksa, datang suster lain yang membawakan sarapan.
" Permisi! Maaf menganggu sebentar, Saya bawakan sarapam pagi." Ucap Seorang Suster.
Suster meletakkan nampan dengan dua mangkuk bubur di atas nakas, kemudia dia undur diri dari ruang rawat inap.
.
Aida keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya. Dia belum menyadari jika ada orang lain selain keluarganya.
" Kamu terlihat lebih segar sesudah mandi, Ai." Ucap Nenek Miranti Spontan.
" Aku lupa mandi dari kemarin... ." Ucap Aida terpoting, dirinya baru menyadari keberadaan Dokter Sean dan Suster Dewi.
Kakek Rianto dan Nenek Miranti terkekeh, tidak bisa menyembunyikan tawa mereka melihat tingkah cucunya yang merasa malu. Dokter Sean dan Suster mengulum bibir menahan untuk tertawa.
" Hai, Dok, Sus. Selamat pagi." Kata Aida gugup. Suster Dewi hanya mengangguk.
" Pagi." Kata Dokter Sean tersenyum.
" Apa hari ini Kakek dan Nenekku sudah oleh pulang, Dok?." Tanya Aida memastikan.
" Boleh! Saya sudah resepkan obat." Jawab Dokter Sean.
Suster Dewi menyerahkan dua lembar kertas bertuliskan resep obat yang harus di tebus oleh Aida di apotik.
" Terima kasih, Dok, Sus."
Karena tak ada lagi kepentingan Dokter Sean dan Suster Dewi undur diri dari ruang rawat inap keluarga Aida.
Aida bernapas lega, " Akhirnya mereka pergi juga, aku sangat malu." Ketahuan kalau kemarin Aida belum mandi sama sekali.
" Kamu ini memang mereka gak kelihatan." Ucap Kakek Rianto.
" Tadi Aida belum melihat dengan jelas." Aida tergelak, Nenek Miranti dan Kakek Rianto terkekeh lagi.
" Pagi-pagi sudah dapat hiburan." Kata Nenek Miranti.
" Sudah! Kalian sekarang makan dulu sarapannya." Aida mengambil nampan di atas nakas, menyerahkan mangkuk berisi bubur pada Kakek dan Neneknya.
Aida tersenyum melihat kedua orang yang sangat dia sayangi makan dengan lahap sampai bubur dalam mangkuk tandas tak bersisa.
Dirinya bersyukur karena masih di beri kesempatan bisa menjalani hidup bersama Kakek dan Neneknya, karena hanya mereka keluarga yang Aida miliki.
__ADS_1